BREAKING

Saturday, 28 January 2012

Pasar Malam




Lampu berjuta warna terangi langit malam...
Suara tawa terdengar, membawa langkahku...
Badut-badut dengan tingkahnya seolah sambut hadirku...
Musik dan segala permainan, membuat senang semua...

Gadis kecil berlari membawa kembang gula dan boneka...
Sepasang remaja sedang bertengkar, sedih raut wajahnya...
Komedi putar dengan kudanya, bermacam jajanan ada disana...
Panggung boneka dan kisahnya, menampilkan cerita kita...
Semua yang ku lihat bagai gambaran hidup kita...

Malam telah larut...
Ramaipun tlah hilang...
Ku langkahkan kaki untuk kembali...
Ku kembali pulang...

(Carnaval, Base Jam)


Senangnya nemu lagu ini lagi, sebuah lagu yang bagus sekali tentang suasana pasar malam yang ramai dan dinamis, pasar malam yang akrab dengan dunia kanak-kanakku. Ya betapa hebatnya sebuah lagu, yang walau kadang terlupakan, namun selalu mampu menghadirkan kenangan yang nyaris utuh tentang suatu masa. Lagu bagiku berfungsi semacam password untuk memanggil sepaket ingatan.

Sebuah perayaan tahunan kembali meramaikan kota ini, beberapa kali aku melintasi keramaiannya, dan sungguh, selalu saja segala keramaian itu mendorongku mundur, menempatkanku pada sebuah titik di mana masa ini dapat kupandang dari belakang.

Barangkali banyak yang akan merasakan hal sama -suatu perasaan nostalgia- kau juga, saat melihat deretan celengan dari gerabah berbentuk kuda, kancil, harimau. Saat melihat gula kapas berwarna merah muda yang bergantungan dalam plastik-plastik yang menggembung. Di keramaian itu juga masih banyak lagi beraneka rupa makanan, permainan, yang pernah akrab dengan kita yang kecil, kita yang bocah.

Yups, begitulah biasanya saat aku menemui sepaket kenangan masa lalu, rasanya seperti ingin menemui diriku sendiri yang bocah itu, dan awalnya aku merasa yakin bahwa diriku ada di sana, dalam ramai pasar malam, barangkali juga ada kau di sana. Kenapa pasar malam?

Aku teringat sekilas ceritamu, saat kau masih bocah kau diantar ayah ibumu ke pasar malam, mereka menemanimu di sana. Ya, pasar malam adalah hal yang sama-sama kita sukai, suatu kesamaan kecil dari masa kecil kita yang berbeda karena aku adalah pensiunan anak-laki-lak, dan kau adalah mantan anak perempuan. Senang aku membayangkan kita yang bocah bertemu di pasar malam, sama-sama berjalan riang diiringi ayah ibu yang yang menggandeng tangan kita. Indah sekali masa itu ya, dan seperti biasanya kita baru menyadari keindahannya saat kita melihatnya dari sini, dengan menengok ke belakang. Hhmm....

Lagu dari Base Jam itu rasanya lebih dari cukup untuk menceritakan banyak hal. Karena setiap kita telah memiliki banyak cerita tentang pasar malam.

Sekarang cobalah kau pergi ke pasar malam itu, siapa tahu kau temui dirimu di sana, dan bisa jadi kau akan menemukan jiwa kecilku di sana.








Tuesday, 24 January 2012

Risau Malam

Oleh: Fariha Ilyas



Malam menyimpan sejuta kejahatanku rapat.
Dalam peti-peti tua berkarat
Tarian iblis kutonton sendiri
Dan rasanya seperti bercermin

Aku diam, menatap genting yang tak jelas
Karena lampu padam
Rencana-rencana sepertinya menjadi gugup
Terserang imaji akan masa depan yang tak pasti datang

Dalam malam, dalam risau tak terlihat
Hanya ada alam dan diam

Peti-peti yang lain kubuka
Masa lalu saja isinya
Tebal, tersusun acak
Tak seteratur ensiklopedia

Malam menguak kekayaan pikir
Ada optimisme
Dan rasa khawatir
Menghadapi bentang takdir



(Malam sakit, sepi. Madiun, 12 Januari 2012)

Mana Pintu Kamarku?

Oleh: Fariha Ilyas




Dalam kamar kos yang tiga tahun lebih kuhuni --- dan anehnya tiga tahun itu hanya tinggal sebutan saja --- karena seperti nominal uang yang seberapapun besarnya tak akan berarti apa-apa jika kita bukan pemilik uang itu. Ya, tiga tahun lebih, itu hanya penjelasan saja soal waktu, apa rasa dari waktu selama tiga tahun lebih itu? Jawabannya adalah: tak ada rasa.

Sebuah kipas angin kecil menengok ke arahku dan berkata: “Aku sering pusing”

Tak kujawab keluhnya, karena bagiku ia kubeli untuk selalu bersedia pusing untukku, demi mengurangi rasa gerah di kamar ini saat siang begitu panasnya. Kipas angin itu diam saja karena sembari tetap diam aku ganti melotot kepadanya.

Lalu ada sebuah helm ganti berkata: “Kau orang yang besar kepala, aku hampir sesak nafas membungkus kepalamu itu”

Bangsat, sejak kapan helm bisa mengerti majas, dan lebih keparatnya, majas itu dipakai untuk menyindirku.

Ah, ia hanya ingin memancing emosiku barangkali. Karena itulah ia tak kutanggapi.

Ada sekotak tissue yang lunglai salah satu lembarnya yang menjulur keluar, dan berkata: “Kau lemah sekali, lunglai, seperti aku”

Hhmm, rupanya malam ini benda-benda sialan itu sedang bersekongkol mengejekku. Oke, baiklah kipas angin, baiklah helmku, baiklah sang tissue. Nampaknya malam ini kami perlu diskusi lebih intens, supaya kami mencapai kata sepakat tentang bagaimana hubungan kami ini akan dirumuskan kembali. Karena esok kami mesti menjalani kehidupan ini bersama-sama, sesuai tugas dan fungsi kami masing-masing.

Malam ini akhirnya ada sebuah pertemuan penting antara aku dengan kipas angin, helm, sekotak tissue, buku-buku, bros kupu-kupu, sapu lantai, kertas-kertas bekas, plastik, gelas, kaset-kaset.....

Ah, sial! Mereka terlalu dominan, dan karena mereka tahu aku sedang tak terlalu punya greget meladeni ocehan mereka, mereka beramai-ramai mengintimidasi, memakiku.

“kamu itu bla bla bla........!”

“kamu kurang a, b, c, d, e, .......!”

Riuh sekali, kepalaku berputar-putar tak karuan, telingaku pekak mendengar ocehan-ocehan ramai tak berjeda. Seperti pasar malam, yang penuh anak-anak dan musik yang diputar, penyemarak suasana? Atau pengacau suasana?

Kepalaku berputar-putar, ada sapu melotot, kipas angin yang bergeleng tak puas, sekotak tissue yang melirikku culas, buku-buku yang mengejek.....

Aku ingin lari, tapi aku tak tahu lagi di mana pintu kamarku...




(Malam. Surakarta, 11 Januari 2012)

Monday, 23 January 2012

Kenapa Kau Tak Mencintaiku Saja?

Oleh: Fariha Ilyas


Tataplah mataku

Sejenak saja

Sebelum keputusan

Sebelum tindakan


Tataplah mataku

Dan temukanlah duniaku

Kau akan terhenyak

Karena duniaku adalah sama

Dengan duniamu


Kenapa tak kau tatap mataku?

Kau takut menemukan bayang dirimu di sana?

Kenapa kau buang pandanganmu dari mataku?

Kau tak ingin kegamangan menyergapmu?


Ya, Iblis tak pernah punya kekuatan saat menatap ketegaran manusia


Karena Cinta pembunuhan ada

Karena Cinta ketegaran tak binasa

Tapi apa arti ketegaran?

Jika akhirnya jiwa harus tinggalkan dunia

Dengan paksa

Kenapa kau tak mencintaiku saja?


Cinta adalah nyawa

Tapi seperti cinta

Kebencian dan angkara

Sulit dimusnahkan

Dari benak manusia


Karena ia juga punya nyawanya sendiri


(Malam. Surakarta, 10 Januari 2012)

Buram

Oleh: Fariha Ilyas


Rembulan akan buram semalaman

Kau percaya aku?

Ya, buram semalaman

Rabun


Saat itulah kita mestinya.......


Melupakan hari-hari muram yang selama ini

Tanpa pernah berhenti menakut-nakuti

Melumpuhkan, menjebak kita dalam ruang sempit

Mendesak, nyaris membuat kita mati terhimpit


Saat itulah kita harusnya........


Bergandeng tangan, berjalan memutari taman dengan suka-cita

Sambil terus tersenyum, terus melangkah, menginjak-injak duka

Jangan pikirkan lagi ancaman, atau gertak-gertak

Yang merenggut, memaksa, merusak


Saat rembulan buram semalaman

Setelah berkeliling taman

Setelah bergandeng tangan

Setelah duka binasa


Saat itu kita selayaknya........


Berpelukan di simpang jalan

Menangis untuk yang terakhir kalinya

Dan sama-sama melepaskan diri dari apa yang kita ingini selama ini

Kukecup kau dalam segala rela


Tanpa sentuhan lagi

Tanpa kata-kata lagi


Suatu malam, sepanjang malam itu

Rembulan akan menjadi buram

Kau percaya aku?

Percayalah


Karena malam ini rembulan sudah

Ia buram, semalaman

Menurut titah


Tapi kita tak ada di taman

Di ujung jalan

Berpelukan


Kita tak diseret waktu

Untuk saling bertemu

Saat sang saksi peristiwa malam

Menjadi buram


(Dini hari. Surakarta, 9 Januari 2012)

Bendera Koyak

Oleh: Fariha Ilyas


Sehelai bendera koyak-koyak

Berkibar lincah di ujung tiang bambu

Seorang tua berdiri dengan sikap hormat penuh

Ia seorang mantan prajurit, katanya sendiri


Konon ia menjadi gila setelah ia dipecat

Karena dituduh bekhianat pada negeri

Itulah tragedi hidupnya, juga konon katanya

Ia bercerita tempo hari di warung kopi


Siang terik, matahari memanggang apa saja

Setelah cangkulnya ia lepaskan dari genggaman

Ia pergi ke tanah kosong tempat berdirinya tiang bendera bambu

Ia menghormat kepada bendera lusuh itu


Entah apa isi kepalanya

Karena ia mantan prajurit?

