Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, Desember 15, 2014

Khotbah Wayne Mies di Masjid para Imigran

Saudara-saudaraku sekalian..

Jum’at ini kita lagi-lagi berkumpul untuk sembahyang bersama, seperti jum’at-jum’at yang lalu. Saya sebenarnya agak merasa bimbang beberapa hari ini, apa yang harus saya sampaikan untuk diri saya sendiri yang bodoh ini. Saya bisa mangkir, dan memilih untuk menenggelamkan diri di perpustakaan, atau hiking sekadar untuk merasakan kebesaran alam, dan tak perlu lagi saya ucap apa-apa kepada diri saya ini.

Namun, saya pada akhirnya mesti harus tetap menjalankan tugas rutin ini, yang saya tidak tahu apakah saudara-saudara sekalian merasa bosan dengan saya atau tidak. Hari ini, terlalu banyak jalan bagi kita untuk bisa belajar dan mengetahui, menghimpun sebanyak mungkin jawaban bagi rasa ingin tahu kita pada apapun. Termasuk rasa ingin tahu kita kepada Tuhan, dzat yang kita sembah setiap hari, yang membuat kita semua yang berada di sini merasa memiliki sebuah ikatan, sebuah kesamaan.

Saudara-saudaraku yang saya hormati..

Di masjid kita ini seminggu sekali kita berkumpul di sela-sela kesibukan kerja kita, di antara upaya kita memperjuangkan kelangsungan hidup kita ditempat yang jauh dari tanah di mana kita dilahirkan. Sungguh, bagi saya pertemuan dengan saudara-saudara yang berasal dari segala penjuru dunia ini merupakan suatu rahmat yang sangat saya syukuri. Namun demikian, saya merasa ada sesuatu yang mengganjal di benak saya selama bertugas di sini. Apakah kita memiliki tuhan yang sama? Apakah kita menyembah tuhan yang sama?
Saudara-saudara mungkin agak terkejut setelah berada di masjid ini saya justru melontarkan pertanyaan seperti itu? Seolah saya menganggap diri saya dan saudara-saudara sekalian berada di sini dengan suatu alasan yang meragukan. Bukan, bukan seperti itu yang saya maksud.

Saya memimpikan sebuah dialog dengan saudara-saudara sekalian. Dialog yang akan membuka pikiran saya sendiri yang masih banyak berselimut kebodohan dan ketidaktahuan tentang tuhan. Setiap hari beberapa diantara kita yang berjamaah di masjid ini sering berbasa-basi satu-sama lain. Membicarakan pekerjaan, keluarga, rindu kampung halaman dan masa depan. Saya juga seorang imigran, sama dengan saudara-saudara semua, saya tamu di tempat ini. Lalu apa yang membuat kita merasa begitu dekat? Setiap malam saya memikirkan hal ini.

Saya terdorong rasa ingin tahu yang besar untuk menguak pikiran-pikiran kita yang berlapis-lapis. Mungkin ini sebuah kelancangan saya, saya minta maaf jika dianggap demikian. Saya kira dorongan-dorongan semacam itu akan baik jika dengannya saya memahami isi pikiran orang yang menjadi rekan saya berbicara. Selama ini saya merasa bersalah jika menyampaikan khotbah-khotbah yang saya susun berdasarkan pengetahuan saya yang didukung oleh buku-buku yang saya baca. Saya mengajak, menggiring saudara-saudara pada apa yang saya ketahui dan pahami. Saya tidak mengetahui apa yang saudara ketahui dan pahami.

Pikiran saya berontak pada semua ini, hati saya pun merasa tak nyaman. Saya berkeyakinan bahwa saudara-saudara sekalian memiliki pengalaman, keunikan, yang lahir dari perbedaan tempat, budaya, situasi, yang mengitari awal mula hidup kita, mengiringi pertumbuhan kita. Semua itu saya kira sangat memengaruhi diri kita, apa yang terpikir, dan apa yang dirasakan. Untuk itulah tadi saya bertanya-tanya, apakah kita menyembah tuhan yang sama?

