Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, Oktober 19, 2011

MODI

Oleh: Fariha Ilyas

“Aku melihatnya sekali berdansa di depan patung Balzac. Wajahnya sangat tampan, tangannya sangat anggun, sama seperti ia melambaikan senyumannya. Ia adalah semua diriku dulu, maka aku curi momen itu dan menyimpannya ke dalam pikiranku, untuk menghiburku di akhir hayatku” (Pierre Auguste Renoir, dalam The Winner)

Yang dimaksud dalam catatan Renoir tersebut adalah Modigliani, nama lengkapnya Amedeo Modigliani, yang lebih suka dipanggil “Modi”, seorang seniman asal italia. Modi yang semasa hidupya bersinggungan dengan Pablo Picasso saat ia merantau di Paris merupakan seorang seniman yang unik. Hidupnya yang berliku, kegemarannya mabuk-mabukan dan sifatnya yang cenderung temperamental (walau sebenarnya ia juga seorang pria yang sangat romantis) membuat ia selalu dikenang sebagai seniman yang eksentrik.

Modi terkenal dengan lukisannya yang tidak lengkap pada bagian mata. Ia memiliki aturan untuk dirinya sendiri bahwa ia akan melukis mata orang yang dilukisnya saat ia telah mengetahui jiwa orang tersebut. Lukisan-lukisan pertamanya yang modelnya adalah Jeanne yang tak lain adalah istrinya sendiri juga tak bermata lengkap.

Malam pembukaan kompetisi lukis, tepuk tangan yang gemuruh tak henti setelah kain penutup lukisan dibuka. Sesosok perempuan berpakaian biru duduk dengan kepala tertunduk, sebuah pose yang tak terlalu istimewa. Namun yang menakjubkan adalah kedua bola mata perempuan dalam lukisan tersebut, yang menjadi pengundang tepuk tangan yang bergemuruh. Mata perempuan itu mengungkapkan seluruh dunianya, hidupnya, cintanya. Mata perempuan itu laksana lembar-lembar kehidupan yang terbuka, seperti sebuah buku, namun lebih ajaib daripada buku. Buku harus dibaca, sedang sorot mata perempuan itu bicara, dan yang mendengar adalah mata setiap orang yang menatapnya.

Itulah karya Modigliani, lukisan yang berjudul “Jeanne” itu tak pelak membuat hampir seluruh pengunjung galeri menangis, reputasinya dalam melukis potret yang sangat terkenal membuat orang terhenyak pada malam itu saat mereka menyaksikan karyanya. Akhirnya ia melukis mata seseorang.

Jeanne-seperti pengunjung galeri malam itu- juga terisak, air matanya mengalir deras sekali, ia tersedu, haru, sebiru lukisan pria yang amat dicintainya. Malam itu Jeanne menemukan keutuhan cintanya dengan Modi. Ya, Modi telah mengenal jiwanya. Terngiang-ngiang di telinganya kata-kata Modi dulu saat mereka baru saja merajut cinta, saat Modi menjadikannya objek suci untuk lukisan-lukisannya: “Jika aku mengenal jiwamu, aku akan melukis matamu”.

Di saat yang sama, pria yang selalu setia dengan botol minumannya, sekarat di atas salju tebal, berdarah dan merintih tak berdaya. Malam itu Modi dianiaya oleh perampok jalanan.

Tak lama berselang Modi menghembuskan nafasnya yang terakhir. Perasaan Jeanne hancur saat pria yang paling ia cintai telah tiada. Mereka telah lama saling mencintai, tak ada yang meragukan itu. Namun Modi, sebagai seseorang yang benar-benar ingin mencintai Jeanne sepenuhnya tak ingin membuat sesuatu tentang Jeanne tanpa benar-benar yakin tentang apa yang ia ketahui tentang Jeanne.

Itulah kenapa Jeanne sangat mencintai Modi. Ia memang ingin dicintai dengan sungguh-sungguh, tidak hanya dengan dasar perasaan, namun juga berdasar pada kenyataan yang apa adanya tentang diri, hidup, dan perjuangannya mempertahankan cinta yang mendapat banyak tantangan karena ia Kristen dan Modi adalah seorang Yahudi.

Kisah cinta berbalut upaya manusia mencapai kebenaran lewat seni yang merupakan jalan hidup Modi dan Jeanne mungkin sudah cukup untuk menjadi penjelasan tentang apa itu kebenaran cinta. Cinta tak melulu romantis, ia kadang datang terlampau dramatis, menerjang, mengoyak, dan saat ia ada di hadapan kita, kita dipaksa menangis. Itulah saat kebenaran tiba.

Mungkin saja.

(Surakarta, 23 September 2011)

Baca Selengkapnya... → MODI

Rabu, Mei 11, 2011

Curhat dan Motivasi Penciptaan

Oleh: Fariha Ilyas

Jujur saja, memang tulisan ini awalnya berawal dari perasaan aneh yang timbul saat beberapa notes saya dimaknai berbeda dengan apa yang saya maksudkan. Dengan ini saya menyatakan (halah kok malah kayak teks proklamasi), dengan ini saya ingin menceritakan sumber dan motivasi penciptaan saya (dalam menulis). Harapannya sih semoga bermanfaat. Saya ambilkan sepuluh tulisan saya yang terakhir. Memang banyak sekali buku-buku tentang cara-cara menulis, proses kreatif, metode penciptaan dan lain sebagainya, tulisan ini tidak lebih dari wilayah itu. Namun saya sendiri tidak pernah membacanya, alias mengalir saja. Pelajaran menulis yang saya terima tidak bisa “nyantol” di kepala saya. Toh tanpa itu saya masih bisa menulis, dalam artian menulis untuk mengungkapkan isi pikiran. Bukan menulis sebuah karya yang baik. Langsung saja, tancap!!!!!!

