Sabtu, Januari 28, 2012

Pasar Malam

Lampu berjuta warna terangi langit malam...Suara tawa terdengar, membawa langkahku...Badut-badut dengan tingkahnya seolah sambut hadirku...Musik dan segala [...]
Baca Selengkapnya... → Pasar Malam

Selasa, Januari 24, 2012

Risau Malam

Oleh: Fariha IlyasMalam menyimpan sejuta kejahatanku rapat.Dalam peti-peti tua berkaratTarian iblis kutonton sendiriDan rasanya seperti bercerminAku diam, menatap genting yang tak jelasKarena lampu padamRencana-rencana sepertinya menjadi gugupTerserang imaji akan masa depan yang tak pasti datangDalam malam, dalam risau tak terlihatHanya ada alam dan diamPeti-peti yang lain kubukaMasa lalu saja isinyaTebal, tersusun acakTak seteratur ensiklopediaMalam menguak kekayaan pikirAda optimismeDan rasa khawatirMenghadapi [...]
Baca Selengkapnya... → Risau Malam

Mana Pintu Kamarku?

Oleh: Fariha IlyasDalam kamar kos yang tiga tahun lebih kuhuni --- dan anehnya tiga tahun itu hanya tinggal sebutan saja --- karena seperti nominal uang yang seberapapun besarnya tak akan berarti apa-apa jika kita bukan pemilik uang itu. Ya, tiga tahun lebih, itu hanya penjelasan saja soal waktu, apa rasa dari waktu selama tiga tahun lebih itu? Jawabannya adalah: tak ada rasa.Sebuah kipas angin kecil menengok ke arahku dan berkata: “Aku sering pusing”Tak kujawab keluhnya, karena bagiku ia kubeli [...]
Baca Selengkapnya... → Mana Pintu Kamarku?

Senin, Januari 23, 2012

Kenapa Kau Tak Mencintaiku Saja?

Oleh: Fariha Ilyas Tataplah matakuSejenak sajaSebelum keputusanSebelum tindakan Tataplah matakuDan temukanlah duniakuKau akan terhenyakKarena duniaku adalah samaDengan duniamu Kenapa tak kau tatap mataku?Kau takut menemukan bayang dirimu di sana?Kenapa kau buang pandanganmu dari mataku?Kau tak ingin kegamangan menyergapmu? Ya, Iblis tak pernah punya kekuatan saat menatap ketegaran manusia Karena Cinta pembunuhan adaKarena Cinta ketegaran tak binasaTapi apa arti ketegaran?Jika akhirnya jiwa [...]
Baca Selengkapnya... → Kenapa Kau Tak Mencintaiku Saja?

Buram

Oleh: Fariha Ilyas Rembulan akan buram semalamanKau percaya aku?Ya, buram semalamanRabun Saat itulah kita mestinya....... Melupakan hari-hari muram yang selama iniTanpa pernah berhenti menakut-nakutiMelumpuhkan, menjebak kita dalam ruang sempitMendesak, nyaris membuat kita mati terhimpit Saat itulah kita harusnya........ Bergandeng tangan, berjalan memutari taman dengan suka-citaSambil terus tersenyum, terus melangkah, menginjak-injak dukaJangan pikirkan lagi ancaman, atau gertak-gertakYang merenggut, [...]
Baca Selengkapnya... → Buram

Bendera Koyak

Oleh: Fariha Ilyas Sehelai bendera koyak-koyakBerkibar lincah di ujung tiang bambuSeorang tua berdiri dengan sikap hormat penuhIa seorang mantan prajurit, katanya sendiri Konon ia menjadi gila setelah ia dipecatKarena dituduh bekhianat pada negeriItulah tragedi hidupnya, juga konon katanyaIa bercerita tempo hari di warung kopi Siang terik, matahari memanggang apa sajaSetelah cangkulnya ia lepaskan dari genggamanIa pergi ke tanah kosong tempat berdirinya tiang bendera bambuIa menghormat kepada bendera [...]
Baca Selengkapnya... → Bendera Koyak

Dalam Sketsamu

Oleh: Fariha Ilyas Sketch by: Anonymous Merinding akuMembuka lembar-lembar lamaDari atas rak bukumuYang kau tinggal pergi berkelana Bergetar akuDan [...]
Baca Selengkapnya... → Dalam Sketsamu