Dulu di kampung saya, saat saya masih kecil, saya memahami tuhan saya yang menciptakan ayah ibu saya, laki-laki dan perempuan kaukasoid yang bertulang besar, berambut pirang dan bermata biru. Tuhan saya lah yang menciptakan salju dan dingin yang membekukan saya saat musim dingin tiba. Ia mencipta pohon poplar, dandelion, bunga matahari yang indah warnanya itu. Ketika saya mengenal buku bacaan di sekolahan saya terpukau dengan pelajaran geografi, biologi, antropologi, sejarah, seni, yang membuat saya melihat hal-hal yang tidak saya temui dalam kehidupan saya secara langsung. Saya merasa bahwa pohon itu, yang gambarnya tertera di buku itu bukanlah pohon yang diciptakan tuhan saya, demikian pula dengan bunga-bunga dan binatang itu. Yang paling jauh adalah, saya merasa orang-orang luar negeri yang gambarnya bisa saya lihat di buku itu bukan ciptaan tuhan saya. Saya terkungkung dalam pemahaman semacam itu.

Hari ini, setelah beberapa tahun saya hidup bersama saudara-saudara di sini, setelah banyak waktu kita saling bicara, saya belajar dan mulai berubah. Misalnya saya bertemu dengan saudara saya Mas’oud dari Maroko itu. Saya belajar mengerti banyak, saya mendefinisikan ulang diri saya bertolak dari pemahaman dan perjumpaan-perjumpaan baru. Memang itu hal sepele, hal biasa yang dialami setiap penjelajah dunia. Tapi bukankah selama ini kita terbentuk dari hal-hal yang sepele itu? Sedari kecil saya makan bubur gandum, kentang, kacang, sementara saudara Fadli dari Malaysia kenyang dengan bubur nasi. Bukankah itu sepele belaka? Lalu kita tumbuh besar dari itu semua hingga saat ini. Saya rasa saudara-saudara sekalian juga mengalami apa yang saya rasakan dan pikirkan itu.

Saudara-saudaraku yang saya cintai..

Saya kira, persoalan perubahan keyakinan pada tuhan itu bukan hanya wilayah debat para teolog, menjadi sesuatu yang mesti dilegitimasi dengan setumpuk argumentasi teologis yang dipelajari di sekolah-sekolah. Saya rasa persoalan semacam itu adalah persoalan diri kita dan upaya mengkristalisasi pengalaman hidup kita. Kita mesti menyadari dan menghayati dari mana kita berangkat dan bagaimana kita bermula memahami apa dan siapa itu tuhan. Kita sering melupakan hal itu, dan justru setelah kita dewasa dan bisa mempelajari banyak hal dengan membaca buku dan mendengar ceramah agama, kita tanpa sadar dengan sukarela menukar pengalaman hidup kita dengan pemahaman baru yang disusun oleh pikiran dan disarikan dari pengalaman orang lain. Kita tak percaya diri dengan pengalaman dan penghayatan hidup kita sendiri. Kita sendiri yang menghakimi pengalaman hidup kita ini tak terlampau berarti. Bukankah itu sebuah tragedi?

Kita akan selalu berbeda. Saya yakin hal itu. Tak soal, kita tak perlu takut akan kehilangan ikatan. Yang terpenting dari ini semua adalah saling mengerti perbedaan itu, mengenalinya hingga akarnya, sehingga kita menemui keutuhan pemahaman. Kita tak menuntut terlampau banyak pada orang lain sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita akan terbebas dari kekhawatiran-kekhawatiran kita soal kebenaran. Selama ini kita menyaksikan ketakutan-ketakutan itu menjangkiti umat manusia hampir di segala jaman dan di segala tempat.

Orang takut kesalahan ada pada dirinya. Ia mesti benar dengan cara membuat yang lain nampak salah. Ia enggan melihat, mendengar, memahami. Sedang untuk merefleksi diri orang tak lagi merasa sempat dan perlu. Diantara berbagai penyakit pikiran ini, marilah kita saling mengenal kembali dengan sungguh-sungguh, dengan niat dan tujuan yang jernih. Agar rasa takut di dalam diri kita ini berangsur lenyap.

Pedih perih dari luka-luka peradaban manusia ini, sebagian besar bukan diakibatkan oleh kebodohan pada mulanya. Ia disebabkan oleh ketakutan, ketakukan melihat kebenaran yang lain di luar diri kita. Bukankah kita telah mengingkari semangat kita sendiri yang setiap saat mendaku sebagai pencari kebenaran? Kita tak sungguh mencari. Kita lebih sering duduk diam, dan menghakimi.