Karena ia cinta negeri?

Sepertinya tidak, bukan


Karena bendera itu bukan bendera negeri ini

Bendera itu hanyalah sepotong kain lusuh dan koyak

Aku hanya menebak saja

Mungkin itu bekas kain istrinya


Karena toh orang bebas menghormati

Dan menghargai apa saja

Yang memang punya nilai istimewa

Dalam hati sanubarinya


Hari-hari selanjutnya

Ia masih saja menghormat

Seperti biasa

Di sela-sela sibuk kerjanya

Walau kain itu

Telah kulepas

Kucuri

Untuk mengerti

Apakah ia waras

Atau gila

Sepertiku


(Malam. Surakarta, 8 Januari 2012)

Dalam Sketsamu

Oleh: Fariha Ilyas


Sketch by: Anonymous


Merinding aku

Membuka lembar-lembar lama

Dari atas rak bukumu

Yang kau tinggal pergi berkelana


Bergetar aku

Dan malu menemukan aku yang selalu ragu

Menjalani hidup

Dengan terus saja maju mundur, selalu


Kau berbeda

Sketsa dengan tinta hitam yang mengatakannya

Tak tersimpan ragu di sana

Yang ada hanya gelora


Lugas caramu

Cepat, kau bertarung melawan waktu

Kau berpacu dengan kesan yang cepat sekali berlalu

Semuanya sempurna, dalam sketsamu


Dalam sketsamu ada jalan hidup

Yang kau pilih

Yang kau tempuh senyatanya

Dalam hidup penuh impresi


Tak lama, tak lama

Secepat yang kubayangkan tentang sketsa dengan tinta hitam

Yang dengan cepatnya menohok pikirku, menghantam

Ada yang salah, sepertinya


Dalam caraku

Dalam langkahku

Dalam pikirku


Semua terjelaskan

Dalam sketsamu


(Malam. Surakarta, 8 Januari 2012)

Kucing-kucing dan Melodi Malam Sepi

Oleh: Fariha Ilyas


"Rainy night scene" by Zerotwospirited


Lampu-lampu kuning dan kota yang sepi malam ini

Di gang-gang tak ada orang

Kota yang pulas dalam selimutnya yang melelapkan

Kota yang selalu kuakrabi waktu malam


Dalam langkah-langkah biasa

Sampailah aku di ujung salah satu gang

Dengan duduk bersandar pada tembok tua itu

Ia meniupkan melodi-melodi malam


Ia kawanku, kawan yang tak kukenal

Namun seringkali mengakrabiku

Dengan melodi-melodi malam sepi

Yang bicara sendiri dengan liukan nada-nadanya


Seekor kucing melintas di depanku

Entah ke mana ia akan pergi

Tak nampak lagi setelah melompat di balik pot-pot tanaman

Yang tertata di halaman sebuah rumah


Melodi-melodi malam berganti

Ia makin lama makin panjang

Makin meliuk suram

Melengkapi kuningnya kota


Kawan yang tak kukenal semakin asyik saja rupanya

Menabur nada-nada dalam sendirinya

Tak peduli aku ada atau berlalu

Ia tetap senang meniup lagu sendu


Aku melangkah berbalik arah, menuju jalan besar

Diiringi melodi malam yang lamat-lamat terdengar

Melambari langkahku dengan cerita yang tersembunyi

Yang hanya sang peniup harmonika yang mengerti


Seekor kucing melintas di depanku

Entah ke mana ia akan pergi

Ia bukan kucing yang tadi

Aku tak ingin memikirkannya lagi


Tapi seekor kucing melintas lagi

Dengan mata yang berkilat

Berjalan pelan

Entah ke mana


Lalu seekor lagi melintas

Seekor lagi

Seekor lagi

Banyak sekali


Apakah ini mimpi?

Ke mana kucing-kucing itu pergi?

Di malam dingin dan sepi begini

Bagiku yang sok tahu tentang pikiran kucing

Lebih baik tidur mendengkur hingga pagi


Tapi kucing-kucing juga punya agenda sendiri

Sepertiku juga barangkali

Yang selalu senang menyusuri malam

Yang membius kota setelah hujan


Barangkali kucing-kucing itu

Sedang membuat pesta

Atau semacam pertemuan penting

Yang membahas soal-soal hidup mereka


Ah, aku hanya berhayal tentang kucing-kucing kota


Melodi malam semakin lirih

Walau masih mengiris perih


Kucing-kucing kota

Lampu kuning

Aku

Kawan yang tak kukenal

Harmonika

Nada-nada

Aku terbius selimut malam

Di kota sepi

Setelah hujan

Kesadaranku tinggal separuh

Selebihnya

Hanya hayal

Membangun kenyataan yang tak utuh



(Malam. Surakarta, 8 Januari 2012)

Resahku dalam Kereta

Oleh: Fariha Ilyas


Kita bisa pergi sekarang!

Katamu sambil melempar buku

Dan mulailah kau berkemas

Tasmu kau penuhi dengan baju-baju


Aku hanya bisa mengekor dibelakangmu

Dengan ragu-ragu

Bahkan raguku tak sedikitpun berkurang

Saat kau membeli tiket kereta


Kau duduk di dengan tenang

Mengepulkan asap rokok

Yang telah berkali-kali keluar dari kotaknya

Kereta belum saatnya tiba


Aku memandangi tubuhmu yang kurus

Rambutmu yang mulai panjang tak rapi

Tapi segaris tarikan otot wajahmu menyiratkan api

Aku tak selalu mengerti, api apakah itu


Kereta tiba

Kau langsung duduk di sisi dekat jendela

Aku bersandar di bahumu

Melihat rumah-rumah yang berdesak di kota

Dan sawah yang luas di desa-desa


Indahnya perjalanan ini, sebenarnya

Namun aku sedikit bimbang, juga sebenarnya

Sudah terlalu lama kita pergi tanpa tujuan

Walau kau nampak tegas saat membeli tiket tadi


Di sana, katamu, akan ada kejutan untuk kita

Di sana, katamu, selalu ada sambutan hangat untuk kita

Namun aku masih bimbang, terlalu sering ucapmu begitu

Dan tak selalu tenangkan hatiku yang meragu


Kau tertidur, dalam deru kereta

Malam sudah pekat, sepekat segelas plastik kopi

Yang mulai dingin di genggamanku

Aku menatap wajahmu


Tak ada lagi api di sana


Sayang, aku selau suka melihatmu tertidur

Kau pasti sedang dalam dunia yang tak menyakitkan

Kalaupun kau terjebak di sana, itu hanya mimpi yang semu dan kabur

Di sinilah mimpimu yang sebenarnya, dalam kenyataan


Mimpi itu menjadi gemuruh di kepalamu

Layaknya deru mesin kereta yang membawa kita

Sayang, mimpi itu kadang perlu kau lupakan

Seperti kau melempar buku sebelum kita berangkat tadi


Lempar saja, tinggalkan mimpi-mimpi itu

Dan tidurlah seperti sekarang

Aku ingin kau selalu tertidur

Dalam lupa, dalam hilang, dalam deru kereta yang tak ada artinya


Malam habis, kereta masih menderu

Aku terjaga semalaman, di sampingmu

Fajar menggeliat dalam warnanya yang memikat

Aku lega, tak lama lagi kita tiba


Kota kecil yang unik, katamu

Ah, kau selalu bisa merayuku

Sedang aku tetap bimbang dan ragu, kau tahu?

Aku selalu bertanya: sebenarnya ke mana aku hendak kau bawa?



(Setelah maghrib. Surakarta, 8 Januari 2012)

Menyanyilah, Adikku!

Oleh: Fariha Ilyas


Menyanyilah adikku!

Nyanyikan lagu kebangsaanmu

Dengan lantang, dengan tanpa ragu

Bakarlah jiwamu dengan tekat

Agar kelak bangsamu benar-benar bermartabat


Menyanyilah, adikku!

Kala mendaras rumus matematika

Kala membaca sejarah bangsamu yang panjang

Kala bergulat dengan waktu yang lama

Belajar, belajar, demi kebodohan yang mesti hilang


Menyanyilah, adikku!

Dengan riang

Sepulang sekolah, kala siang

Melompat-lompatlah, sambil berjalan

Hidupkan canda dengan lirik jenaka


Menyanyilah, adikku!

Sambil menenteng sepasang sepatumu

Karena air menggenang di jalanan

Karena hujan tak pernah liburan

Karena kau memang harus selalu bernyanyi


Menyayilah, adikku!

Saat kau gagal, dan tak lulus ujian sekolah

Karena bukan berarti kau kalah

Dan jangan semua itu membuatmu lelah

Apalagi menunjuk dirimu sendiri dengan sebutan “lemah”


Menyanyilah, adikku!

Karena kau memang harus selalu menyanyi

Kakakmu orang dewasa telah kehabisan nada

Kakakmu lebih sering peka terhadap luka hidup

Hingga perasaan keindahan kakakmu tertutup


Menyanyilah, adikku!

Jangan hiraukan kakakmu, orang dewasa

Kakakmu hanyalah manusia dosa

Menyanyilah, dengan memuji semesta, dalam dukamu!

Karena kau memang harus menyanyi


Sedang kakakmu membentak dan meneriaki dunianya

Dengan amarah dan kalimat-kalimat manusia murka

Menyanyilah! karena dengan menyanyi kau selalu ada

Untukku, kakakmu


Menyanyilah! karena nyanyianmu membasuh luka-luka

Lukaku, luka sanak saudara kita, luka bangsa



(Petang hari. Surakarta, 8 Januari 2012)

Tarian Kita

Oleh: Fariha Ilyas


Di panggung ini, di panggung yang tak gemerlap ini

Kita pernah mencoba menari

Kakiku, kakimu, tanganku, tanganmu

Tubuhku, tubuhmu, lekat satu


Kita mondar-mandir keliling panggung

Dalam indahnya gerakan kaki menghentak

Dan kedua tangan kita yang gemulai

Yang diam-diam menunjuk hidung sang ilahi


Tahukah mereka, bahwa kita tak hanya sedang menari?

Kita tak hanya sedang mempertontonkan keindahan gerak

Tahukan mereka bahwa kita sedang mengirim isyarat?