SUMBER PENCIPTAAN

Ketika Musim Glagah Tiba: Kata kuncinya adalah nostalgia, setiap kita pasti punya nostalgia, yang personal sifatnya. Jadi nostalgia-nostalgia itu dapat terus kita jadikan sumber penciptaan. Dan seiring berlalunya waktu dan bertambahnya wawasan kita, kedewasaan kita maka sumber penciptaan yang bersumber dari nostalgia ini akan mengundang tafsir yang berbeda. Walaupun obyek masih sama, penafsir pun masih sama (kita sendiri).

Alasan Mencintai: Bersumber dari kegelisaan atas ketidakmampuan diri membongkar segala bentuk oposisi yang terkonstruksi dalam pikiran. Terlalu banyak alasan yang saya punya untuk melakukan tindakan, bahkan tindakan yang sebenarnya ingin saya lakukan tanpa pamprih, tapi keinginan itu sendiri mengundang pamrih. Sebuah paradoks dalam logika yang rasanya sulit dibongkar. Adapun Tokoh “Sekar” di sini adalah metafora dari tujuan-tujuan. Supaya tulisan ini lebih mudah dimengerti lewat kasus-kasus yang lebih akrab misalnya ya dalam percintaan antar manusia.

Gerak Sunyi: Berawal dari masalah internal yang berat sekali bagi saya pribadi. Kebetulan waktu itu ada acara Solo Menari 24 Jam. Diantara gegap gempita perhelatan itu saya meminjam tari-tarian sebagai metafora dari potensi buruk kita (katakanlah syetan) dan potensi baik kita (katakanlah malaikat). Walau sebenarnya syetan dan malaikat itu sendiri adalah metaof juga untuk dualisme kemanusiaan kita yang sulit dilepas-lepas. Dalam pikiran saya dua potensi itu selalu menari-nari, menggoda untuk kita tanggapi. Namun semuanya hanya terjadi dalam benak kita, tak berwujud. Padahal itulah gerak mahadahsyat yang serig kita alami.

Gemerisik Dedaunan (7): Tulisan ini masih tergolog egois karena melulu menceritakan perasaan saya sendiri, cerita tentang apa yang saya alami. Mungkin akan sulit membangkitkan emosi orang lain. Walaupun kita sama-sama pernah mengalami banyak peristiwa yang berkesan dalam diri kita dan bisa saja peristiwa tersebut serupa. Namun tafsir saya mungkin berbeda, atau mungkin sama dengan pembaca (kalo ada yang baca, hehe).

Image, Dance, Music, Text: Kata kuncinya adalah batas. Upaya manusia dalam mencapai sesuatu memang berlainan, banyak sekali macamnya. Saya ambil sedikit saja dari hal itu, yaitu upaya manusia menggapai keindahan. Beragam kesenian pada hakikatnya sama dan sebenarnya saya ingin sekali merasakan sensasi keindahan yang (mungkin) sedikit berlainan diantara beragam jenis kesenian. Semua memang tergantung selera, namun saya rasa yang terbaik adalah memahami semuanya dengan pandangan yang lebih luas. Agar kita mengerti apa yang orang lain rasakan dan alami.

Untukmu, Kekasihku: Bersumber dari nihilisme yang seringkali merasuki pikiran saya. Saya ungkapkan pemahaman saya tentang nihilsme itu. Sulit sekali bagi saya yang kurang pengetahuan ini untuk menuliskannya. Adapun “Kekasih” di sini bisa dimaknai siapa saja. Bukan menunjuk pada lawan jenis saja tetapi lebih kepada sesama.

Surat Dari Han: Tulisan ini bermula sewaktu terjadi peristiwa Bom di Cirebon. Seperti biasa, “Han” yang merupakan alter ego saya kembali berperan, memberi saya beberapa untai pandangannya, yang tak lain tak bukan adalah bertujuan saya yang lemah dan tak berdaya ini untuk mengambil sikap dan melakukan sesuatu untuk dunia dan kehidupan yang sedang melingkupi saya.

Jika: Tulisan ini lama sekali mengendap dalam pikiran saya, dan saya sendiri masih belum puas dengan apa yang telah saya ungkapkan dengan tulisan ini. Ada hal-hal yang saya pahami (secara subyektif), namun sulit saya ungkapkan karena belum saya temukan logika bicara yang tepat. Namun akar dari permasalahan yang saya pikirkan tak lepas dari jejaring simbol (religi, moral, pengetahuan, ekspresi).

Rupa-Rupanya: Berawal dari proses petualangan spiritual saya pribadi yang selama ini melemparkan diri dari pada pusaran yang tanpa batas (yang sudah dekat dengan saya pasti sedikit lebih tahu apa yang saya maksudkan). Sebagian besar tulisan saya memang mengarah ke situ. Yah saya dengan sekuat tenaga ingin memisahkan diri dari tuhan, saya ingin menjadi musuh tuhan, tak ada keraguan untuk memilih menjadi mush tuhan, karena saya beranggapan bahwa tuhan menyayangi siapa saja, termasuk musuh-musuhnya.

Surat Untuk Han (5): Lagi-lagi hanya soal nihilisme, oposisi biner, struktur, dan kekuasaan. Hal ini menjadi sumber penciptaan paling dominan yang sampai sekarang masih sering mendorong saya untuk menuliskannya.