Hari ini bayangan tentang diri kita tak lagi seperti dahulu. Kita dapat saling melihat sejak dini. Bagaimana saudara kita, sesama manusia berpikir dan berbuat di tempat hidupnya. Kita sudah melihat perbedaan. Tapi melihat saja tidak cukup, kita mesti mendorong diri kita untuk mengerti. Tak heran sekarang hidup kita juga masih diwarnai sengketa. Karena kita tidak ingin memahami. Segala yang dapat dengan mudah kita saksikan itu hanya kita biarkan menambah tumpukan asumsi-asumsi negatif. Kita makin brutal menghakimi, bahkan menghakimi diri sendiri pun kita tak lagi punya sandaran jelas.

Ada persoalan yang halus tapi pelik dalam kehidupan kita ini. Sejarah peradaban manusia ini saya anggap sebagai pembentuk siluet tuhan. Tuhan yang beribu tahun selalu mengiringi perjalanan hidup manusia tidak semakin utuh rupanya. Jika kita hanya bisa melihat siluetnya dari tingkah polah kita, sikap kita, apakah salah jika saya mengatakan bahwa tuhan itu tidak jelas? Karena ia selalu mendorong manusia untuk melakuakan hal yang berbeda-beda. Apalah kaum imperialis tak bertuhan? Apakah para penjahat tak bertuhan? Apakah para sufi dan pertapa saja yang bertuhan?

Tindak-tanduk kita, rumusan sikap kita, mencerminkan tuhan macam apa yang kita sembah. Saya percaya, kita punya hak merumuskannya secara pribadi. Karena hidup kita, pikiran, hati kita, diserahkan secara pribadi oleh tuhan kepada kita. Kita menyusuri waktu sebagai pribadi, dan akan kembali kepada tuhan sebagai pribadi.

Pribadi ini adalah alam-alam tersendiri. Seluruh alam adalah ciptaan tuhan, kata sandi tuhan yang kita terima berbeda-beda. Kita mesti belajar memahaminya ke kedalaman diri kita. Lalu dengan itu kita akan berhenti memaksa orang lain untuk mengerti.
Baca Selengkapnya... → Khotbah Wayne Mies di Masjid para Imigran

Senin, Agustus 23, 2010

Salaf dan Khalaf dalam Ta’wil Ayat-Ayat Mutasyabihat

Oleh: Fariha Ilyas



Sumber utama dalam agama adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya kebenaran, dan di dalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. Sejak zaman dahulu para ulama telah berselisih faham dalam masalah ini, yaitu dalam penafsiran makna ayat-ayat mutasyabihat dan pengalihannya ke dalam makna lain, dan hal inilah yang disebut dengan “Ta’wil”.

Untuk menghindari kesalahan dalam menta’wilkan ayat-ayat mutasyabihat tersebut akan kita bahas hal ini dalam 2 metode , yaitu metode golongan “Salaf” dan metode golongan “Khalaf”. Hal ini penting karena kesalahan dalam menta’wilkan ayat-ayat ini dapat menjerumuskan kita kepada kerusakan aqidah, terutama dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat ALLAH.

SALAF

Salaf dalam bahasa adalah : Yang telah lalu.
Pengertian Salaf adalah : segala yang ada dalam diri sahabat Rosul, tabi’in, tabi’it tabi’in, umat yang sempat mengalami masa pemerintahannya, mengikuti segala ajarannya, tanpa batasan tempat dan waktu tertentu.