Kita berkoar, berteriak, tentang padunya hati kita


Mereka, penonton itu, hanya suka

Pada gerak gemulai kita

Tak ada yang mengerti kenapa

Kita terus saja menari

Setelah jauh mereka pergi


Panggung sepi, hanya tinggal kita berdua

Kelelahan, nyaris roboh


Aku memelukmu, memegang tanganmu

Kugerakkan pelan


Tanganmu lemas

Tapi di tengah segalanya

Di titik terendah, tersunyi itu

Kita tetap menari


Lemas, lemah, tak ada hentak-hentak

Tak ada lagi musik pengiring

Tak ada lagi apa-apa

Tak juga kita


Hanya tarian

Pelan


Jauh di keramaian sana

Riuh rendah orang bicara

Jelas, bukan tentang kita


Atau

Tarian

Atau

Kita yang tak ada



(Dini hari. Surakarta 6 Januari 2012)

Sore Ini

Oleh: Fariha Ilyas


Di emperan toko tutup

Dengan kain di wajah terkerukup

Ia tidur, entah bermimpi atau tidak

Tak hirau pada ramai kota yang terus berdetak

Sore ini


Pandanganku jatuh pada luka menganga

Di kaki kanannya yang tak terbaringkan

Entah berapa bakteri di sana

Tak ada daya di kepalaku untuk mengira, membayangkan

Sore ini


Gerimis masih betah-betah saja

Dan ia sama sekali tak berbahaya, untukku

Tapi badai datang mengguncang nalar dan jiwa

Merobohkan segala klaim atas kewarasanku

Sore ini


Mengapa ada jarak yang demikian lebar

Antara indera, nurani, dan nalar

Di jarak itu penuh ketakutan menipu

Yang menindas habis kesadaran atas kewajibanku

Sore ini


Dalam diri yang rumit inilah kutemukan banyak masalah

Sebuah pergulatan elegan nan tolol

Antara keinginanku dengan kehendak Allah

Aku berlalu dengan hati dongkol

Sore ini


Di atas motorku yang melaju pelan

Bayang-bayang luka itu tetap saja enggan

Luka itu tak di kakiknya, bukan

Luka itu ada, selalu ada dalam ingatan

Sore ini


Esok

Lusa

Selamanya


Luka itu lukaku

Luka itu bodohku

Luka itu ketakwarasanku

Luka itu semenjijikkan sikapku


Pada yang tidur

Dengan luka menganga

Di kaki kanannya

Sore ini



(Sore gerimis. Surakarta, 6 Januari 2012)

Saat Hujan Tak Jua Reda

Oleh: Fariha Ilyas


Biar saja....

Biar saja ia tumpah hingga lelah sendiri

Biar saja ia berlama-lama

Tak usah peduli jika ia memangsa rakus masa


Tak seluruhnya masa harus kita daku

Sebagai milik, atau disediakan untuk kita

Kita tak perlu merasa kehilangan waktu


Saat hujan tak jua reda

Tak perlulah kita merasa kesempatan kita direnggut

Waktu kita direbut oleh rintik hujan

Yang kadang keras, kadang lembut


Adakah hujan sewenang-wenang

Menghamburkan “waktu kita”?

Atau kita tak pernah mau terima

Bahwa sang waktu sendiri

Yang mempersilakan hujan memangsanya?


Saat hujan tak jua reda, barangkali

Sang waktu ingin

Kita melahapnya

Dengan cara berbeda


Sang waktu, barangkali

Ingin kita memantik baris puisi

Atau menyalakan karya-karya hayali


Saat hujan tak jua reda

Sang waktu tetap menghamparkan

Sajian beraneka rupa

Mungkin kita saja

Yang sering-sering

Tak doyan melahapnya



(Madiun, 1 Januari 2012)

Kamar Mandi

Oleh: Fariha Ilyas

Tak pernah kujelaskan kenapa aku sering melangkah ke kamar mandi

Saat hatiku resah, bimbang, atau pikiranku sedang butuh penjelasan

Tak tahu kenapa aku selalu menuju kamar mandi setelah kau tutup pembicaaraan kita melalui telepon, atau saat aku mulai gelisah menunggu SMS balasanmu yang tak kunjung datang.

Di kamar mandi aku sebenarnya hanya diam

Sebentar masuk lalu keluar kembali ke kamar

Tak bisa kujelaskan apa-apa perihal kenapa aku tak ke tempat lain selain kamar mandi

Saat aku merasa butuh ruang untuk merasakan benar-benar apa yang sedang terjadi di benakku

Mungkin karena kamar mandi selalu sepi, sejuk, lembab

Seperti hawa lereng gunung yang menenangkan

Atau mungkin di kamar mandi tuhanku meringkuk

Menantiku resah

Dalam air, dalam lembab, dalam pikir.

(Pagi, 5 Januari 2012)

Pagi dan Dua Puisi

Oleh: Fariha Ilyas


Dunia masih belum utuh

Dalam mata yang belum terbuka penuh

Saat itulah mulai tertulis puisi

Melengkapi duniaku yang nampak saat pagi


Kutemukan sebuah pagi

Kurasakan kembali denyut nadi

Aku hidup, aku hidup, aku hidup

Meski disambut pagi yang redup


Puisi, puisi, puisi

Pagi dan puisi

Dan bagiku selalu ada dua puisi


Puisi pertama adalah yang datang

Lebih lengkap dari dunia

Yang mendahului, mendahului, mendahului

Pengetahuan

Ia bertanya tentang gerak

Yang belum terpikirkan


Puisi kedua datang

Setelah pergulatan

Ia bertanya, bertanya, bertanya

Berontak

Mengobrak-abrik pengalaman

Ia ganas dan sadis

Tapi tak mencipta gambaran

Akan masa depan



(Madiun, 1 Januari 2012)

Apa yang Dipikirkan oleh Peziarah Malam Ini?

Oleh: Fariha Ilyas

- Apa yang dipikirkan oleh peziarah malam ini?

+ Pikiranku kepada sesuatu yang tak kupahami membuatku tetap terjaga, kulewatkan malam tanpa rasa, selain gundah yang memantik api neraka..

- Semoga kedamaian menyertaimu, ucapkanlah sepatah kata perpisahan kepada malam yang kau lewati dengan segudang pertanyaanmu...

+ Berikan sepatah katamu, untuk kujadikan pengganti lidahku yang kelu karena rindu kepada cinta yang lama sekali memunggungiku, cinta yang hilang dalam hasutan malam...

- Apalah arti ucapku kepada malam yang kau musuhi? jika kau sendiri tak pernah bernyali untuk mengatakan isi hatimu kepada sang penguasa malam...

+ Kau tak pernah tahu seberapa kuat belenggu ini mencegahku untuk bergerak, atau sekedar menggunakan lisanku, namun cinta membuatku mampu menahan siksaan ini, entah sampai kapan, aku tak pernah yakin..

- Aku pun telah lama mengarungi masa pedih dengan linangan air mata yang tak kunjung mengering hingga habis batas kesabaranku, namun semuanya akan berlalu dalam gulungan waktu yang perkasa, yang membawa obat untuk luka-lukaku..

+ Jika benar apa yang kau katakan, akan kuucapkan selamat tinggal pada malam panjang yang lenyap digeser pagi yang pasti. Juga kepada cinta yang pada akhirnya benar-benar menghancurkan..

- Jangan salahkan cinta, jika ia hanya kau jadikan bunga di saat-saat berkabungmu pagi ini, biarkan saja ia tumbuh di tempat yang semestinya. Jangan kau pisahkan rembulan dari malam, atau mawar dari duri-durinya...

+ Aku tidak setuju dengan mereka yang memuja cinta, hingga aku mencicipi kepahitan dan kemanisannya..

- Jangan kau masuki golongan orang yang enggan bersandar kepada pohon kebesaran, di mana setiap jiwa berteduh dan sejenak mati dari rasa...

+ Mungkin ini adalah akhir dari ziarahku ke tempat-tempat suci yang tak kukenali, dan kuucapkan salam perpisahan kepadamu, kawan yang selalu muncul dalam sendiriku, yang memaksaku menjadi abadi...

- Kuterima salam darimu dengan segenap perasaan iba atas sikapmu yang keras kepala, dan kuiringi langkah-langkahmu dengan taburan do'a yang tak akan putus hingga ayunan langkahmu yang terakhir kau jatuhkan di tempat yang selalu datang dalam mimpi-mimpi...

(Surakarta, 27 Desember 2011)

Musik Itu

Oleh: Fariha Ilyas

Aku rindu kepada hijau, kepada dingin, kepada air. Sepanjang waktu lalu hidup kulalui dalam merah, dalam panasnya api. Bergegas aku pergi, saat mendung mulai menutupi matahari di atas kota ini. Kubelah angin jalanan dengan harap, dan kerinduan kepada hijau, kepada dingin, kepada air.

Di salah satu celah perbukitan, kuturuni ratusan anak tangga yang berkelok, menuju rumah bagi damai yang kuharap akan kujumpai dan menyambutku dengan sepenuh pelukan yang tak egois, yang tak segan memeluk siapa saja yang mendatangi rumahnya di celah perbukitan ini.

Sang tuan rumah, memberiku sebuah penyambutan istimewa dengan kesejukan udara, yang tak lama kemudian terasa dingin di kulitku. Di atas jembatan kecil aku berhenti, memandangi jernihnya air yang mengalir, tanpa menutupi dasarnya yang berpasir, berbatu, dengan warna-warna yang tak dibuat sendiri oleh tangan manusia.

Aku duduk di depan curahan air yang jatuh bergemuruh. Kututup telingaku dan lenyaplah gemuruh itu, hanya ada yang gerak dan warna. Lalu kubuka telingaku, dengan menutup mata kudengarkan gemuruh itu, yang nampak tak ada lagi. Hanya ada gemuruh, gemuruh, dan gemuruh. Suara mengisi alam pikiranku, hanya suara gemuruh air saja, karena pohon-pohon dan bebatuan tak ada yang bicara karena ia diam selalu sepanjang waktu jika angin tak menerpa dan menimbulkan gesekan-gesekan diantara daun-daun yang membuat setiap pohon seperti bergumam sendiri.

Air yang jatuh membentur tanah dan bebatuan di bawahnya menciptakan musik. Tak ada musik tanpa benturan, gesekan, pukulan, hentakan. Air, bebatuan, mungkin tak pernah sadar akan musik yang mereka hasilkan. Semua hanya berperilaku sewajarnya menurut nasib. Air mengalir saja seperti sewajarnya dan bebatuan diam belaka sepanjang waktu.

Layaknya diam-bisu kita.