Kucing-kucing dan Melodi Malam Sepi

Oleh: Fariha Ilyas "Rainy night scene" by Zerotwospirited Lampu-lampu kuning dan kota yang sepi malam iniDi gang-gang tak ada orangKota yang pulas dalam [...]
Baca Selengkapnya... → Kucing-kucing dan Melodi Malam Sepi

Resahku dalam Kereta

Oleh: Fariha Ilyas Kita bisa pergi sekarang!Katamu sambil melempar bukuDan mulailah kau berkemasTasmu kau penuhi dengan baju-baju Aku hanya bisa mengekor dibelakangmuDengan ragu-raguBahkan raguku tak sedikitpun berkurangSaat kau membeli tiket kereta Kau duduk di dengan tenangMengepulkan asap rokokYang telah berkali-kali keluar dari kotaknyaKereta belum saatnya tiba Aku memandangi tubuhmu yang kurusRambutmu yang mulai panjang tak rapiTapi segaris tarikan otot wajahmu menyiratkan apiAku tak selalu [...]
Baca Selengkapnya... → Resahku dalam Kereta

Menyanyilah, Adikku!

Oleh: Fariha Ilyas Menyanyilah adikku!Nyanyikan lagu kebangsaanmuDengan lantang, dengan tanpa raguBakarlah jiwamu dengan tekatAgar kelak bangsamu benar-benar bermartabat Menyanyilah, adikku!Kala mendaras rumus matematikaKala membaca sejarah bangsamu yang panjangKala bergulat dengan waktu yang lamaBelajar, belajar, demi kebodohan yang mesti hilang Menyanyilah, adikku!Dengan riangSepulang sekolah, kala siangMelompat-lompatlah, sambil berjalanHidupkan canda dengan lirik jenaka Menyanyilah, adikku!Sambil [...]
Baca Selengkapnya... → Menyanyilah, Adikku!

Tarian Kita

Oleh: Fariha Ilyas Di panggung ini, di panggung yang tak gemerlap iniKita pernah mencoba menariKakiku, kakimu, tanganku, tanganmuTubuhku, tubuhmu, lekat satu Kita mondar-mandir keliling panggungDalam indahnya gerakan kaki menghentakDan kedua tangan kita yang gemulaiYang diam-diam menunjuk hidung sang ilahi Tahukah mereka, bahwa kita tak hanya sedang menari?Kita tak hanya sedang mempertontonkan keindahan gerakTahukan mereka bahwa kita sedang mengirim isyarat?Kita berkoar, berteriak, tentang padunya [...]
Baca Selengkapnya... → Tarian Kita

Sore Ini

Oleh: Fariha Ilyas Di emperan toko tutupDengan kain di wajah terkerukupIa tidur, entah bermimpi atau tidakTak hirau pada ramai kota yang terus berdetakSore ini Pandanganku jatuh pada luka mengangaDi kaki kanannya yang tak terbaringkanEntah berapa bakteri di sanaTak ada daya di kepalaku untuk mengira, membayangkanSore ini Gerimis masih betah-betah sajaDan ia sama sekali tak berbahaya, untukkuTapi badai datang mengguncang nalar dan jiwaMerobohkan segala klaim atas kewarasankuSore ini Mengapa ada [...]
Baca Selengkapnya... → Sore Ini

Saat Hujan Tak Jua Reda

Oleh: Fariha Ilyas Biar saja....Biar saja ia tumpah hingga lelah sendiriBiar saja ia berlama-lamaTak usah peduli jika ia memangsa rakus masa Tak seluruhnya masa harus kita dakuSebagai milik, atau disediakan untuk kitaKita tak perlu merasa kehilangan waktu Saat hujan tak jua redaTak perlulah kita merasa kesempatan kita direnggutWaktu kita direbut oleh rintik hujanYang kadang keras, kadang lembut Adakah hujan sewenang-wenangMenghamburkan “waktu kita”?Atau kita tak pernah mau terimaBahwa sang waktu [...]
Baca Selengkapnya... → Saat Hujan Tak Jua Reda

Kamar Mandi

Oleh: Fariha Ilyas Tak pernah kujelaskan kenapa aku sering melangkah ke kamar mandiSaat hatiku resah, bimbang, atau pikiranku sedang butuh penjelasan Tak tahu kenapa aku selalu menuju kamar mandi setelah kau tutup pembicaaraan kita melalui telepon, atau saat aku mulai gelisah menunggu SMS balasanmu yang tak kunjung datang. Di kamar mandi aku sebenarnya hanya diamSebentar masuk lalu keluar kembali ke kamar Tak bisa kujelaskan apa-apa perihal kenapa aku tak ke tempat lain selain kamar mandiSaat [...]
Baca Selengkapnya... → Kamar Mandi