MOTIVASI PENCIPTAAN

Adapun hal-hal yang terus memotivasi saya dalam menulis adalah:

1. Pada dasarnya saya sering bercerita, mengungkapkan pikiran kepada orang yang paling dekat dengan saya yang sering kita sebu sebagai pacar atau kekasih. Setiap kali saya tidak bisa bercerita kepada kekasih saya, saya akhirnya menulis. Jadi semakin banyak saya menulis, sebenarnya saya dalam keadaan yang sedih. (kok jadi curhat, hahaha). Tapi awalnya memang semua tulisan saya ini saya dedikasikan bukan kepada tuhan atau kehidupan, tetapi kepada seorang wanita yang saya sayangi dan cintai.

2. Khawatir. Rasa khawatir sering mengusik, saya adalah orang yang biasa-biasa saja, tidak pernah berpikir untuk hal-hal besar, tidak pernah melakukan hal-hal besar. Semua serba standar. Suatu ketika saya memohon kepada tuhan agar saya dipanggil saja kalau memang saya tidak berguna dalam kehidupan ini. Saya khawatir hanya menjadi pelancong saja dalam hidup ini. Hanya menikmati kesenangan-kesenangan saja. Sudah banyak kesenangan yang saya nikmati. Menulis merupakan penyeimbang hidup saya. Supaya tidak jelek-jelek amat jadi orang. Hehehehe...

3. Mencari kemungkinan lain dari diri saya. Pada dasarnya saya adalah orang yang kasar, tidak menganut agama dengan sepenuh hati, tidak tunduk-tunduk amat pada tuhan, abnormal (kalo dibandingkan dengan orang-orang yang berlabel normal). Tapi saya tidak percaya kalau diri saya hanya itu. Lewat tulisan, saya ingin mengungkapkan apa yang saya pikirkan di ruang lain dalam otak saya. Karena itulah pembaca terbaik saya adalah orang yang tidak menganggap saya sebagai penulisnya. Baca aja, kalo baik ya dipake, kalo enggak ya tinggalkan saja. Kalo pembaca melihat saya, saya jamun akan jijik dan segera berdo’a kepada tuhan agar jangan ada lagi orang seperti saya.

Tulisan ini bukan upaya untuk mengarahkan seseorang dalam penafsiran. Karena begitu tulisan lahir, ia telah menjadi milik pembaca, dan penafsiran sudah berada di pikiran pembaca. Saya hanya ingin mengatakan bahwa banyak sekali potensi dalam diri kita yang bisa kita ungkapkan lewat berbagai cara. Namun demikian sebenarnya hal yang paling sulit adalah membangkitkan nilai-nilai asali dari setiap peristiwa, mencari metafora yang pas, agar apa yang kiat buat dapat menyentuh banyak orang, tidak hanya sekedar curhat. Dalam hal ini saya butuh masukan dari siap saja yang mau menularkan pengetahuannya kepada saya.

Untuk teman-teman semua, saya bahagia sekali telah bersinggungan dengan kalian, yang suka menulis semoga tetap semangat, terutama buat mbak Supertwin yang secara tidak langsung menjadi motivator saya dalam menulis. Teman-teman, aku mencintai kalian dalam segala kelemahan ini. Aku selalu mencari jalan agar cinta ini tidak terbatasi oleh apapun. Karena hanya ada kita, kita, dan kita.

(Surakarta, 6 Mei 2011)

Baca Selengkapnya... → Curhat dan Motivasi Penciptaan

Jumat, Desember 31, 2010

Rembulan dan Kata-kata

Oleh: Fariha Ilyas


Malam ini seperti malam kemarin saja rasanya, tanpa cahaya terang di langit. Matahari masih di tempatnya semula, tertutup bagian bumi yang kutapaki. Namun ada sesuatu yang membuat malam ini tak biasa, karena malam ini aku akan duduk di bulan bersama seseorang. Entah apa yang membuatnya mengajakku duduk di bulan, tanpa tahu bagaimana kami berdua harus mencapainya. Segala hal yang mampu kupikirkan rasanya hanya berujung kepada kemustahilan. Kami takkan duduk di bulan malam ini, apalagi bulan tak nampak di langit sana. Tak akan.


Sampai pada akhirnya aku kembali kepada sumber segala pemahamanku, kata-kata. Saat jalan buntu menghentikan langkah, aku masih percaya bahwa kata-kata selalu punya jalan untuk sampai meski kadang jalan yang dibentuknya harus berliku-liku dengan batu-batu kesalahpahaman yang terjal. Namun pada akhirnya tak akan ditemukan cara yang lebih baik untuk mencapai sesuatu, entah itu bagian dari dimensi ruang atau dimensi waktu.


Kusebarkan kata-kata malam ini di hamparan tanah kosong, kususun rangkaian anak tangga yang sangat panjang, sampai ke bulan, sesudah itu kulubangi lapisan-lapisan selimut bumi, dan kukirimkan udara di bulan, yang cukup untuk kuhirup bersamanya semalaman, semuanya kulakukan hanya dengan kata-kata. Tas ransel bututku telah kupenuhi dengan segala makanan kesukaannya. Tak sepeserpun kukeluarkan biaya, karena semua telah tersedia dalam kata-kata.


Setelah semua kuanggap cukup, kukirimkan pesan dengan rangkaian kata-kata kepadanya yang mengajakku pergi ke bulan dan duduk di sana semalaman. Demikian isi pesan yang kutuliskan di selembar daun jingga:


Kekasihku, datanglah segera ke tanah lapang di dekat kebun tebu, telah kusiapkan tangga menuju bulan. Jangan kau terburu-buru lelap dalam tidurmu dan memimpikan segala yang tidak dapat kau capai dalam hidup ini. Datanglah segera, sebelum tangga itu lenyap dan malam menjadi sirna. Aku menunggumu di sini. Dariku, kekasihmu.