Kita tak pernah lagi bicara, menyapa. Kita membiarkan beberapa bar dalam partitur hidup kita kosong. Kekosongan itu adalah bagian dari musik. Kekosongan yang bisa kita kita isi dengan jerit hati, tawa, bisik lirih, atau apa saja. Dalam kekosongan itulah ada kebebasan.

Dalam musik yang gemuruh di celah perbukitan itu, turunlah hujan deras yang bergemuruh juga. Tetes-tetesnya mengayun daun tumbuhan paku yang menjadi kuyup. Aku mendengar dan melihat bagaimana musik tercipta, dengan sederhana, namun tak bisa sesederhana nampaknya jika kita mengerti.

Ada dialog yang renyah, dalam kesyikan yang nyata, antara aku, hujan, tumbuhan paku, air yang mengalir jernih, bebatuan, lumut-lumut yang lekat, dan kau. Kau yang tak hadir di sini bukanlah kau yang tak ada. Kau yang tak hadir disini adalah separuh isi pikiranku, yang tak tergusur, tak terdesak musik yang gemuruh, atau seluruh hijau yang kurindui.

Dalam pelukan dingin, dalam rintik hujan yang segar di celah perbukitan itu, aku memang bertemu damai. Dan kedamaian itu tak seluruhnya sajian sang tuan rumah, melainkan separuhnya kubawa sendiri dalam pikir, dan inginku meraihnya.

Hujan reda benar saat sore mulai tiba. Dengan berat hati kutinggalkan celah perbukitan itu. Menyusuri kembali anak tangga yang basah, langkah-langkahku perlahan.

Berat, dan perlahan.

Musik masih gemuruh.

Masih.

Gemuruh.

(Surakarta, 25 Desember 2011)

Surat untuk Han (7): Dunia di Mata Kita

Oleh: Fariha Ilyas

Belasan tahun lalu kau dan aku yang masih sama-sama menjadi manusia kecil: dengan tubuh dan suara kecil. Namun tidak dengan pikiran dan kemungkinan ruang gerak kita, Han. Kita adalah bocah yang berpikiran bebas, berkeinginan luas, penuh keberanian, meski orang-orang dewasa menyebut kita “belum berakal”.

Kau tentu masih ingat tentang dunia dalam pandangan kita saat itu. Dunia bagi kita tak bersudut tajam, dunia adalah lekuk-lekuk yang membulat, tumpul, dan bersahabat. Pisau dan duri tak tajam di mata kita. Karena itulah kita tak pernah takut bermain-main dengan benda-benda yang kata pada orang dewasa “berbahaya”.

Kita tak takut kepada jurang, jalan licin, atau cepatnya lalu-lalang kendaraan. Dunia lunak saja rupanya bagi kita. Tak ada yang kita pikir bakal mengancam diri dan hidup kita. Itulah sebagian dari keadaan surga, kukira. Ya, kondisi tanpa rasa terancam.

Aku tak tahu pasti sejak kapan sudut-sudut tajam dunia itu muncul, mengganti lekuk-lekuk membulat dalam dunia kita. Semenjak saat itu pelan-pelan kita banyak merasa takut dengan hal-hal yang dulu selalu ingin kita akrabi. Kita tak pernah lagi bermain pisau, berlarian di jalan licin, atau memanjat pohon yang tinggi untuk melihat sekeliling lebih luas. Kita sekarang hanya melihat satu fungsi pada sebilah pisau, kita sekarang hanya melihat luka pada duri-duri, kita sekarang terserang ketakutan melihat jalanan licin. Itulah rasionalitas orang dewasa, Han, kau pasti tau itu.

Rasionalitas itu-yang entah buatan siapa, dari mana ia masuk- adalah rasionalitas yang tak setuju dengan dunia kita sebelumnya. Ia menggusur dan membawa sepaket dunia yang kita rasai sekarang ini. Kau juga pasti mengerti seperti apa dunia yang dihadirkan rasionalitas orang dewasa itu.

Aku khawatir jika rasionalitas itu terlampau kuat menguasai pikiran kita sekarang. Kita menjadi tukang hitung risiko, kita sering berburuk sangka pada isi dunia yang dulu seluruhnya adalah kawan akrab kita. Kita selalu mengambil jarak terhadap dunia. Apakah kita benar-benar akan terus hidup di dunia dengan cara seperti ini, Han?

Katakanlah kepadaku bahwa kau juga rindu kepada dunia yang lunak dan membulat itu! Katakanlah bahwa kau ingin kembali hidup dalam dunia yang teralami penuh, tanpa prasangka! Pengetahuan, Han, pengetahuan, ia adalah biang kerok segala masalah ini. Pengetahuan seolah memiliki wewenang untuk menyortir apa yang baik dan apa yang tidak baik, itulah tugas rumusan pengetahuan yang bernama: Ilmu.

Tapi bagiku ilmu tak sesempit itu, ilmu tak sepengecut itu. Atau kita sendiri yang memilih menjadi pengecut setelah kita mencecap ilmu?

Ah, aku tak mau lagi bicara soal ilmu. Aku hanya ingin bertanya kepadamu, Han: Apa rasanya hidup di dunia yang terlalu banyak tereduksi pikiran kita sekarang yang katanya telah dewasa dan sudah rasional, jika setiap hari kita banyak bertindak dengan tak yakin dan penuh ketakutan?

Katakanlah kepadaku bahwa dunia ini lunak, dunia ini berlekuk membulat! Katakanlah kepadaku bahwa batu itu tak keras, api itu tak panas!

Aku rindu dunia itu.

(Malam. Surakarta, 24 Desember 2011)

Stasiun

Oleh: Fariha Ilyas


pada suatu sore

yang gelap, yang basah, yang hujan

tak ada kesusahan yang kurasa, tak jua kesenangan

hanya penerimaan


di jalan-jalan

yang sedikit sepi, yang basah, yang tergenangi

tak ada senyum yang kulihat, tak jua tangis

hanya kuyup


di stasiun

yang ramai, yang sibuk, yang hiruk-pikuk

kutemui sebuah miniatur dunia

tak ada henti


di stasiun

pada saat yang sama, saat kereta tiba

derit cakramnya tak seberapa kentara

namun ia menggetarkan hati

siapa yang datang dan akan pergi


di stasiun-lah harusnya para penyair hidup

jika ia memang selalu ingin berburu rasa

namun stasiun tak peduli, lama-lama

ia terus saja seperti itu

menjadi tempat tumpahnya rasa


aku teringat pada chairil


suatu waktu pernah kubaca tentangnya

bahwa ia sering nampak

di stasiun senen, sedang berbaring

dan kepalanya di atas paha seorang pelacur.


chairil, telah lama mengerti bahwa

stasiun adalah sebuah miniatur dunia.

stasiun menjadi wadah

bagi puncak-puncak perasaan manusia.


memang tak ada tempat lain,

sebaik stasiun, terminal,

atau tempat-tempat persinggahan lainnya

di mana kita dapat menyaksikan

orang-orang mendapati dan melepas

sesuatu yang berharga baginya.


di stasiun aku mengerti

arti nilai

dan kebermaknaan.



(Saat gerimis masih. Surakarta, 20 Desember 2011)

Ingatan Pagi

Oleh: Fariha Ilyas


Tak akan lagi kusaksikan fajar seindah tadi

Tak akan lagi kutemukan komposisi serupa

Di alam yang selalu berubah dalam setiap milisekon

Bahkan lebih rapat dari itu


Tapi aku masih berharap melihatmu lagi

Dengan senyuman sama

Dengan pelukan dan ciuman yang sama

Membalutku rapat, sampai aku tak nampak lagi


Sambil saling mendekap

Kita selalu ingat saat-saat kita saling memunggungi

Menjauh, meninggalkan, dan mencoba melupakan

Kita selalu saja ingat saat-saat itu


Pagi ini, kupeluk kau di hadapan fajar

Kucium mesra bibirmu dalam komposisi pagi yang rumit

Aku melihatmu menitikkan airmata

Yang tak kupahami apa artinya


Sayangku, pagi adalah saat untuk menawarkan pada diriku sendiri

Untuk tetap membawamu dalam ingatan, atau meninggalkannya

Saat kutanya diriku sendiri: “Apakah kau mau mengingatnya?”

Jawab diriku: “Ya”



(Pagi. Surakarta, 20 Desember 2011)

Seperti Biasa: Cinta

Oleh: Fariha Ilyas

I wonder what's keeping my true love tonight

I wonder what's keeping her out of my sight

It is little she knows of the pain that I endure

Or she would not stay from me this night, I am sure

(I wonder what's keeping my true love tonight, Kate Rusby)

Sayangku, malam ini kudengarkan lagu yang asyik sekali. Kate Rusby, ya, suaranya yang menggerakkan batinku untuk kembali menulis, dan untuk mengingatmu lagi. Tapi tak hanya Kate Rusby saja, ada konser dua biola rekaan Vivaldi yang saat kudengarkan seksama tak ubahnya seperti sepasang kekasih yang sedang bercakap-cakap dengan riang, penuh cinta dan optimisme. Sepertinya mereka sedang membicarakan segala ingin, segala yang dapat diimpikan di masa depan. Masih hangat dan wangi sekali cinta mereka, walau percakapan penuh cinta itu diciptakan lebih dari 200 tahun silam.

Sayangku, karena lagu-lagu itu malam ini aku kembali terheran-heran akan cinta yang masih saja membuat kita berdua saling memikirkan, saling mendo’a, walau isi do’a kita adalah mustahil seluruhnya. Tapi karena kemustahilan-kemustahilan itulah Tuhan ada, sayangku. Jika seluruh dunia ini mungkin dalam benak dan gerak kita, maka Tuhan telah lama pensiun dari tugasnya, karena seluruhnya bisa kita capai sendiri. Dunia ini memang mungkin, sayangku, dalam benak dan gerak Tuhan saja.

Sayangku, walau banyak yang mustahil bagi kita, aku tahu ada yang selalu mungkin, kau juga pasti telah memahami bahwa manusia juga memiliki dunia serba mungkin, dunia yang juga dipilih oleh Tuhan untuk memperkenalkan dirinya kepada kita, dunia itu ialah dunia simbol. Tuhan, sayangku, telah mengambil tindakan penuh risiko dengan menggunakan dunia simbol sebagai media mewartakan diriNya kepada manusia, risiko itu adalah: Tuhan bisa menjadi berhala terbesar yang disembah oleh manusia.