Pagi dan Dua Puisi

Oleh: Fariha Ilyas Dunia masih belum utuhDalam mata yang belum terbuka penuhSaat itulah mulai tertulis puisiMelengkapi duniaku yang nampak saat pagi Kutemukan sebuah pagiKurasakan kembali denyut nadiAku hidup, aku hidup, aku hidupMeski disambut pagi yang redup Puisi, puisi, puisiPagi dan puisiDan bagiku selalu ada dua puisi Puisi pertama adalah yang datangLebih lengkap dari duniaYang mendahului, mendahului, mendahuluiPengetahuanIa bertanya tentang gerakYang belum terpikirkan Puisi kedua datangSetelah [...]
Baca Selengkapnya... → Pagi dan Dua Puisi

Apa yang Dipikirkan oleh Peziarah Malam Ini?

Oleh: Fariha Ilyas - Apa yang dipikirkan oleh peziarah malam ini? + Pikiranku kepada sesuatu yang tak kupahami membuatku tetap terjaga, kulewatkan malam tanpa rasa, selain gundah yang memantik api neraka.. - Semoga kedamaian menyertaimu, ucapkanlah sepatah kata perpisahan kepada malam yang kau lewati dengan segudang pertanyaanmu... + Berikan sepatah katamu, untuk kujadikan pengganti lidahku yang kelu karena rindu kepada cinta yang lama sekali memunggungiku, cinta yang hilang dalam hasutan [...]
Baca Selengkapnya... → Apa yang Dipikirkan oleh Peziarah Malam Ini?

Musik Itu

Oleh: Fariha Ilyas Aku rindu kepada hijau, kepada dingin, kepada air. Sepanjang waktu lalu hidup kulalui dalam merah, dalam panasnya api. Bergegas aku pergi, saat mendung mulai menutupi matahari di atas kota ini. Kubelah angin jalanan dengan harap, dan kerinduan kepada hijau, kepada dingin, kepada air. Di salah satu celah perbukitan, kuturuni ratusan anak tangga yang berkelok, menuju rumah bagi damai yang kuharap akan kujumpai dan menyambutku dengan sepenuh pelukan yang tak egois, yang [...]
Baca Selengkapnya... → Musik Itu

Surat untuk Han (7): Dunia di Mata Kita

Oleh: Fariha Ilyas Belasan tahun lalu kau dan aku yang masih sama-sama menjadi manusia kecil: dengan tubuh dan suara kecil. Namun tidak dengan pikiran dan kemungkinan ruang gerak kita, Han. Kita adalah bocah yang berpikiran bebas, berkeinginan luas, penuh keberanian, meski orang-orang dewasa menyebut kita “belum berakal”. Kau tentu masih ingat tentang dunia dalam pandangan kita saat itu. Dunia bagi kita tak bersudut tajam, dunia adalah lekuk-lekuk yang membulat, tumpul, dan bersahabat. Pisau [...]
Baca Selengkapnya... → Surat untuk Han (7): Dunia di Mata Kita

Stasiun

Oleh: Fariha Ilyas pada suatu soreyang gelap, yang basah, yang hujantak ada kesusahan yang kurasa, tak jua kesenanganhanya penerimaan di jalan-jalanyang sedikit sepi, yang basah, yang tergenangitak ada senyum yang kulihat, tak jua tangishanya kuyup di stasiunyang ramai, yang sibuk, yang hiruk-pikukkutemui sebuah miniatur duniatak ada henti di stasiunpada saat yang sama, saat kereta tibaderit cakramnya tak seberapa kentaranamun ia menggetarkan hatisiapa yang datang dan akan pergi di stasiun-lah [...]
Baca Selengkapnya... → Stasiun

Ingatan Pagi

Oleh: Fariha Ilyas Tak akan lagi kusaksikan fajar seindah tadiTak akan lagi kutemukan komposisi serupaDi alam yang selalu berubah dalam setiap milisekonBahkan lebih rapat dari itu Tapi aku masih berharap melihatmu lagiDengan senyuman samaDengan pelukan dan ciuman yang samaMembalutku rapat, sampai aku tak nampak lagi Sambil saling mendekapKita selalu ingat saat-saat kita saling memunggungiMenjauh, meninggalkan, dan mencoba melupakanKita selalu saja ingat saat-saat itu Pagi ini, kupeluk kau di hadapan [...]
Baca Selengkapnya... → Ingatan Pagi