Tak seberapa lama, datanglah ia yang kunantikan. Wajahnya merah merona, rupanya ia terlampau larut dalam rasa senang sekaligus rasa tak percaya pada semua hal yang telah kulakukan malam ini. Tanpa banyak membuang waktu, kuraih pergelangan tangannya, dan kami langkahkan kaki menapaki satu demi satu anak tangga yang tak terhitung jumlahnya, menuju bulan.


Beberapa saat kuputuskan untuk meninggalkan kata-kata, supaya yang terjadi selanjutnya-tentang malam, tentang rembulan, tentang kami-tidak menjadi cerita. Biarlah semuanya hilang begitu saja. Tanpa kata-kata. Kuyakinkan kepadanya, bahwa semua ini bukan mimpi, karena mimpi selalu tanpa kendali. Ini adalah imajinasi, yang tersusun dari setiap keping kesadaranku.


Kami hilang. Entah ke bulan, entah ke mana. Semua hilang, tak bersisa. Yang ada hanya kata-kata.


(Malam, saat kata-kata terangkai dalam desah nafas setiap hamba. 9 September 2010)




Baca Selengkapnya... → Rembulan dan Kata-kata

Minggu, Agustus 29, 2010

Prasangka

Tak pernah kusangka matahari pagi ini terlihat lagi….
Menghangatkan bumi yang sempat membeku semalam….
Menggantikan kegelapan dengan sinarnya….

Kutapaki lagi jalan kemarin….
Kulihat lagi bunga kemarin….
Rumput-rumput kemarin….
Rindangnya pepohonan kemarin….

Akhirnya kutemui lagi orang-orang kemarin….
Kawan-kawanku kemarin….
Tak ada yang baru, pikirku….

Oh, ternyata hidup hanya pengulangan….
Pengulangan hidup kemarin….
Hari-hariku sekarang hanya pengulangan hari-hari kemarin…

Sampai suatu kali kutemukan kesadaranku….
Bahwa setiap detik segala sesuatu memperbarui dirinya….
Akulah yang menganggap semua ini sisa-sisa....
Dan aku telah salah sangka….
Baca Selengkapnya... → Prasangka

Jumat, Agustus 27, 2010

Ke Mana Lagi Aku Harus Mencarimu?

Oleh: Fariha Ilyas


Ke mana lagi aku harus mencarimu?
Ke lembah mimpi sudah, ke bukit hayal sudah, ke lautan harap pun sudah!
Di mana kau bersembunyi?

Apa kau tahu? aku hampir saja mati digigit angin putus asa di lembah
Aku pun nyaris terperosok di jurang-jurang kecewa tanpa dasar
Apa justru kau ingin aku musnah dilamun ombak?
Kau gila.

Dulu kau sering berjanji padaku tentang pertemuan. Pertemuan apa?
Janjimu ternyata palsu saja, agar aku mau hidup lebih lama
Kau katakan padaku bahwa kau akan menemuiku suatu waktu
Tapi diam-diam kau hentikan waktuku agar kita tak bertemu
Kau gila.

Katamu kau akan selalu membimbingku, menemani langkahku
Tapi apa? Kau tinggal aku dalam sepi, kau bebat aku dalam sendiri
Sementara aku tak pernah tahu kau hidup di dunia macam apa
Kau gila.

Aku tahu orang-orang juga mencarimu, ingin menemuimu
Tapi kau diam saja saat yang mereka sebut-sebut itu nama berhala
Apakah kau tak ingin namamu disebut lagi?
Atau sebenarnya kau tak punya nama?
Aku lelah, dan kau gila.
Baca Selengkapnya... → Ke Mana Lagi Aku Harus Mencarimu?

Kisah Tanpa Akhir

Oleh: Fariha Ilyas

Ini adalah sebuah kisah tanpa akhir, kisah janggal di dunia yang sering tak masuk akal. Hari berganti-ganti, namun zaman selalu menghadirkan banyak sekali kisah tentang rindu yang itu-itu saja, atau tragedi yang mudah sekali dicari referensinya di roman-roman usang. Sudahlah, ini bukan kisah cinta masa lalu, ini adalah kisah cinta masa kini tentang aku dan cinta.

Aku adalah wanita kebanyakan, tak ada yang berbeda denganku kecuali hal-hal kecil yang biasa. Lama sekali rasanya hidup ini, walau batang usiaku belum seberapa tinggi. Aku seperti merasa menjalankan skenario hidup orang lain, orang lain yang tak sezaman denganku. Kenapa aku merasa demikian? Aku tak tahu pasti. Namun saat kubaca beberapa cerita lampau di buku-bukuku, aku seperti ada di dalamnya, atau sepertinya cerita itu sedang berlangsung bukan di zaman yang telah lewat, namun di zamanku.

Tahukah kau bahwa setiap malam mataku sembab oleh air mata rindu, rindu yang tersesat. Aku tak tahu bagaimana rindu itu harus kuperlakukan, aku takut mengucapkannya, namun juga takut membuangnya begitu saja. Aku seperti terkurung dalam sebuah dunia yang melarangku untuk rindu kepada seseorang yang sangat kucintai sekaligus sebuah dunia kebebasan tanpa etika cinta. Mungkin aku seperti Puteri Budur yang hatinya kelu karena rindu kepada Qamaruzzaman. Tapi aku bukan Budur, aku adalah aku, wanita biasa, bukan wanita dalam cerita yang begitu kuat menghadapi segala badai kesulitan hingga cerita usai dengan bahagia. Bahkan sekarang pun aku tak tahu apakah aku sanggup hidup seperti ini hingga kisahku usai. Aku tak tahu.Aku tak tahu.