Sayangku, Cinta, seperti kau tahu, tak pernah terpahami sempurna, lewat kata-kata, nada, dan warna. Tak ada media yang mampu mengantarkan kita pada pemahaman cinta sempurna. Aku takut sekali, sayangku, jika cinta yang kita kenal adalah sama seperti Tuhan yang menjadi berhala.

Sayangku, aku tak pernah melupakanmu, karena lupa adalah musuh segala penemuan. Kita tak akan pernah menemukan diri kita ada di suatu titik jika kita tak memiliki ingatan-ingatan akan keberadaan kita sebelumnya di titik lain. Karena alasan itulah aku tak pernah memiliki keinginan untuk melupakan sesuatu. Aku takut jika suatu saat aku bertemu kembali denganmu, dan saat itu aku harus memecahkan kepalaku, mengurai otakku, mencari ingatan tentangmu, agar kau tak menjadi asing bagiku.

Sayangku, malam ini kau kupeluk erat dalam selimut rindu yang selalu hangat, yang tak pernah mampu ditembus dinginnya ketakacuhan dan bekunya saling diam. Selimut itu adalah sebuah pemberian, ia takkan kucampakkan, walau selimut itu kadangkala membuatku merasa gerah. Sayangku, itulah kepasrahan.

Peluk dan ciumku selalu untukmu, sayangku. Aku harap kau mampu merasakannya, seperti kau mampu merasakan kehadiran Tuhan yang hanya hadir dan selalu kau sapa hanya dengan kata-kata.

(Malam. Surakarta, 19 Desember 2011)

Malam Rembulan Purba

Oleh: Fariha Ilyas

Sekarku sayang, banyak yang berubah di dunia ini, kamu pasti ngerti hal itu. Pohon-pohan banyak yang ditumbangkan, diganti dengan rumah, atau rumah-rumah dibongkar diganti dengan gedung, atau yang semula sawah menjadi gudang, atau SPBU tentu saja.

Kamu pasti pernah merasakan apa yang kurasakan saat tiba-tiba ada rasa kangen dengan sebuah bangunan, atau pohon, atau gedung sekolah, atau seseorang barangkali. Lalu kita mencari. Tapi ternyata yang kita dapatkan bukan lagi seperti yang sempat kita tinggali, lihat, kenali, temui. Pohon, gedung, tak selamanya berdiri --seperti yang kukatakan tadi, orang juga akhirnya mati.

Seperti yang telah kamu tahu, sejak dulu kita gemar menatap bulan, aku menyebutnya “Rembulan Purba”. Ia adalah saksi dari banyak kisah cinta yang diikrarkan di bawah terang cahayanya, manusia sepertinya memang tak pernah merasa capek berurusan dengan romansa. Ia juga saksi dari banyak perang, ya, perang dan pembunuhan. Dan tahukah kau bahwa pembunuhan tak selalu terkait dengan pencabutan nyawa, pembunuhan juga bisa menjadi nama lain dari pelenyapan angan dan cita-cita.

Hingga sekarangpun rembulan purba itu masih setia menjadi saksi dari banyak peristiwa, seperti bumi yang juga demikian halnya.

Malam ini, atas segala kesadaran itu aku tak mau untuk tidak memanfaatkan kesetiaan rembulan purba yang kali ini cantik sekali, walau tak secantik kamu. Aku ingin sekali ia melumuriku dengan cahaya yang ia peroleh dari matahari. Untuk itulah kucari tempat paling gelap di kota ini, dan tak temukan rupanya. Lalu aku pergi ke sawah, sebuah keputusan yang niscaya mengantarkanku pada hasil yang kuingini, tentu saja.

Sampai di sawah aku tak terlalu bisa memikirkan maksudku semula karena aku bertemu kepiting. Kasihan dia, ia tak bisa membuat lampu, ia hanya berumah di lubang-lubang pematang yang gelap. Aku tak tahu apakah ia bahagia atau tidak. Aku tak habis pikir kenapa orang tak menaruh banyak lampu di sawah? Agar hewan-hewan penghuni sawah juga ikut merasakan kemajuan yang katanya hasil olah pikir manusia untuk kehidupan yang lebih baik. Lebih baik untuk siapa, kau tahu? Untuk manusia saja. Mungkin di alam nirsadar manusia ada kalimat: “ya biarlah binatang berpikir sendiri untuk kemajuan hidupnya”. Aku tak tahu, aku tak tahu. Pikiran manusia toh tak mampu memahami “kesadaran” hewan.

Ingatanku kembali, terang sekali, seterang matahari siang tadi.

Sekar manisku, tahukah kamu bahwa takkan ada yang melarang kita jika malam ini kita sama-sama bercerita, ngobrol, atau bercengkerama dengan diri kita sendiri—di bawah rembulan purba—agar apa yang menjadi beban di kepala kita ini tak menggumpal saja, lalu membuat pikiran kita cedera. Berbicara sendiri di bawah rembulan bukanlah perbuatan gila, itu wajar saja karena ia adalah saksi purba, profesi yang (barangkali) disandangnya dengan terpaksa. Tapi siapa peduli? Rembulan purba akan tetap menjadi saksi malam ini.

Aku mulai berguman sendiri, pada akhirnya.

Sekarku sayang, dengan apalagi kita harus mempersatukan perasaan yang sama-sama sering memberontak ini?

Wahai rembulan purba! Wahai saksi dari banyak ikrar cinta! Maukah kau berkisah tentang ikrar cinta yang paling menggetarkanmu?

Sekarku yang sering menangisi cinta, dengan apalagi aku harus mencarimu yang selalu sembunyi, dalam keseluruhan duniamu yang menolakku, cintaku, sekaligus menolak balasan cintamu kepadaku?

Wahai rembulan purba! Maukah kau memberitahuku tentang sebuah peristiwa pencarian cinta paling besar yang pernah kau saksikan?

Sekarku yang ingin kupeluk, kenapa aku sulit sekali untuk tidak memikirkanmu? Kenapa aku masih merasa sayang membuang segumpal masa lalu yang sangat riskan untuk dibuka, dibentangkan kembali, untuk dilanjutkan lagi seperti angan-angan kita dulu?

Wahai rembulan purba! Mestinya kau pernah menyaksikan seseorang yang membulatkan tekad untuk melupakan cintanya! Jika memang demikian, jangan ceritakan itu padaku. Kalaupun kau hanya mau bercerita kepadaku tentang hal itu, kurasa itu percuma. Kau tentu ingat apa kataku:

Ingatanku terang sekali, seperti matahari.

(Tengah Malam. Surakarta, 13 Desember 2011)

Surakarta dan Buku Lama Ayah

Oleh: Fariha Ilyas

Buku itu bertanggal 12 November 1992, bersamaan dengan masa saat aku masih belum bisa bernyanyi dengan benar lagu “Aku Seorang Kapiten” di Taman Kanak-kanak. Buku itu adalah buku tentang Raden Ngabehi Ronggowarsito, Pujangga Kraton Surakarta yang terakhir. Buku itu milik Ayah.

Entah kapan aku mulai membacanya, lama sekali rasanya. Yang kuingat adalah bahwa aku tak sekali –dua kali membacanya. Terlalu sering. Tak sedikit yang masih melekat isinya, salah satu kata di dalamnya bahkan masih membuat hatiku gemetar, walau telah empat tahun aku hidup di kota yang sejak lama telah terpatri di pikiranku, ya, Surakarta.

Saat itu tak pernah sedikitpun terbayang bahwa suatu hari aku akan lama menjalani hidup di Surakarta.

Surakarta, terlalu panjang jika harus kutulis apa saja yang terkait dengan kota tua ini. Sejarah terlanjur merentang begitu panjangnya, hampir-hampir aku tak mungkin menggapainya lagi. Imajinasipun rasanya akan kehilangan dayanya untuk menghadirkan kembali berbagai gejolak dan peristiwa masa lalu di kota ini, saking panjangnya sejarah.

Untuk itulah aku tak mau membicarakan sejarah, juga apa yang berkaitan dengan Surakarta yang tertulis di buku lama Ayah. Aku ingin bicara tentang kini, sedikit kemarin, dan sedikit nanti. Hanya sedikit-sedikit saja, agar tak terlalu panjang, agar terasa, dan agar mudah dihadirkan kembali.

Jika Wikipedia menerangkan bahwa:

Surakarta, juga disebut Solo atau Sala, adalah kota yang terletak di provinsi Jawa Tengah, Indonesia yang berpenduduk 503.421 jiwa (2010)[1] dan kepadatan penduduk 13.636/km2. Kota dengan luas 44 km2 ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan.[2]. Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Solo merupakan pewaris Kerajaan Mataram yang dipecah pada tahun 1755.

Maka aku menjelaskan bahwa:

Surakarta adalah sebuah persinggungan ruang-waktuku dengan ruang-waktumu. Di Surakarta kita banyak bicara tentang apa yang sering mengusik pikiran kita masing-masing. Di Surakarta kita saling mencintai, dan mencemburui. Di Surakarta kita mencari-cari sesuatu yang kita pikir akan memperbaikai hidup kita kelak. Di Surakarta kita sama-sama berpikir bahwa Surakarta ternyata tak penting, karena apa yang kita alami itu bisa teralami di mana saja. Karena kita tetaplah makhluk yang senang mencintai, mencemburui, dan mencari.

Untuk sahabat, musuh, dan guru-guruku yang tak bisa kusebutkan namanya: Terimakasih karena tak mengingkari persinggungan ruang-waktu kita. Kalian -mau tak mau- adalah bagian yang tak dapat lagi kupisahkan dari hidupku, dan tak mungkin lagi kucerai dari ingatan.

Sial. Akulah orang terhukum. Aku dihukum untuk mengingat banyak hal. Dan mengingat nama-nama ternyata begitu sakit, jika yang kita ingat hanya tinggal nama, tanpa "ada".

Karena itu aku takut sekali pada perpisahan dengan "ada".

Karena ketakutan itu pula saat tengah malam hatiku sering berkata:

Tuhan, akrabkan aku dengan mereka yang sempat merasuk dalam ingatanku. Agar aku tak bingung menentukan di mana aku menempatkan diri di sisiMu kelak. Hanya mereka yang sempat bersinggungan ruang-waktunya denganku yang mampu membuat aku memiliki tempat dalam hidup, karena mereka menyisihkan ruang-waktunya untukku. Aku berharap persinggungan kedua dengan mereka, persinggungan yang tak melibatkan ruang-waktu yang membingungkan.