Seperti Biasa: Cinta

Oleh: Fariha Ilyas I wonder what's keeping my true love tonightI wonder what's keeping her out of my sightIt is little she knows of the pain that I endureOr she would not stay from me this night, I am sure (I wonder what's keeping my true love tonight, Kate Rusby) Sayangku, malam ini kudengarkan lagu yang asyik sekali. Kate Rusby, ya, suaranya yang menggerakkan batinku untuk kembali menulis, dan untuk mengingatmu lagi. Tapi tak hanya Kate Rusby saja, ada konser dua biola rekaan Vivaldi yang [...]
Baca Selengkapnya... → Seperti Biasa: Cinta

Malam Rembulan Purba

Oleh: Fariha Ilyas Sekarku sayang, banyak yang berubah di dunia ini, kamu pasti ngerti hal itu. Pohon-pohan banyak yang ditumbangkan, diganti dengan rumah, atau rumah-rumah dibongkar diganti dengan gedung, atau yang semula sawah menjadi gudang, atau SPBU tentu saja. Kamu pasti pernah merasakan apa yang kurasakan saat tiba-tiba ada rasa kangen dengan sebuah bangunan, atau pohon, atau gedung sekolah, atau seseorang barangkali. Lalu kita mencari. Tapi ternyata yang kita dapatkan bukan lagi [...]
Baca Selengkapnya... → Malam Rembulan Purba

Surakarta dan Buku Lama Ayah

Oleh: Fariha Ilyas Buku itu bertanggal 12 November 1992, bersamaan dengan masa saat aku masih belum bisa bernyanyi dengan benar lagu “Aku Seorang Kapiten” di Taman Kanak-kanak. Buku itu adalah buku tentang Raden Ngabehi Ronggowarsito, Pujangga Kraton Surakarta yang terakhir. Buku itu milik Ayah. Entah kapan aku mulai membacanya, lama sekali rasanya. Yang kuingat adalah bahwa aku tak sekali –dua kali membacanya. Terlalu sering. Tak sedikit yang masih melekat isinya, salah satu kata di dalamnya [...]
Baca Selengkapnya... → Surakarta dan Buku Lama Ayah

Desember-Desember

Oleh: Fariha Ilyas Entah apa yang dibawa Desember pada dunia. Entah kenapa Desember selalu saja tiba di sini dengan murung, malu-malu, dan sedikit basah. Tak seperti di belahan bumi utara bahwa desember adalah “Bulan Suci”. Disini Desember tak menyandang status apa-apa. Sama saja dengan Januari, Februari, hingga November. Desember sesungguhnya tak pernah ada tanpa kita. Desember adalah ciptaan kita sendiri. Dan parahnya, Desember sepertinya membuat kita sendiri lupa bahwa hidup tak pernah [...]
Baca Selengkapnya... → Desember-Desember

Ballerina: Antara Aku, Degas, dan Nietzsche

Oleh: Fariha Ilyas Edgar Degas. Image L'etoile [La danseuse sur la scene] (The Star [Dancer on Stage]) 1878; Pastel on paper, 60 x 44 cm (23 5/8 x 17 [...]
Baca Selengkapnya... → Ballerina: Antara Aku, Degas, dan Nietzsche

SEBUAH PERJUMPAAN (3)

Oleh: Fariha Ilyas Aku Seorang Pecundang Petang ini Han, Sekar, Laras, dan Kembara tiba-tiba mendatangiku. Mereka mengerumuniku seperti aku adalah bagian dari pertunjukan topeng monyet, dan jelas, aku lah monyetnya. Ini tak biasa, pikirku. Tak mengapa, memang setelah kupikir-pikir hidupku serupa dengan pertunjukan topeng monyet yang sekarang mulai terpinggirkan. Hidupku pun tak pernah mendapat tempat di zaman yang penuh dengan warna ini. Hidupku tak beda dengan drama-drama lama yang buram. [...]
Baca Selengkapnya... → SEBUAH PERJUMPAAN (3)