Hanya bait-bait ini yang selalu kubaca saat malam semakin renta:

Malamku panjang, sementara para pengekangku itu tidur
Dan hatiku yang gelisah terasa pedih akibat luka perpisahan
Aku bertanya, sementara malamku diperpanjang dengan sengaja
“Kapankah cahaya siang akan datang lagi?”

Apakah demikian yang terjadi pada setiap wanita sepertiku?
Datangnya cinta yang bertubi-tubi melukaiku
Seperti ratusan mata lembing yang menghujam
Aku lebih suka menjadi tiada, daripada nyawaku diselamatkan


Kisah ini tanpa akhir, tanpa akhir, karena dimulai dalam waktu yang melingkar. Saat kusadari semua itu, aku memilih diam.

(Untuk wanita yang kehilangan cinta dalam tumpukan cinta. Malam rembulan, 28 Juni 2010)
Baca Selengkapnya... → Kisah Tanpa Akhir

Ketakutan yang Tak Terbatas

Oleh: Fariha Ilyas



Suatu ketika, saat dirimu dikungkung rindu yang tak tertahankan, saat bayang-bayang seseorang tak mampu kau hilangkan dari kepalmu, maka carilah dia. Karena mengusir bayang-bayang adalah mengusir kekosongan, sedangkan kekosongan yang kau akrabi itu akan terus ada.

Diamlah beberapa saat untuk kembali menata setiap ingatan di kepala. Temui dia di alam nyatamu, agar bayang-bayangnya lenyap. Karena mengusir bayang-bayang akan mendatangkan rindu yang tak putus-putus. Menghantuimu dengan sesal yang terus mengganjal.

Jika yang kau dapati adalah keyakinanmu tentangnya, berlarilah sekencang-kencangnya meninggalkan bayang-bayang, songsonglah ia segera. Jangan pernah ragu, karena ragu yang telah memisahkanmu.

Sedikit keberanian cukup untuk mengubah kehidupan, namun sebesar apapun rasa takut takkan pernah cukup untuk membenarkan sesuatu yang kau lakukan dalam kebimbangan. Kau adalah bagian dari semuanya, maka jika kau menginginkan sesuatu maka berkatalah kepada setiap yang ada. Agar semuanya berpadu, mengantarmu ke sebuah tujuan yang kau idamkan.

Jika tak ada sedikitpun keberanian itu, bersujudlah pada pemilik rasa takut yang akan menghujanimu dengan ketakutan yang tak terbatas. Hingga kau sendiri takkan pernah tahu bahwa sedang berada dalam ketakutan.

Dan yang demikian itu adalah satu-satunya jalan agar kau tidak merasakan hal yang paling tak kau inginkan. Namun sebenarnya siapapun takkan mengerti apa yang kau inginkan dan apa yang tidak.


(Untuk Pemilik Boneka Minke, 7 Juni 2010)
Baca Selengkapnya... → Ketakutan yang Tak Terbatas

Malam dan Syair Langit

Oleh: Fariha Ilyas




Malam terus bergulir, seiring gerak jarum jam yang telah melewati angka dua belas. Sepi. Di luar sana angin sepertinya enggan berhembus, seluruh alam malam itu seperti sedang beku oleh beberapa bait syair yang dibacakan malaikat entah dari lapisan langit keberapa.

Daun-daun cemara kaku seperti besi yang sebenarnya. Kuncup-kuncup bunga yang siap mekar rupanya juga tak ingin buru-buru memamerkan keindahannnya kepada rerumputan yang sejak tadi berdiri bukan layaknya rumput, melainkan paku-paku yang tajam.

Saat itulah sebuah jendela terbuka, sebuah jendela dari rumah yang dikelilingi pagar kayu bercat putih. Dari dalam menyembullah kepala gadis berambut panjang yang berwajah muram. Matanya sembab karena menyerah saat beberapa tetesan bening memaksa keluar dari pelupuknya, membawa banyak sekali tetesan lain yang hampir tak tertahankan beberapa malam ini. Gadis itu adalah pusat segala sunyi malam ini, titik tengah segala kesedihan yang memaksa setiap ekor jangkrik menahan suaranya, beberapa malam ini.

Sepanjang malam gadis itu hanya diam, memandang semua hamparan pilu yang tercermin di setiap jengkal pandangan matanya. Segalanya nampak pilu karena hati gadis itu kelu karena rindu yang sekian lama tenggelam dalam kekalutan.

Dan di langit sana, malaikat terus saja membacakan bait-bait syair agung yang menembus kegelapan, mencairkan hati setiap orang yang mampu mendengar dan meresapi syair malam. Namun gadis itu tak pernah mampu mendengarkan bait-bait syair yang sebenarnya adalah sebuah sejarah yang dilantunkan, sejarah yang telah memberi banyak sekali pelajaran bagi manusia-manusia yang tinggal dalam sebuah bingkai besar bernama ruang-waktu.

Enyahlah segala cinta. Teriak gadis itu, sebuah teriakan yang tak terdengar, karena hanya sebuah teriakan hati yang sekarat. Hati yang sekian lama dibebat paksa di tonggak aturan yang tak peduli. Segumpal hati itu kini pelan-pelan menjadi sepotong daging biasa, tanpa sifat-sifat istimewa. Semua berubah menjadi begitu tragis, seperti yang diinginkan dunianya, dunia yang tak peduli.