SEJARAH MUNCULNYA SALAF

Di zaman sekarang ini sering kita temui istilah “Mazhab Salaf” yang tidak kita mengerti dari mana asal-usul munculnya istilah ini. Jika kita kaji kembali sejarah Islam sejak zaman Rosulullah hingga zaman shohabat, tabi’in, tabiit tabi’in, maka tidak akn kita temui istilah “Salaf” dalam rentangan masa itu. Demikian juga jika kita menelaah mazhab Islam, kita tidak akan menemukan istilah “Mazhab Salaf” melainkan kita akan mendapatkan Mazhab Hanafi yang didirikan oleh Imam Abu Hanifah dari Kufah, Mazhab Syafi’I yang didirikan oleh Imam Syafi’i di Baghdad dan mesir, Mazhab Maliki yang didirikan oleh Imam Malik di Madinah, dan Mazhab Hanbali oleh Imam Ahmad bin Hanbal di Baghdad serta mazhab-mazhab lain seperti mazhab Auza’ di Syam, mazhab Tsaur di Irak dan lain sebagainya. Semua mazhab tersebut adalah mazhab dalam furu/ syari’at dan ternyata dalam sejarah panjang mazhab-mazhab itu tidak kita temukan “Mazhab Salaf”. Jadi munculnya istilah mazhab salaf ini memang tidak dapat diketahui dengan pasti.

Diantara pokok-pokok pemikiran salaf adalah :

1. Mendahulukan Wahyu daripada akal dalam pengambilan dalil.
2. Membatasi pengambilan dalil hanya dari Al Qur’an dan Sunnah.
3. Mengembalikan makna ta’wil kepada “Ahlul Kalam” yaitu ALLAH SWT.
4. Menjaga diri dengan tetap berpegang kepada manhaj/ jalan para sahabat.


KHALAF

Khalaf dalam bahasa adalah : Masa yang datang sesudah
Khalaf diartikan sebagai jalan para ulama’ modern, walaupun tidak dapat dikatakan bahwa semua ulama’ modern mengikuti jalan ini.

SEJARAH KEMUNCULAN KHALAF

Sebab-sebab munculnya Mazhab Khalaf adalah perbedaan faham diantara kelompok Ahlussunnah dan Mu’tazilah dalam menta’wilkan ayat-ayat mutasyabihat dan juga perbedaan mereka dalam pengambilan dalil-dalil. Kelompok Ahlussnnah mengedepankan dalil naqli/ nash-nash Al-Qur’an daripada akal, sedangkan kelompok Mu’tazilah berpendapat sebaliknya , yaitu mengedepankan akal daripada nash-nash Al-Qur’an.

Dalam hal ini Hasan Asy’ari, yang merupakan salah satu ulama’ Ahlussunnah mempergunakan metode “ Ilmu Kalam” untuk melindungi kelompok Ahlussunnah dari serangan faham Mu’tazilah. Segala bantahan Imam Asy’ari dan para pengikutnya ini disebut ´”asy’ariyyah”. Mereka berpendapat bahwa ilmu kalam adalah syari’at yang sesuai dengan Al-Qur’an. Mereka berkeyakinan bahwa ilmu kalam merupakan alat / perantara yang dapat memenangkan argument kelompok Ahlussunnah dari serangan faham Mu’tazilah. Pada akhirnya golongan “asy’ariyyah” ini menamakan kelompok mereka dengan “Khalaf”. Diantara ulama-ulama Khalaf yang termashur adalah Hasan Asy’ari, Abdul Qodir Al-Baghdadi, Abu Ma’aali Juwaini dan Fakhruddin Ar-Razi.

Pokok-pokok pemikiran Khalaf :
1. Pengalihan makna dalam ayat-ayat mutasyabihat
2. Menerima kebenaran Ilmu Kalam
3. Keyakinan bahwa kaidah agama islam didirikan dengan dasar-dasar rasio.


AYAT MUTASTABIHAT

Ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang tidak dimungkinkan untuk diberi makna secara dzohir. Karena di dalamnya terdapat susunan-susunan huruf, atau majas-majas yang tidak dapat dimengerti kecuali oleh Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya seperti rasul, para sahabat, tabiin, tabiittabiin dan para ahli tafsir.

Ada 2 jenis Ayat Mutasyabihat.
1. Ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah.
2. Ayat-ayat yang tidak berkaitan dengan sifat-sifat Allah seperti susunan hurus-huruf di awal surat Al-Qur’an.

Yang berhak melakukan Ta’wil :
1. Al-Qur’an : Karena ayat-ayat di dalamnya saling menjelaskan satu sama lain.
2. Nabi Muhammad SAW : Karena Nabi diutus untuk menyampaikan risalah agama dan memberi penjelasan tentak makna Al-Qur’an.
3. Sahabat : Karena para sahabat hidup di zam,an nabi, mereka mengetahui sebab-sebab turunnya ayat. Selain itu mereka menguasai kaidah bahasa arab.
4. Tabiin : Karena mereka mengikuti para sahabat dalam aqidah dan keilmuan.

