Selasa, Agustus 24, 2010

Untuk Kawanku

Oleh: Fariha Ilyas



Untukmu yang gelisah di setiap malam-malam tanpa kawan, untukmu yang selalu dalam pencarian. Kawan, kuhentikan langkahku sejenak, demi melihatmu yang duduk kelelahan di padang gersang yang seakan tak bertepi. Kulihat cahaya kilat di kedua bola matamu.

Kawan, jika aku kembali melangkah dan meninggalkanmu di tempat tak bertuan ini, aku berharap kau akan merasakan kedamaian dalam hatimu, kedamaian yang selalu kau impikan, kau kejar, dan kembali kau pertanyakan. Yakinlah bahwa suatu ketika kau dan aku akan dipertemukan kembali di tempat yang sama, di waktu yang sama. Namun aku tak tahu saat itu masihkah aku mampu berdiri di hadapanmu seperti saat ini? Mungkin saja iya, tapi mungkin juga aku yang duduk kelelahan.

Bayang-bayangmu rasanya seperti hantu bagiku. Ia selalu membuatku takut pada pertemuan. Pertemuan itu menyisakan begitu banyak pertanyaan di benakku, yang selalu kucari jawabannya hingga hari ini. Aku pun mengerti bahwa di saat yang sama kau pun mencari jawaban dari pertanyaanmu sendiri. Dan sungguh, kadangkala pertanyaanmu menjadi jawaban bagiku, pertanyaanku menjadi jawaban bagimu, jawabanmu adalah pertanyaan bagiku dan jawabanku adalah pertanyaan bagimu. Setelah kau dan aku saling memahami hal itu, apakah akan kita lanjutkan perjalanan ini?

Kenapa kita ada di sini? Kenapa kita dipertemukan? Apakah tanyaku ini menjadi jawaban bagimu? Atau justru akan menjadi alasanmu untuk selalu diam?. Kawanku yang tak kumengerti, jika saja dalam pencarianmu kau tak menemukan apapun, teruslah mencari dan katakan pada dirimu sendiri bahwa kau memang sedang mencari sesuatu yang tak ada. Agar pencarianmu menjadi abadi.

Saat kau bosan pada jalan yang tak berujung atau tak pernah menemukan arah, berjalanlah saja, ke depan, ke belakang, atau ke mana saja. Karena tujuanmu adalah sebuah tempat yang terletak di mana saja kau berada.

Atau, diamlah! agar pencaianmu abadi, karena tujuanmu adalah tempat di mana saja kau berada.

Akhirnya, kau pun bangkit dari letih yang melumpuhkanmu. Kau berdiri tegak di sampingku, tanpa berucap sepatah kata pun kau mulai berjalan. Aku masih diam. Ada sesuatu yang kau tak tahu, bahwa akulah yang akan menjadi hantu, yang membuatmu takut pada pertemuan. Itulah siksaan yang sebenarnya. Untuk itulah aku pun berkata pada diriku sendiri, bahwa aku mencari sesuatu yang tak ada, agar pencarianku menjadi abadi. Karena aku pun takut kepada pertemuan.

Terimakasih untuk guru-guru spiritual yang mengajarkan banyak hal kepada manusia: Muhammad, Yesus, Sidharta Gautama, Socrates, Konfusius, Fuerbach, Nietzsche, Iqbal.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis apa yang anda pikirkan terkait tulisan-tulisan saya