Saat malaikat hampir selesai membacakan syairnya di langit, sayup-sayup terdengar syair yang serupa, mengalun lirih, seirama gerak alam yang pelan-pelan mulai terasa. Diawali dengan kuncup bunga yang mengembang, lalu daun-daun cemara yang mulai bergoyang.

Dari jendela itulah berhamburan syair-syair tandingan, syair-syair yang menyamarkan syair-syair langit. Malaikat pun diam, menyimak dengan seksama setiap kata yang terucap dari seorang gadis yang tak berdaya. Syair itu dibawa angin yang mulai lembut bertiup, jauh sekali, menusuk jantung malam.

Sejak saat itu, tak terdengar lagi syair-syair malaikat. Karena syair-syair gadis itulah yang kini menjadi pengisi malam. Syair-syair itu memenuhi setiap kekosongan yang ditinggalkan oleh manusia-manusia. Bahkan syair itu memenuhi kosongnya bentang langit. Menggema di sebuah ruang luasnya yang tak terbayangkan.

Jarum jam terus bergerak, semakin dekat dengan angka-angka yang sudah sedemikian akrab. Lalu sebuah kepastian datng lagi, kepastian yang menggelisahkan hati gadis itu, dan hati setiap orang yang menyadari arti gerak jarum jam.

Alam semakin menggeliat, gadis itu surut ke peraduan, tersungkur dalam kepastian yang mengherankan, terjerembab dalam lingkaran tanpa batas. Jarum jam sepertinya tunduk kepada takdir, tanpa sedikitpun ragu akan sifat waktu yang ambigu. Hanya gadis itu yang menyadari, bahwa kepastian yang akan menjemputnya adalah : sesuatu yang tak pasti.

Membalut luka dengan air mata
Terseok membaca jejak-jejak pengembara
Apa dayaku? Jika udara menyesakkan rongga dadaku
Dan ruang-ruang menghimpitku


(Untuk Pemilik Boneka Minke, 7 Juni 2010)
Baca Selengkapnya... → Malam dan Syair Langit

Selasa, Agustus 24, 2010

Catatan Simpang Jalan (1)

Oleh: Fariha Ilyas



Siang mendidihkan kepala, debu berterbangan meyesakkan nafas, kering, sekering hati seorang bocah yang-karena kepolosannya-bahkan tak menyadari bahwa hatinya telah kering kerontang. Ada sepucuk do’a dari ibu yang terselip di sakunya, lama sudah do’a itu ia simpan sebagai teman dalam setiap langkah kecilnya menyusuri kerasnya kota.


Saat lampu-lampu yang mengirim isyarat berubah warna, berubah pula pikiran bocah yang sehari-hari hanya berkaos kumal dan bersandal beda warna itu. Ada setitik harapan tentang masa depan yang takkan lagi terlalu keras menamparnya, dan menjanjikan sebuah kehidupan yang tak lagi menyingkirkannya dari kehidupan orang-orang.


Namun harapan itu juga cepat sekali berubah, secepat lampu-lampu itu berubah warna, harapan-harapan menjadi timbul tenggelam, tak pernah kokoh seperti gedung-gedung bertingkat yang kian menjamur, menjulang, membuat bocah-bocah sepertinya makin tak nampak. Jika hari ini berlaku baik kepadanya, tak sulit untuk lepas dari rasa lapar yang kadang sudah terlampau parah menyiksa perut mungilnya, membuat sekujur tubuhnya lemas, mencegahnya mengayun langkah gesit menyusuri kota, mengais sisa-sisa makanan yang disantapnya dengan setumpuk rasa terpaksa.


Rasa terpaksa? Mungkin orang yang mempunyai banyak pilihanlah yang harusnya merasa terpaksa jika melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya, namun harus tetap dilakukan. Karena toh sebenarnya ia punya pilihan-pilihan lain untuk melakukan hal yang lain pula. Namun bagi bocah semacam dia, pilihan itu hampir tak ada, rasa terpaksa itu harusnya tak ada, karena demikianlah jalan hidup yang harus ditempuh, apapun rasanya.


Bocah itu tak sendiri rupanya, karena potret bocah yang kering hatinya seperti dia bahkan telah menjadi sebuah kolase raksasa dalam bingkai kehidupan kota. Setiap kali orang menatap bingkai itu, mungkin hanya akan ada satu atau dua tarikan nafas panjang tanda iba, yang kemudian meluncur hilang, menguap bersama hembus nafas yang hanya sejenak tertahan. Itulah kadar kepedulian paling rendah. Sekedar iba.


Matahari mulai condong ke barat, lampu-lampu masih berganti-ganti warna. Bocah itu melangkah pulang, membawa sedikit kepingan logam di saku. Dengan setumpuk letih yang akan di tebusnya dengan berbaring semalaman di gubuk kecil pinggir kali yang bau. Tak ada ruang lega baginya, bahkan untuk tubuhnya yang mungil, apalagi untuk hatinya yang kadangkala lebih besar dari hati orang dewasa.


(Surakarta, 13 Agustus 2010)

Baca Selengkapnya... → Catatan Simpang Jalan (1)

Tentang Kupu-Kupu yang Tak Ingin Terbang

Oleh: Fariha Ilyas




Kenapa kupu-kupu itu tak mau terbang? Padahal ia memiliki sepasang sayap yang sanggup mengantarkannya pergi jauh melihat seisi taman bunga, atau berkejaran dengan sesama kupu-kupu yang riang menari di udara. Apa sebenarnya yang terjadi?