TA’WIL

Takwil berarti Tarji’ atau merujuk.
Dapat dijelaskan bahwa ta’wil adalah kembali kepada isi dan “diri” teks (dalam hal ini ayat Al-Qur’an) agar diperoleh makna hakiki dari maksud teks tersebut.

Kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an duturunkan dengan bahasa arab di dalamnya terdapat makna dzihir dan majas-majas, penjelasan baik dzohir maupun simbolik. Makna-makna di dalamnya dapat dimengerti dengan menggunakan tafsir, ta’wil dan penjelasan. Hal inilah yang menjadi tujuan kita dalam ta’wil, yaitu untuk menyingkap maksud dari ayat-ayat mutasyabiahat agar kita dapat memahami dengan sebaik-baiknya isi dari Al-Qur’an baik yang berupa ayat-ayat muhkamat maupun mutasyabihat.

Mengapa penggalian makana Al-Qur’an begitu penting? Seperti telah kita ketahui bersama bahwa Al-Qur’an adalah sumber kebenaran dan sumber hukum dalam Islam. Maka, ia harus jelas, dimengerti dengan baik untuk mempermudah pengambilan hukum dan iamn kita menjadi tetap karenanya.

PANDANGAN SALAF DAN KHALAF TERHADAP TA’WIL

Para ulama telah lama membahas masalah ta’wil ini, demikian pula dengan golongan Salaf dan Khalaf. Para Ulama Salaf dan Khalaf sepakat dalam wajibnya ta’wil pada ayat-ayat mutasyabihat. Dan perlu diketahui baik salaf maupaun Khalaf tidak menafsirkan ayat pada makna dzohirnya. Mereka juga sepakat bahwa ditiadakannya ta’wil pada ayat-ayat mutasyabihat akan merusah aqidah ketuhanan.
Golongan Salaf dan Khalaf sepakat bahwa tidak lazim bagi Allah menurunkan wahyu yang tidak bermakna dan juga tidak boleh seorang rosul serta umat islam seluruhnya jika tidak mengetahui makna wahyu tersebut. Mereka berkesimpulan bahwa ayat-ayat mutasyabihat mempunyai makna yang dapat dipahami seperti layaknya ayat-ayat muhkamat.

Dalam Ta’wil Golongan Salaf melepaskan diri dari pemaknaan dan menyerahkan makna pada Allah semata-mata dengan keyakinan bahwa tiada suatu dzatpun yang menyerupaiNYa. Demikian pula keyakinan Golongan Khalaf bahwa Tuhan tidak menyerupai dan disepuapi oleh seluruh makhluk. Namun demikian Golongan Khalaf memberi makna pada ayat mutasyabihat dengan makna yang sesuai dan dapat dipahami akal pikiran. Metode ta’wil golongan Salaf disebut Ta’wil Ijmal, sedangkan metode golongan Khalaf disebut Ta’wil Tafsiliy.

Metode Salaf lebih “selamat” dari kesalahan karena mereka tidak menentukan/ menggeser makna hakiki dari ayat melainkan menyerahkan sepenuhnya pada Allah SWT. Namun metode Khalaf lebih kuat jika dikaitkan dengan kekuatan pengambilan suatu hukum berdasarkan ayat Al-Qur’an.



DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hamid Hakim. Al Bayaan fii ‘ilmi Usuulil Fiqh (jilid 2). Darussalam : Ponorogo.
Ala’ Bakar. Studi Dasar-Dasar Manhaj Salaf. 2002. Pustaka Barokah: Jakarta.
M. Rosyid Ridho. Tafsir Al-Qur’an Al Adziim (Jilid 3, 7, 8 dan 11). 1347 H. Daarul Fikr : Beirut.
Sirajuddin Abbas. 40 Masalah Agama. 2000. Pustaka Tarbiyah: Jakarta.
Umar Bakri. Tafsir Madrosy Jilid 1. 1937. Darussalam: Ponorogo.
Ustadz Abdul Adzim & Ahmad. Ahkam Minal Qur’an Wa Sunnah. 1967. Darul Ma’arif : Mesir.
Baca Selengkapnya... → Salaf dan Khalaf dalam Ta’wil Ayat-Ayat Mutasyabihat