Tanyaku: Maukah kalian mengakrabiku lagi nanti?

(Dini hari. Surakarta, 11 Desember 2011)

Desember-Desember

Oleh: Fariha Ilyas

Entah apa yang dibawa Desember pada dunia. Entah kenapa Desember selalu saja tiba di sini dengan murung, malu-malu, dan sedikit basah. Tak seperti di belahan bumi utara bahwa desember adalah “Bulan Suci”. Disini Desember tak menyandang status apa-apa. Sama saja dengan Januari, Februari, hingga November.

Desember sesungguhnya tak pernah ada tanpa kita. Desember adalah ciptaan kita sendiri. Dan parahnya, Desember sepertinya membuat kita sendiri lupa bahwa hidup tak pernah terulang lagi, ia terus maju tanpa pernah mau kembali. Ya, Desember selalu datang lagi seperti kemarin-kemarin, seperti Januari, Februari, hingga November.

Kenapa kita selalu terkurung dalam lingkaran. Lambang siklus, katanya. Aku setuju jika itu dimaknai sebagai nalar berpikir bahwa segalanya akan kembali ke asal. Tapi aku ingin membantah jika lingkaran itu pada akhirnya terlampau membuai kita akan kenangan, kemenangan, yang selalu akan kembali. Karena itulah kita memperingati hari kelahiran kita pada bulan tertentu, mulai Januari hingga Desember.

Untunglah ada tahun. Ia hanya angka sebenarnya. Namun ia mampu membuat kita sedikit waspada terhadap siklus yang melenakan itu, sampai hari ini setidaknya angka masih belum buntu dan harus kembali ke hitungan awal lagi.

Aku membayangkan jika tak ada Desember. Seperti juga tak ada Januari, Februari, hingga November. Bagaimana jika hari, bulan, dan tahun kita tulis saja dengan angka seluruhnya?

Barangkali hari ini bisa diberi kode: 10-12-2011.

Bukan itu maksudku, angka 10 juga bagian dari garis yang melingkar, yang akan kembali ke angka 1 jika ia telah sampai pada hitungan 29, 30, atau 31. Angka 12 juga akan kembali ke angka 1. Hanya 2011 yang masih akan terus maju lebih jauh untuk menjadi penanda waktu yang "terasa" lebih panjang: tahun.

Bagaimana jika hari ini diberi kode: 8276, atau sesuai dengan lama hari hidup kita saja?

Barangkali tak ada yang berulang tahun di bulan Desember. Seperti tak ada yang berulang tahun pada bulan Januari, Februari, hingga November.

Tapi dengan memberi kode itu, kita akan sulit mengatur janji dengan teman, kolega, atau kekasih. Untuk itulah ada senin hingga minggu. Januari hingga Desember.

Desember ada karena kita, karena keterbatasan kita.

(Dini hari, 11 Desember 2011)

Ballerina: Antara Aku, Degas, dan Nietzsche

Oleh: Fariha Ilyas


Edgar Degas. Image L'etoile [La danseuse sur la scene] (The Star [Dancer on Stage]) 1878; Pastel on paper, 60 x 44 cm (23 5/8 x 17 3/8 in); Musee d'Orsay, Paris.

Agak mustahil jika aku ingin bertanya kepada Edgar Degas kenapa ia gemar sekali melukis penari Balet (Ballerina). Bisa jadi karena ia tak bisa melihat penari Kecak, Serimpi, atau Gambyong. Ah, tak penting. Inti dari tarian adalah gerak. Degas tentu tertarik kepada gerak. Tak hanya tertarik, ia mampu melukiskan gerakan dengan sangat baik, yang akhirnya menjadi ciri paling menonjol dari karya-karya seniman Perancis tersebut.

Malam ini aku melihat secuil gerakan balet. Entah secuil atau setengah cuil, aku tak tahu. Ia adalah tumpuan keseimbangan tarian itu. Ia adalah kekuatan penting dalam tarian itu. Aku melihatnya di ujung jari mungil yang terbungkus sepatu. Bukan mengada-ada karena tiba-tiba saja ujung jari itu memang membuatku teringat akan tari Balet. Ia adalah tarian yang membutuhkan keseimbangan tinggi, kekuatan, dan kelenturan. Kadangkala tari Balet nampak seperti ombak bagiku, surut, menghimpun tenaga, datang lagi dengan kekuatan dan hentakannya yang anggun. Ya, seperti ombak. Dan ombak adalah gerak.

Kita tak asing dengan gerak.

Jika sejak kanak-kanak kita telah terbiasa dengan gerak, itu wajar. Kita saat kanak-kanak adalah manusia yang penuh gerak bebas, kita bisa saja berjoget sembarangan saat mendengar irama musik. Namun saat dewasa kita menjadi sering merasa gamang bergerak karena kita pikir itu tak penting, kekanak-kanakan. Gerak kita tak bebas lagi, ia menjadi terstruktur, kaku, dan tak alami lagi. Itu kalau kita bukan seorang penari.

Hanya penarilah yang tahu apa yang ia rasakan saat ia menari. Barangkali ia menemukan bahwa “Aku” adalah sesuatu yang selalu yang melekat dalam gerak. Tak pernah dapat dipisah-pisah. Aku ingin bertemu seorang penari untuk memastikan tanyaku. Barangkali Degas malu bertanya kepada penari, sehingga ia hanya terus melukis sang penari Balet. Degas barangkali juga ingin tahu, seperti aku malam ini.

Gerak, gerak, gerak. Gerak adalah aku, aku adalah hidup, dan hidup tak pernah teralami tanpa gerak. Untuk itulah selayaknya kita terus menari. Menari dalam menghadapi segala kenyataan yang lewat, menghantam, menguji kita tanpa pernah ada habisnya. Kita mestinya hidup dengan menari.

Malam ini aku sepakat dengan apa yang ditirukan Goenawan Mohamad dari kata-kata Nietzsche: ”Aku hanya percaya kepada hidup yang menari—yang menemukan, menemukan, menemukan….”

(Malam. Surakarta, 10 Desember 2011)

SEBUAH PERJUMPAAN (3)

Oleh: Fariha Ilyas

Aku Seorang Pecundang

Petang ini Han, Sekar, Laras, dan Kembara tiba-tiba mendatangiku. Mereka mengerumuniku seperti aku adalah bagian dari pertunjukan topeng monyet, dan jelas, aku lah monyetnya. Ini tak biasa, pikirku.

Tak mengapa, memang setelah kupikir-pikir hidupku serupa dengan pertunjukan topeng monyet yang sekarang mulai terpinggirkan. Hidupku pun tak pernah mendapat tempat di zaman yang penuh dengan warna ini. Hidupku tak beda dengan drama-drama lama yang buram. Menonton hidupku adalah seperti menonton sebuah pertunjukan drama lama, dengan pemain lama, cerita lama, teknikalitas lama, dan interpretasi yang tak kalah usangnya. Betapa membosankan. Barangkali tak salah jika seorang kawan pernah berkata kepadaku: “di masa sekarang, kamu hanya akan menjadi pecundang!”

Seperti itulah keadaanku petang ini. Han, Sekar, Laras, dan Kembara sepertinya ingin mengatakan hal serupa, yang tak lain hanya penegasan dari apa yang pernah dikatakan seorang kawan tadi: “Kau memang pecundang!”, kata mereka serentak, tak lewat kata, namun lewat tatapan mata mereka.

Ya, aku memang kalah segalanya dibanding mereka.

Han, adalah seorang pemuda yang sepertinya telah menemukan sebatang pohon kebijaksanaan dan melahap habis seluruh buahnya, hingga aku merasa menjadi seseorang yang sangat bodoh dan naif di hadapannya.

Sekar, ia adalah seseorang yang sangat mengerti apa yang benar-benar dia inginkan, ia tak pernah ragu-ragu dengan apa yang ia kerjakan, ia memahami konsekuensi segla tindakan. Di hadapannya aku menjadi seorang pengecut.

Laras dan Kembara adalah pemimpi, seseorang yang penuh rasa optimis menjalani hidup. Mereka masih mampu melihat berbagai warna kehidupan melalui kedua mata mereka yang berbinar penuh ketajaman dan tersambung kepada hati mereka yang kaya. Di hadapan mereka aku hanyalah makhluk yang nyaris habis, skeptikus yang terkurung dalam nihilisme yang kuundang sendiri namun tak mampu kulepaskan. Aku habis bersamaan dengan anggapanku bahwa dunia memang sudah habis.

Mereka berempat menatapku, sedari tadi aku masih menjadi monyet yang diam. Pelan-pelan batinku mulai tersinggung lagi dan aku mulai menari.

Aku berjoget dengan diiringin musik paling bising di dunia: kesunyian.

Aku terus menari, melompat, berjingkrak, dan berputar-putar diantara Han, Sekar, Laras, dan Kembara. Aku tak mau berpikir lagi tentang diri, tentang aku yang pecundang, atau tentang mereka yang mengatakan bahwa aku pecundang.

Aku masih menari.

Seiring warna senja yang mulai lenyap dan terganti gelap, empat sosok itu mulai hilang. Aku lega, karena tarianku telah mengusir hantu-hantu yang selama ini selalu saja mengusik hidupku.

Aku tersenyum.

Namun di ujung senyum itu ada kekhawatiran yang tak mampu kusembunyikan.

Malam nanti, biasanya hantu-hantu itu akan kembali.

(Petang hari. Surakarta, 9 Desember 2011)

Cinta adalah Anak Yatim Piatu

Oleh: Fariha Ilyas

I

Cinta, aku adalah orang yang lama mengenalmu, aku selalu ingat itu. Aku selalu ingat saat kau datang menepuk bahuku dengan sebuah perasaan tak biasa. Sejak saat itu kita tak terpisahkan lagi, kau selalu mengikutiku ke manapun aku melangkah, kau menungguiku saat aku mencipta puisi, saat aku resah, saat aku marah.

Sesekali kau goda aku dengan rindu yang sakit. Sesekali kau suntik aku dengan harapan yang membuatku mampu melampaui diriku sendiri. Cinta, masa-masa itu adalah masa-masa yang sangat memengaruhiku dalam menjalani hidup.

Sampai pada suatu ketika kau juga menyapa seseorang yang telah lama kukenal. Kita bertiga akhirnya menjadi makhluk yang akrab. Tak semenitpun kita bercerai-berai, mungkin hanya saat kami berdua tidur kau terjaga sendiri, selebihnya hanya ada kata bersama. Cinta, saat itu kulihat kau makin manja dan gendut saja. Lucu sekali rupamu. Kau hidup diantara kami berdua yang tak pernah kehabisan persediaan asupan gizi untukmu.