Cinta adalah Anak Yatim Piatu

Oleh: Fariha Ilyas I Cinta, aku adalah orang yang lama mengenalmu, aku selalu ingat itu. Aku selalu ingat saat kau datang menepuk bahuku dengan sebuah perasaan tak biasa. Sejak saat itu kita tak terpisahkan lagi, kau selalu mengikutiku ke manapun aku melangkah, kau menungguiku saat aku mencipta puisi, saat aku resah, saat aku marah. Sesekali kau goda aku dengan rindu yang sakit. Sesekali kau suntik aku dengan harapan yang membuatku mampu melampaui diriku sendiri. Cinta, masa-masa itu adalah [...]
Baca Selengkapnya... → Cinta adalah Anak Yatim Piatu

Biasanya

Oleh: Fariha Ilyas Sekar............Biasanya malam seperti ini masih sempat bagi kita untuk bercanda, dengan pesan singkat yang sering-sering didominasi pesanku yang ternyata tak singkat. Entah apa yang membuat kita betah melakukan rutinitas itu, sejak dulu. Biasanya canda itu bercampur angan-angan yang jauh, yang kita sendiri tak yakin tentangnya. Tapi itulah cara kita bermimpi sebelum kita benar-benar tidur dan benar-benar bermimpi. Itulah kita, aku menduga bahwa itu terjadi karena kita [...]
Baca Selengkapnya... → Biasanya

Tempat Tak Bernama

Oleh: Fariha Ilyas Desau angin tak kuhiraukan. Letih kakiku tak sempat lagi ditanggapi oleh otakku. Kerongkonganku kering, bibirku mulai terasa kasap, itu juga tak dipedulikan otakku. Otakku hanya mau aku terus berjalan, terus saja. Tak boleh ada tujuan. Otakku tak tahu apa yang ia pikirkan sendiri, karena dia makhluk paling sok di dunia. Ia telaten memikirkan hidupku yang berisi ingin, ingin, dan ingin. Ia sabar mencarikanku jalan keluar dari masalah-masalah yang tak kunjung berhenti bertamu--dan [...]
Baca Selengkapnya... → Tempat Tak Bernama

SMS Kawan Imaji

Oleh: Fariha Ilyas Kembara (aku) tanda (+)Laras tanda (-) I+ hey, lg ngpain?- mencoba untk tdur+ owh...- bar, mlm in q gbs tdur kyknya+ knp emg?- udaranya trllu pnas bwt tdur+ gmana klo qt jln2 k luar? cri angin gt lah..- dluar jg gk da angin deh kyknya..+ y mkanya qt jalan, naek mtor, biar kerasa ada angin..- nggk ah, d luar jg pling2 sm panasnya, huh...gk tau kpn udara panas ini enyah dr kmrku!+ itulah, mknnya yuk jln2, pnas yg diem lebih mnyiksa drpada yg cm lwat, hehehehe..- hhmmm... + eh, [...]
Baca Selengkapnya... → SMS Kawan Imaji

Lalu Kata

Oleh: Fariha Ilyas Saat gerimis masih belum bosan di luar sana: Aku ingin bercerita tentang luka, yang gurih wangiYang darinya muncul kata tak hentiGila, aku keranjingan pada kataWalau ia sering tak datang segera Aku bangun sore ini, seperti tadi pagi: Ya, tak ada kata awalnyaHanya suaraKemudian warna Lalu kata Ia menyerobot, mendesak, memaksaMenempati pikiranku sesukanyaTak tercegah karena ia terlampau gagahTak henti karena ia tak bisa mati Hanya kata dalam kepalaMengukir segala nyataEntah kapan [...]
Baca Selengkapnya... → Lalu Kata

Bukan Karena Tuhan Cengeng

Oleh: Fariha Ilyas Tak ada yang sepenuhnya terduga. Hidup selalu memiliki sisi yang tak terjamah perkiraan. Kalaupun kita merasa mampu menduga suatu peristiwa, kita tak pernah dapat memastikan sikap kita jika benar-benar menghadapinya. (Han) Jika diperbolehkan bagiku untuk membagi beberapa hal yang sempat lewat dalam pemahaman yang selalu berubah ini, maka tak salah kiranya kutuliskan beberapa hal sejauh yang mampu kumengerti dalam perjalanan hidup yang sudah seperempat abad ini. Bisa jadi [...]
Baca Selengkapnya... → Bukan Karena Tuhan Cengeng