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Oleh: Fariha Ilyas

الْحَمْدُلِلّهِ الَّذِى جَعَلَ الْحَيَاةَ وَالْمَوْتَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلاً.اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّاللهِ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَرْسَلَهُ بِالْهُدَى.اللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِ نَا رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ الّذِيْنَ اتّبَعُوْا طَرِيْقَهُ وَسَلَكُوْا سَبٍيْلَهُ.قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : {تِلْكَ
الدّارُالآخرَةُ نَجْعَـلُهَا لِلَّذِيْنَ لاَيُرِيْدُوْنَ عُلُوًّافِى اْلأَرْضِ وَلاَ فَسَدًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ.}
اَمَّابَعْدُ:فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! اتَّقُوْا اللهَ تَعَاَلىَ وَاَطِيْعُوْهُ وَلاَ تَعْصًوْهُ لَعَلَّكُم تُفْلِحُوْنَ.


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَكُلُّ خَلْقِ اللهِ سَيَفْسُدُ وَيَهْلِكُ.الْمَوْتُ هُوَآخِرُ الْخَيَاةِالدُّنْيَاوِيَةِ وَاَوَّلُ الْحَيَاةِالاَبَدِيَّةِ. سَيَأْتِى الْمَوْتُ فِى وَقْتٍ لاَ يُخْمَنُ وَلاَ تَفْزَعُوْا بِفَجْأَةِ إِظْهَارِالْخَوْفِ حِيْنَ مَجِيْئِ الْمَوْتِ.لاَ حَوْلَ لِدَفْعِهِ وَلاَ قُوَّةَ لِمَنْعِهِ. ذكِّرُوْاآخِرَحَيَاتِكُمْ وَاعْلَمُوْا أَنَّ كُلَّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ.
اَيُّهَا الْلإِخْوَانُ! إِنَّ خُرُوْجَ الرُّوْحِ مِنَ الْجَسَدِ سَيُؤْلِمُنَا أَلَمًا شَدِ ْيدًا.وَلَقَدْ شَاهَدْنَا مَنْ وَقَعَ فِى سَكْرَةِ الْمَوْتِ وَهُوَ يَصِيْحُ صِيَاحًا حَزِيْنًا لِشِدَّةِ أَلَمِ الْمَوْتِ الّذِى لاَيُعْتَبَرُبِهِ وَكَانَتْ سَكْرَةُ الُمَوْتِ وَاعِظَةً لأُوْلِى اْلأَلْبَابِ.

عَنِ النَّبى صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسلّمَ قَالَ:
"لَوْكَانَ أَلَمُ شَعْرَةٍ مِنْ اَلَمِ الْمَيِّتِ وُضِعَ عَلىَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لَمَاتَاَهْلُهُمَا بِإِذْنِ اللهِ تَعَالَى، لأَنَّ فِى كُلِّ شَعْرةٍ مَوْتًا وَلاَيَقَعُ اْلمَوْتُ فِى شَئٍ الاّ مَاتَ مَعَ كلّ اعْضَائِهِ."

حين سكرة الموت سيشهد الناس حزنا مبينا.لا تنفع فيها التوبة ولا الوصيلة ولا الندا مة،لأنّ الموت أت لاريب فيه لن نفرّ منه ولا يمكن ردّه. قال الله تعالى فى القرأن الكريم:بسم الله الرحمن الرحيم " وجاءت سكرة الموت باالحقّ ذلك ما كنت منه تحيد.و نفخ في الصّورذلك يوم الوعيد." { ق : 19-20 }
وما بعدالموت إلا الجنّة والنار وسنردّون إلى عالم الغيب والشهادة
وهو الله ربّ العالمين.

