Senin, Agustus 23, 2010

Saat Aku Malas Menulis.

Oleh: Fariha Ilyas





Sejak dulu aku suka menulis, menulis apa saja di diaryku. Setelah sekian lama sering kubuka lagi diary itu. Lama kelamaaan aku mengerti bahwa aku ini orang yang sering mengeluh. Diaryku hanya berisi keluhan, atas segala hal yang kuarang menyenangkan bagiku.

Kupikir-pikir lagi ternyata aku ini memang orang yang kurang bersyukur, jika aku bersyukur aku tidak akan mengeluh kan? Bukti bahwa aku kurang bersyukur adalah aku sangat jarang menulis saat suasana hatiku sedang “normal” atau “bahagia” semua kutelan saja dan kuanggap sebagai hakku. Ya, aku berhak bahagia tentunya. Namun saat kebahagiaan itu berganti dengan kesedihan, tiba-tiba saja tanganku bergerak, merangkai kata-demi kata untuk menghujat kehidupan. Kehidupan? Apa yang salah dari kehidupan? Entah. Jujur, aku sendiri tak bisa mengurai satu-persatu kesalahannya, karena sebenarnya aku memang tak tahu.

Kehidupan ini mungkin kuanggap sebagai sebuah sistem yang kaku, tak dapat berubah. Aku pun selalu berdiri di tempat yang sama, memandang hidup ini dengan sinis. Aku tak percaya apa yang disebut dengan “positive thinking” atau “negative thinking”, semua itu kuanggap hanya sebuah cara menghindar dari kecemasan.

Agama selalu ingin kita memandang segala sesuatu sebagi yang terbaik yang diberikan tuhan kepada kita. Huh, apa itu yang terbaik? Mana yang terbaik? Dengan apa kita mendapatkan yang terbaik, semua itu ujung-ujungnya akan jatuh dalam pandangan relatif-subyektif. Karena itulah ketika aku bersikeras tentang sesuatu yang menurutku terbaik, orang lain juga bersikeras bahwa itu bukan yang terbaik. Siapa yang benar? Kalau kita kembalikan ukuran kebenaran kepada masing-masing individu, kita seperti kaum sofis di zaman yunani kuno. Bagaimana kita harus menyikapi hidup ini? Sepertinya ini adalah pertanyaan usang. Namun pada kenyataannya aku masih saja bingung menjalani hidup ini. Apakah aku sendirian dalam kebingungan ini? Selama ini ku pikir juga demikian. Tapi ternyata aku tidak sendiri. Banyak sekali orang bingung di zamanku ini. Aku menyadarinya saat kutemukan buku-buku swabantu yang dilempar ke pasar dan sangat laku. Buku-buku yang berisi “how to, how to dan how to” menunjukkan bahwa manusia sekarang banyak sekali yang tidak tahu tentang bagaimana menjadi manusia. Aneh.

Bagaimana bisa, kita yang sedemikian bangga dengan segala hasil olah pikir kita ini justru tidak mengerti cara manusia berpikir. Manusia zaman ini telah mampu meneliti benda-benda angkasa nun jauh di sana, ratusan ribu, bahkan jutaan kilometer dari bumi, tapi justru gagal mengetahui siapa dirinya.Training-training motivasi yang marak membuat dahi ini berkerut. Apakah manusia zaman ini telah sedemikian putus asa dalam kesibukannya membangun peradaban? Hhmm, membangun peradaban? Rasanya masih perlu dipertanyakan lagi, karena banyak orang yang tidak sadar bahwa segala kerja kerasnya dilakukan tidak lebih hanya untuk memuaskan hasratnya.

Fenomena-fenomena hari ini semakin menunjukkan bahwa sekarang kita sudah sedemikian terasing dari ajaran-ajaran agama. Kita beragama hanya sebatas pada pemenuhan kewajiban. Kita terjebak pada ritual-ritual semata, yang justru menjadikan tuhan sebagai berhala. Tuhan, aku tak mengerti apa yang ingin Kau tunjukkan sesudah ini.

Sejujurnya aku sedang malas menulis karena hatiku samasekali tak tergerak oleh sesuatu, akhirnya saat kupaksa, yang kulakukan hanya menyusun kalimat-kalimat yang kacau dan mengutuk kehidupan. Lebih tepatnya, Mengutuk diriku sendiri.


(Malam biasa, 9 Mei 2010)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis apa yang anda pikirkan terkait tulisan-tulisan saya