Saat sepasang sayap yang kemilau berlukiskan berupa warna itu hanya diam, rasanya angin enggan berhembus seperti saat kedua sayap itu terkepak lembut namun penuh daya hidup. Jadi sebenarnya selama ini kupu-kupu itu terbang membelah angin yang berhembus melawan, atau justru angin itu berhembus karena kepak sayap kupu-kupu?


Jauh sekali di seberang pulau, di sebuah tempat yang telah lama menjadi tujuan akhir kupu-kupu, ada kejanggalan yang terjadi, bunga-bunga tak merekah, hanya ada kuncup-kuncup beku. Dari mana kupu-kupu tahu hal itu? Jika tak ada angin yang mengbarkan aroma bunga yang tiada? Sedang matahari pun tak pernah membawa warta kepada seluruh penghuni semesta.


Kupu-kupu hanya tak ingin terbang, hanya tak ingin. Itulah jawaban yang kudapat dari seseorang yang mengaku dirinya sebagai pembaca alam. Ia pun berkisah bahwa akan datang sebuah zaman di mana segala sesuatu akan berjalan sendiri tanpa pernah saling terkait satu-sama lain. Jadi sekarang kupu-kupu, musim, angin, matahari, dan bunga-bunga bukanlah sebagai pernak-pernik hari yang padu, melainkan serupa pecahan kaca yang cerai-berai tak beraturan bentuk dan letaknya, yang sendiri dan tak saling memengaruhi.


Lama sekali kupahami semua ini, saat segala yang kuketahui tak mampu menjawabnya, aku mulai melangkah lagi ke suatu tempat, sambil berharap dapat menemui jawaban yang akan meredakan rasa ingin tahuku. Karena aku pun hanya ingin tahu, itu saja.


(Surakarta, 12 Agustus 2010)

Baca Selengkapnya... → Tentang Kupu-Kupu yang Tak Ingin Terbang

Pengawas Langit

Oleh: Fariha Ilyas




Apa yang ia perhatikan dalam langit yang hanya diam? Apa pula yang selalu ia ukur dengan memandangi langit yang seolah tanpa batas? Mungkin aku tak pernah bisa mengerti tentang alasan seseorang dalam melakukan sesuatu. Namun aku mengerti di mana rindu yang halus itu bersemayam, aku faham di mana ingatan yang lembut itu hinggap, dan langit adalah sebuah bingkai maha luas yang merangkum semuanya.

Rindu yang telah bercampur dalam darah seseorang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata dalam bahasa apapun, bahkan mungkin ia tak dapat dirasakan. Yang kita bisa mengerti adalah kadang kita atau seseorang tersebut nampak bodoh disaat- saat tertentu, itulah titik di mana akal manusia harus tunduk pada sesuatu yang tak dapat dicernanya. Rindu mungkin adalah salah satunya.

Apa yang diharapkan seorang perindu dari langit yang diam? Tak ada, ia hanya memastikan bahwa rindu itu masih ada, rindu yang tak terasa itu diwartakan oleh bentang langit yang tak terbatas. Hanya para pengawas langit yang menyadarinya.

Pengawas langit hanya akan diam menatap langit, setiap hari. Ia selalu merindukan rindu itu, rindu yang mengalir dalam darahnya, rindu yang halus sekali, rindu yang tak dapat dirasakan, yang hanya diwartakan oleh langit, yang entah berada dalam pandangan matanya, atau langit tak terbatas yang ia ciptakan sendiri dalam pikirannya yang terbatas.



(Surakarta, 3 Agustus 2010)
Baca Selengkapnya... → Pengawas Langit

Seikat Alang-alang

Oleh: Fariha Ilyas





Laras dan Kembara adalah pembaca alam, itu kata mereka sendiri. Mereka lebih suka berada di hamparan alam yang luas dan liar daripada berdiam diri di kamar yang mereka anggap membosankan. Tawa mereka sering terdengar manakala ada kupu-kupu yang terbang beriringan, atau kumbang yang sedang menukik turun ke tujuan. Tawa kebebasan, itu kata mereka. Demikianlah pikiran anak-anak.


Hari-hari Laras dan kembara adalah hari-hari penuh bunga, bunga itu mereka tumbuhkan di taman hati mereka yang lebih luas dari padang alang-alang tempat mereka selalu menuju saat senggang, dengan sepeda kumbang berkeranjang. Bunga-bunga di hati mereka berdua begitu segar merekah, karena bunga-bunga itu bukan seperti bunga-bunga di alam yang terjerat masa. Bunga mereka berdua adalah bunga keabadian, yang benih-benihnya telah ada sebelum mereka melihat bunga-bunga yang ada di dunia mereka saat ini.


Laras dan Kembara adalah penunggu senja, itu kata mereka sendiri. Mereka berdua menjadi diam saat lukisan langit berubah warna. Mereka tak pernah mau beranjak dari tempat mereka duduk di samping sepeda kumbang berkeranjang.


Saat hari hanya menyisakan semburat cahaya kemerahan yang halus serupa benang, Laras dan kembara bergegas pulang, tak lupa mereka membawa seikat alang-alang untuk sang bunda, karena sang bunda tak terlalu tertarik pada bunga.



Baca Selengkapnya... → Seikat Alang-alang

Melompati Malam

Oleh: Fariha Ilyas






Malam bagi sebagian orang adalah waktu di mana beban hidup sedikit bisa terlupakan. Saat letih menyerang dan kantuk tak tertahan, saat itulah mau tidak mau segala permasalahan harus surut, meninggalkan pikiran.