II

Cinta, entah kapan keberadaanmu mulai terusik. Tapi aku memahami keadaan yang tidak mengenakkanmu untuk tetap bermain, melompat, berlarian di dalam hati kami berdua. Kau pasti merasa tak nyaman di sana. Kami tak henti menyakinkanmu tiap malam menjelang tidur. Kami selalu membisikkan kata:

“Cinta, jangan pernah risau, kami takkan membiarkanmu pergi. Hati kami berdua adalah taman bermain untukmu. Tetaplah di sini, kami akan selalu merasa berdosa sepanjang hidup kami jika kami menerlantarkanmu. Kau adalah anak Tuhan, karena itulah kau merupakan yatim piatu sesungguhnya di alam ini. Tuhan tak pernah mengaku kalau ia melahirkanmu, ia tak beranak, katanya. Kami berdua tak menyalahkan Tuhan karena kami mengerti bahwa Tuhan melahirkanmu untuk kami, sebagai anak kami. Kau adalah anak rohani yang memang seharusnya diasuh oleh seluruh umat manusia dari zaman ke zaman.”

Akhirnya kau pun menjadi tenang.

Namun dunia luas tak selalu sama dengan taman bermainmu yang mengasyikkan di hati kami berdua. Kau tetap sering mendapatkan kabar pengusiranmu.

Cinta, aku tak dapat mengingat lagi berapa kali kami berdua menangis karena kau tak pernah mendapat tempat di hati orang lain. Aku tahu bahwa kau ingin hidup di banyak hati, tak hanya hati kami berdua. Aku yakin kau masih ingat pada suatu hari yang begitu rawannya, suatu hari saat orang-orang itu ingin mengusirmu dari hati kami. Mereka berbuat seperti itu karena mereka tak mengenalmu, cinta. Mereka alergi karena di mata mereka kau bukanlah cinta. Cinta yang mereka kenal hanyalah cinta yang menyapa mereka saja.

III

Cinta, kini aku melihatmu meringkuk dalam selimut sendumu yang tak seorang pun tahu. Cinta, dalam remang duniamu aku ikut menangis atas ketakpedulian orang yang melukai kelembutanmu. Aku kebingungan, mereka mengaku mengasuh cinta, namun mereka bertindak culas terhadapmu. Cinta, aku ingin bertanya: Kenapa mereka menolakmu? Apakah mereka tak mengenalmu? Apakah dulu kau menyapa mereka dalam wujudmu yang lain?

IV

Cinta masih meringkuk, lemah, sakit, luka, remuk. Keindahannya pudar karena kebencian yang memanggil balatentara dengan jumlah tak terhitung yang bernama dendam dan antipati. Aku tak tahu apa yang dirasakan cinta, ia menjadi seonggok makhluk yang tak bergairah, hancur dan kalah.

V

Malam biasa, sebuah keluarga berkumpul melingkari meja makan yang besar. Mereka tertawa, saling memandang satu sama lain dengan tatapan penuh cinta. Merekalah pengusirmu, cinta. Kau tahu.

(Petang hari. Surakarta, 8 Desember 2011)

Biasanya

Oleh: Fariha Ilyas

Sekar............

Biasanya malam seperti ini masih sempat bagi kita untuk bercanda, dengan pesan singkat yang sering-sering didominasi pesanku yang ternyata tak singkat. Entah apa yang membuat kita betah melakukan rutinitas itu, sejak dulu.

Biasanya canda itu bercampur angan-angan yang jauh, yang kita sendiri tak yakin tentangnya. Tapi itulah cara kita bermimpi sebelum kita benar-benar tidur dan benar-benar bermimpi. Itulah kita, aku menduga bahwa itu terjadi karena kita telah lama sadar akan bermacam ketakutan yang diam-diam hidup di dalam hati kita. Ketakutan itu, kau tahu, hanya akan surut dan terasa hilang jika kita bermimpi.

Sekar.............

Biasanya sebelum canda dalam pesan-pesan singkat yang tak singkat itu, kita tak pernah merasa bosan menyusuri kota. Ya, kota ini indah sempurna, karena kita tak pernah benar-benar melihatnya dengan pikiran penuh. Kita melihatnya sambil sekali-sekali melongok ke masa depan yang tak kita ketahui. Kita gemar mengintip masa depan itu disela canda kita yang berhamburan di jalan-jalan.

Sekar..............

Biasanya sebelum kita menyusuri kota, kita melepas senja berdua di sawah yang kita klaim sebagai milik kita. Entah apa yang kau pikirkan saat itu, aku tak pernah tahu dengan pasti. Namun aku selalu dalam keadaan sadar waktu, kuabadikan momen itu dalam bingkai besar yang terukir ornamen-ornamen cinta yang telah menjadi klasik. Tak semua kubingkai, hanya yang paling indah saja. Aku ingin mengenang keindahan tak bercacat, karena hidupku sudah penuh kekurangan dan ketidak-sempurnaan. Aku mendamba kesempurnaan itu seperti umat yang mendamba sorga.

Sekar...............

Biasanya setelah menulis segala rasa, aku akan tidur.

Biasanya sambil memejamkan mata aku akan ingat banyak hal.

Biasanya saat-saat seperti itu aku merasa benar-benar hidup

Biasanya, biasanya, biasanya...........

Sudah!

(Dini hari. Surakarta, 7 Desember 2011)

Tempat Tak Bernama

Oleh: Fariha Ilyas

Desau angin tak kuhiraukan. Letih kakiku tak sempat lagi ditanggapi oleh otakku. Kerongkonganku kering, bibirku mulai terasa kasap, itu juga tak dipedulikan otakku. Otakku hanya mau aku terus berjalan, terus saja. Tak boleh ada tujuan.

Otakku tak tahu apa yang ia pikirkan sendiri, karena dia makhluk paling sok di dunia. Ia telaten memikirkan hidupku yang berisi ingin, ingin, dan ingin. Ia sabar mencarikanku jalan keluar dari masalah-masalah yang tak kunjung berhenti bertamu--dan selau ingin berlama-lama-- jika tak kuusir. Kau usir maksudku.

Otakku selalu berlagak seperti altruist.

Tapi itu hanya kadang-kadang.

Karena pada suatu hari, yang bisa kubilang sebagai hari paling sial, kurasa, otakku bertingkah. Ia ganti memintaku.

Ia tak minta sesuatu yang sulit memang. Tapi menjadi sulit dan merepotkan kalau otak si pemberi solusi sekarang ganti meminta. Dengan apa aku memulai mewujudkannya? Dengan apa aku menyusun rencana? Tanpa otak?

Akhirnya ia kuajak ia bekerja sama mencari inginnya. Ia ingin aku mencari sebuah tempat yang tak bernama.

Apa pula yang kau pikirkan otakku? Tak biasanya kau minta sesuatu sesederhana itu. Biasanya kau ketagihan pada nama, istilah, dan konsep-konsep. Sekarang kau minta sesuatu tanpa penanda.

Ya, ya, ya. Tiga tahun sudah aku berjalan, mencari tempat tak bernama. Hasilnya nihil belaka.

Tempo hari aku sempat girang waktu kudapatkan berita bahwa di sebuah wilayah ada bukit yang tak bernama. Aku pun pergi ke sana. Sialnya, sesampainya di sana otakku tak merasa inginnya terpenuhi. Ia katakan padaku bahwa itulah bukit. Itu namanya.

Aku lelah. Tapi aku berjalan lagi.

Kulewati laut. Luas sekali. Namun luasnya menyakitkan karena tak bisa kuharapkan apa-apa darinya. Karena ia terangkum dalam nama: Samudera. Sama menyakitkannya saat aku menatap langit.

Otakku. Berhentikan manjamu. Aku lelah. Tapi aku terus saja berjalan.

Setelah beberapa perjumpaan dengan orang-orang asing di negeri mereka sendiri. Aku mendapat keterangan bahwa di negeri ini ada sebidang tanah yang tak bernama, katanya. Aku pun bergegas ke sana. Lagi-lagi kau tak puas. Kau katakan itu tanah.

Aku pergi ke gugusan bebatuan besar yang curam kau katakan itu tebing.

Aku pergi ke lobang gelap kau katakan itu goa.

Aku pergi ke cekungan tanah yang luas kau katakan itu lembah.

Aku pergi ke tempat rimbun penuh pohon kau katakan itu hutan.

Aku frustasi saat kusadari bahwa semua itu akan terangkum dalam satu nama: bumi.

Aku lelah. Tapi aku terus berjalan. Lelah. Terus berjalan.

Aku akhirnya sampai di bintang yang paling jauh. Tak terjangkau siapapun selain aku.

Kau katakan itu adalah: Semesta.

Aku tidur. Akhirnya.

Aku merasa di dalam entah apa. Aku merasa berada di entah apa. Aku merasa berjalan di atas entah apa. Aku tak gembira.

Aku terbangun tiba-tiba. Sekilas aku ingat bahwa baru saja aku kembali dari tempat yang entah apa. Aku ingin bersorak, karena aku berhasil memenuhi pintamu, otakku.

Tapi sebelum sempat aku memekik senang, kau buru-buru memotong: tempat itu bernama mimpi.

Aku mulai menangis putus asa. Aku membayangkan suatu tempat yang benar-benar tak bernama.

Aku hampir menyelesaikan pencarian ini jika tak kau jegal aku dengan seruan congkakmu: itu adalah tempat imaji.

Aku gagal menemukannya. Tapi aku tak ingin berhenti.

Aku bersemedi, namun kuurungkan. Karena konon, jika aku hilang kesadaran dalam semediku, aku akan sampai pada suatu tempat atau entah apa, yang lagi-lagi terlanjur kau ketahui namanya: Ilahi.

Aku benar-benar menyerah kepadamu, otakku.

Kini, pecahkan masalahmu, dan cari inginmu sendiri. Akan kucerai kau malam ini.

Dengan tidur mendengkur.

(Dini hari. Surakarta, 6 Desember 2011)

SMS Kawan Imaji

Oleh: Fariha Ilyas

Kembara (aku) tanda (+)

Laras tanda (-)

I

+ hey, lg ngpain?

- mencoba untk tdur

+ owh...

- bar, mlm in q gbs tdur kyknya

+ knp emg?