لقد شاهدنا أنّ بعض الناس اليوم ينكرون الحياة الخالدة،وهم لا يستفيدون حياتهم الدنياوية لمقابلة الحياة لأبديّة،هم قدسقطوا فى غرور الدنيا. و هذا الذى ينسيهم عن حياة الأخرة.
واعلموا أنّ هذه الحياة لله تعالى. فمن استفاد حياته وأ ضاع عمره عصيانا لله فكان من المنكرين.
لقد رأينا الأن أنّ أكثرالنّاس يحبّون الدنيا حبّا شديدا،وهم لا يعلمون أنّ الدنيا بكلّ متاعها المخذع قد أعمت قلوبهم من مشاهدة الحقائق التى قدبيّنها الله فى كتابه الكريم.وهم لايعلمون أنّهم فى نيل امالهم وإيجاد مناهم
قدإتبعوا خطوات الشياطين.وقد جعلهم الشيطان مولّين عن هاذم اللذات والفرح وهوالموت.

إنّ من غفل فى لذّة الدنيا وسقط فى خذعتها فهوسينسى بإتيان ملائكة الموت إليه. واذا أنذر إليه االموت سوف سيفرّ ولا يسمع ذلك الإنذار.قال الله تعالى فى كتابه الكريم:بسم الله الرحمن الرحيم" قل إنّ الموت الذى تفرّون منه فإنّه ملا قيكم ثمّ تردّون إلى عالم الغيب والشهادة فينبئكم بماكنتم تعملون. "{الجمعة : 8 }

ينقسم الناس فى مواجهة الموت إلى أربعة أقسام :
الأول : هم الذين يحبون حياة الدنيا ولا يذكرون الموت وهمل لايريدونالإنفراق بجميع نعم الدنيا .
الثانى : المؤمنون الذين لم يستعدوا بمقارلة الموت لأنهم لم يزوّدوا نفوسهم مقابلة للموت.
الثالث : هم الذين يحبون الموت و يرجونه حبا للقإ ربّهم.
الرابع : هم الذين لايبتغى شيئا الا رضى الله.

وبعد الموت نحن سندخل عالم القبر المظلم إنتظارا لقيام الساعة،ولا نرى فى اللحد أحدا ولا أبا ولاأما ولا ولدا ولا إخوانا ولا أصحابا ولا فراشا ولا حجابا.فإن لم نرربا كريما فقد خسرنا خسرانا عظيما.


عن عثمان رضى الله تعالى عنه أنه كان إذا مر على قبر وقف يبكى حتى تبتل لحيته فقيل له يا أمير المؤ منين تذكر الجنة والنار وأهوال القيامة فلا تبكى وتذكر القبر فنبكى فقال : قال النبى صلّ الله عليه وسلّم " القبر أول منزل من منازل الأخرة وأخر منزل من منازل الدنيا فمن نجا منه فما بعده أيسر وإن لم ينج منه فما بعده أشد" وقال إن كنت فى النار كنت مع الناس وإن كنت فى القيامة كنت مع الناس و إن كنت فى القبر لم يكن معى أحد فلذلك أبكى.

وقال الفقيه أبوالليث السمرقندى:من أراد أن ينجو من عذاب القبر فعليه أن يلازم أربعة أشياء ويجتنب أربعة أشياء.فأما التى يلزم أن يلازمها فاالمحافظة على الصلاة والصدقة و قراءة القرآن و كثرة التسبيح فإنها تضئ القبر و توسعه.وأما التى يلزم الإجتناب عنها فالكذب والخيانة والنميمة والبول قائما.
طوبى لمن كان قبره روضة من رياض الجنان وويل لمن كان قبره حفرة من حفر النيران.

ياسكّان الدار الفناء إعلموا أ نّكم موجهوالموت وأنّكم مبعثون فى يوم تشخص فيه الأبصار وسينبّئكم الله بما كنتم تعملون.ولا تشرف فى حياتكم الدنياوية.إنّالله لا يحب المشرفين.
جماعة الجمعة رحمكم الله!
ولهذا حىّ على ترقية التقوى وتكثير الأعمال الصا لحة إستعدادا للموت و تجهيزا لحياة الأخرة.و تزوّدوا فإنّ خيرالزّادالتقوى .
وعلينا تقديم حياة الأخرة بنسبة حياة الدنيا لأنّ حياة الأخرة أبقى وأفضل من حياةالدنيا. " وللأخرة خير لك من الأولى "
وندعو الله عسى أن يجعل أخر حياتنا حسن الخاتمة أمين... أمين... يا ربّ العا لمين.
Baca Selengkapnya... → كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