Malam bagi sebagian orang yang lain adalah pergulatan, tentang hidup esok hari. Tentang angan dan cita-cita yang sering menyeruak, mengintimidasi pikiran, dan selalu menjadi ganjalan jika bekun terselesaikan.


Malam bagi sebagian orang adalah kekosongan, kehampaan, ketidakpastian. Malam menghadirkan batas-batas ambigu antara semangat dan keputusasaan, kebangkitan dan kehancuran, serta kebimbangan hari ini dan hari esok.


Malam adalah saat-saat sebuah pilihan harus diambil sendiri oleh seseorang. Pilihan-pilihan yang tak ada habisnya. Pilihan-pilihan yang kadang tidak diinginkan. Malam adalah sebuah kehidupan yang padat, mendesak, dan menentukan. Ada orang-orang yang akhirnya tidak ingin memilih, dan ia selalu berangan-angan untuk melompati malam.


Baca Selengkapnya... → Melompati Malam

Kembali ke Bumi

Oleh: Fariha Ilyas




Hhmm, kadangkala merasa seperti tidak berada di bumi, di bumi yang sederhana. Bumi yang menanggung bebannya sendirian. Keasyikan di awang-awang membuat tercerabut dari dunia yang indah ini. melenakan dan membuat sirna pori-pori pikiran yang tersumbat sebuah ambisi.

Lama sekali tak melihat sekawanan burung seriti, atau mendengar sekelompok kodok yang riuh benyanyi. Rindu sekali kepada sehelai daun yang luruh ke tanah, atau menunggu sekuntum bunga yang sedang merekah.

Ke mana perginya keindahan itu selama ini? oh, ia tidak pergi ternyata, ia selalu ada. Namun ditinggalkan oleh pikiran di awang-awang sana.

Sebelum rindu menjadi sesal, rasanya perlu belajar berjalan lagi di bumi ini, untuk menemui seseorang, atau hanya sekedar melongok tembok belakang rumah yang bertahun-tahun ditinggalkan.

Kembali ke bumi, mencecap sari pati hidup ini.

(Sore biasa, 13 Juni 2010)
Baca Selengkapnya... → Kembali ke Bumi

Kupu Kupu Api

Oleh: Fariha Ilyas





Jadilah kupu-kupu, jika kau mau. Terbanglah sesukamu karena akupun ingin menikmati elok sayapmu yang penuh warna-warna berbatas rapi, dan berkilat-kilat diterpa cahaya matahari.

Namun sebelum itu, aku ingin melihatmu merintih-rinrih saat kau bersisah payah keluar dari kepompongmu. Aku ingin melihatmu tersenyum lebar, saat kau berhasil mengepakkan sepasang sayap yang tak kumilki itu. Lalu kau akan melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda denganku. Saat kau bertemu banyak kupu-kupu yang serupa dirimu, terbanglah ke arah berlawanan, agar kau menyaksikan sesuatu yang tak pernah mereka ketahui.

Jadilah kupu-kupu dan terbanglah selalu, jika kau mau. Akan kubentangkan alam untukmu, jangan pernah takut akan kesepian karena aku bisa saja menghadirkan sekawanan kumbang. Jika suatu saat kau ingin terbang jauh, akan kubentangkan permukaan bumi yang tak terjangkau oleh daya jelajahmu, hingga kau berpikir untuk pulang kembali, ke tempat di mana kau dilahirkan.

Jadilah kupu-kupu baja yang tak mudah dilukai siapapun, jika kau mau. Akan kubuatkan sepasang sayap yang kokoh, untuk menghadapai segala kemungkinan yang kau temui. Bersikaplah sedikit angkuh, tak mengapa, agar kupu-kupu tak dianggap rapuh oleh siapapun. Janagn pernah tundukkan kepalamu, hingga kau sendiri merasa rindu untuk melihat siapa saja yang telah membuatmu seperti saat itu. Atau.....

Jadilah kupu-kupu api yang mencairkan es, jika kau mau. Biarkan sayapmu membara, karena aku bisa membuatmu tetap hidup dalam apimu atau apapun yang akan membuatmu punah. Jadilah kupu-kupu di lembar-lembar ini. Di alam serba mungkin yang telah bercerai dengan logika. Jadilah kupu-kupu yang bebas, namun tetaplah menjadi dirimu di alam sederhana, karena kau takkan jadi kupu-kupu, sebelum kau bermetamorfosa menjadi manusia seutuhnya.


(untuk yang ingin menjadi kupu-kupu, 8 Juni 2010)
Baca Selengkapnya... → Kupu Kupu Api

Musim

Oleh: Fariha Ilyas




Ingatkah kau dengan musim itu? Saat kau berjanji kepada seseorang? Atau saat seseorang berjanji kepadamu tentang sesuatu di musim berikutnya?

Masihkan ada kenangan musim itu di kepalamu? Jika banyak sekali peristiwa yang tumpang-tindih mengubur sebuah janji, jika musim silih berganti tanpa kesan apapun yang sempat tercerap.

Berapa musim yang terlewat dengan janji-janji yang dilupakan itu? Berapa kali musim hanya diam namun terus saja tiba tanpa pernah mempertimbangkan sikap siapa saja. Tanpa peduli kepada siapa saja yang tak mengacuhkannya dan tak mengacuhkan janjinya sendiri.

Musim mendengar janjimu, janjinya. Dan ia selalu tiba karena ia patuh kepada aturan penguasa musim, sedang kau dan dia hanya patuh kepada aturan ciptaan sendiri. Akupun demikian.

(Sore biasa, 13 juni 2010)
Baca Selengkapnya... → Musim