- udaranya trllu pnas bwt tdur

+ gmana klo qt jln2 k luar? cri angin gt lah..

- dluar jg gk da angin deh kyknya..

+ y mkanya qt jalan, naek mtor, biar kerasa ada angin..

- nggk ah, d luar jg pling2 sm panasnya, huh...gk tau kpn udara panas ini enyah dr kmrku!

+ itulah, mknnya yuk jln2, pnas yg diem lebih mnyiksa drpada yg cm lwat, hehehehe..

- hhmmm...

+ eh, ras, km tw gk q lg mkirn ap?

- nggk tw lah, otak km d sna, q dsini. klo pun q dsna jg q jg gk bs bc pkirnmu kaleee..

+ q pgn jln2 mlm ni, kykny asyik bgt klo jln mlm gtu, tnang gt, nikmatin lampu2 kota..

- km skrg mulai srakah y! msa lmpu mw dnikmati, mnding mnikmati es krim tau!! hahaha..

+ eh, sialan, q srius ni....

- tmben km srius, km kn orngny gk prnh srius! bljr gk srius, pcrn gk srius, bragama jg gk srius! hdupmu mw km jdiin ap? pentas komedi?!

+ q bosen sm hdup ras, cm gni2 aja...

- yg bkin hdupmu gtu2 aj sp cb? km sndiri kn? ky gt kok bngung sndri..bosen sndri..

+ yaya, trserah km deh, km emg gk prnh ngrtiin q..

- bwt ap jg ngrtiin org yg gk mw ngrtiin drinya sndri..yee..!

+ q ngrti kok dri q ky ap, q gila ras..

- y smw org jg tw km gila, hahahahaha!

+ y tp kn wlau gila q pnya mimpi ras, pnya cita2, hrapan..

- waw...hebat bnget! emg cita2 n hrapanmu apaan?

+ y harapan bwt sembuh dr kgilaan ini! hahahaha!!

- hahaha, bs aja km...heh, km gk nulis lg? bysnya klo lg pusing gni km nlis?

+ nggk ah, malas bngt, gk da ide blas!

- y bc bku ato ngrokok aja sana....

+ puyeng bnget kpalaq, jd mls bc bku, rokok jg udh hbis drtd, manyun aj skrg..

- ah, km gk asik, mstiny km it klo sk nlis y kdu pnter cr ide, bkn nunggu ide dtg k km tau!

+ iya jg sih, tp kdg jg buntu bnget, mentok..

- y udh km buat tdur aj sana! bsok sp tw pkirnmu bs sger lg..

+ ah, msi jm sgini msa tdur, aneh tau! q gk biasa, in jg lg mksa nlis, q pgn typ hr nlis ras, y gk pgn aja mmbiarkn hr lwt tnpa knangn. yg pling gmpng y bkin tlisn aja..

- nah it km blg gmpng, knp td km blg buntu? aneh km...

+ yayayaya, km bs aja klo dsuruh protes...

- haha, bar, q tdur dlu y, ngntk bngt ni..

+ iya tdur sana...q jg udh slese nulis ni..

- eh, emg km nlis apaan ni?

+ sms2 kita..

- loh??? mksudnya??

+ y kn dr td qt smsn mlulu?

- owh, q gk ngerti...bodo amat ah..

+ yah km bego jg lama-lama..

- y kn gr2 klaman bergaul sm kmu tuh!! udh ah, q mw tdur..

II

+ ras..

- hhmm, apaan?

+ q mw prgi..

- apa lg sih? jgn aneh2, q ngntuk bnget, br tdur sejam jg, udh ah, q tdr

+ ras..

- apaaaa

+ q pgn mati

- mati aja

+ km gk sdih y klo q mati?

- nggk, q sdih klo tdurq km gnggu mlulu

+ y mtiin aj hpnya, beres!

- yaya in emg mw q matiin

III

+ ras..

- iya

+ km tw gk q lg mkir ap?

- nggk lah!!!

+ q mkir knp km blm jg mtiin hpmu?

- q ksian aj sm km

+ knp emg?

- km gk pny tmen slain q

+ iya km bner jg

- hhmm, lgian q gk bs mtiin hpku

+ loh, knp?

- y cm km yg bs mtiin hpny

+ kok bs?!

- krn q adlh km!

(Malam pening. Surakarta, 6 Desember 2011)

Lalu Kata

Oleh: Fariha Ilyas


Saat gerimis masih belum bosan di luar sana:


Aku ingin bercerita tentang luka, yang gurih wangi

Yang darinya muncul kata tak henti

Gila, aku keranjingan pada kata

Walau ia sering tak datang segera


Aku bangun sore ini, seperti tadi pagi:


Ya, tak ada kata awalnya

Hanya suara

Kemudian warna


Lalu kata


Ia menyerobot, mendesak, memaksa

Menempati pikiranku sesukanya

Tak tercegah karena ia terlampau gagah

Tak henti karena ia tak bisa mati


Hanya kata dalam kepala

Mengukir segala nyata

Entah kapan ia enyah

Jika kata adalah Allah



(Sesudah gerimis reda. 4 Desember 2011)

Bukan Karena Tuhan Cengeng

Oleh: Fariha Ilyas

Tak ada yang sepenuhnya terduga. Hidup selalu memiliki sisi yang tak terjamah perkiraan. Kalaupun kita merasa mampu menduga suatu peristiwa, kita tak pernah dapat memastikan sikap kita jika benar-benar menghadapinya. (Han)

Jika diperbolehkan bagiku untuk membagi beberapa hal yang sempat lewat dalam pemahaman yang selalu berubah ini, maka tak salah kiranya kutuliskan beberapa hal sejauh yang mampu kumengerti dalam perjalanan hidup yang sudah seperempat abad ini. Bisa jadi akan ada banyak overlap di dalamnya, namun begitulah hidup, ia tak melulu terstruktur, ia sangat lentur dan dipengaruhi oleh banyak hal yang begitu rumitnya.

Usia seperempat abad sebenarnya bukanlah apa-apa. Bolehlah bidang Psikologi memiliki teori-teori perkembangan yang berupa-rupa. Namun hidup tetaplah terlampau personal untuk direduksi dalam simpulan-simpulan umum, hampir dijadikan sama rata.

Hingga saat ini aku tak tahu pasti berapa usia mentalku, kedewasaanku. Fisikku boleh -dan memang jelas- bertambah tua, rapuh. Namun bisa jadi mentalku justru semakin kekanak-kanakan saja. Dari sini aku memetik sebuah pelajaran yang sudah sangat umum: Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu sebuah pilihan.

Ya, dari titik ini ingin kuungkapkan beberapa hal yang mampu kutulis malam ini.

1. Merancang Hidup

Dalam film The Mechanic, ada adegan tokoh utama film tersebut, Arthur, bertemu mentornya McKenna. Saat itu McKenna mengeluarkan sepucuk pistol yang berukir tulisan “Victory Loves Preparation” yang secara bebas dapat diartikan: “Kemenangan adalah milik mereka yang siap”. Ya, betapa banyak hal kesempatan-kesempatan yang kulewatkan karena ketidak-siapanku. Ketidak-siapan itu bersumber dari sikap yang mengabaikan kesempatan untuk belajar. Sekarang aku percaya bahwa seluruh peristiwa yang kualami adalah sebuah rangkaian yang mesti dijalani apa adanya. Lari hanya akan mengakibatkan kebingungan saat rangkaian peristiwa-yang sudah satu paket-datang menjelang.

Kesiapan, ternyata mudah sekali didapat, yaitu dengan tidak memandang hidup dengan sepotong-sepotong. Potongan-potongan nampak karena keterbatasan aku menjangkau bentang waktu yang panjang. Potongan-potongan kecil itu mestinya diterima dengan wajar, bukan dengan rasa puas atau tak puas. Karena hidup masih akan datang dengan potongan-potongan yang lain. Aku mestinya curiga dengan perasaanku sendiri yang sering tak terkendali. Jangan-jangan itu karena kita memandang hidup ini telampau kecil.

2. Iman, Cinta dan Cita-cita

“kesadaran adalah matahari,

kesabaran adalah bumi,

keberanian menjadi cakrawala,

dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata” (W.S. Rendra)

Iman, Cinta dan Cita-cita bukanlah sebuah barang jadi. Ia sering muncul sebagai sebuah ikrar atau pernyataan. Namun semua hal itu tak berhenti dan selesai setelah dicanangkan. “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah”. Ikrar selesai kemudian aku bergulat untuk hidup dalam bingkai Iman yang kita ikrarkan itu. “Aku mencintaimu”. Ikrar selesai kemudian aku jatuh bangun mempertahankan ucapanku itu. “Aku ingin menjadi kritikus seni”. Ikrar selesai kemudian aku melihat dan mengalami sendiri bahwa hidup membawa bermacam-macam kemungkinan lain yang tanpa ku sadari membelokkanku menjadi “sesuatu” yang lain, yang tidak sesuai dengan apa yang ku inginkan semula. Beberapa orang, bahkan banyak, mengatakan bahwa hidup yang nyata sering menjanjikan sesuatu yang lebih baik daripada idea-idea. Kurasa itu tak selamanya benar. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Apakah kita melihat konsistensi seseorang dalam memegang ikrarnya? Atau kita melihat seseorang dengan keadaannya sekarang?

Ada yang berikrar menjadi seniman, dan ia selalu konsisten menghidupi cita-cita itu walau hidup tak pernah membuatnya menjadi seorang seniman tulen. Hanya menjadi setengah seniman. Kemudian ia mati. Ia bisa dikatakan gagal, namun ia konsisten menjaga cita-citanya. Ada orang yang bercita-cita menjadi arsitek, namun hidup dengan segala kemungkinannya yang membingungkan membuatnya menjadi seorang pengusaha yang berhasil. Ia memang sukses menjadi pengusaha, namun ia gagal menjaga cita-cita awalnya.

Semua itu sebenarnya terlalu rumit untuk dihakimi, karena disadari maupun tidak kita tak seteguh itu dalam berikrar. Ruang waktu membawa banyak sekali peluang dan kemungkinan untuk merubah Cita-cita. Entah kapan dan apa motivasi itu hanya kita sendiri yang benar-benar mengerti. Tapi tiap kali kita merubah ikrar kita, kita tentu kembali dituntut untuk konsisten memegang dan menjalaninya. Itulah konsekuensi pilihan. Seseorang menjadi A, B, atau C, melulu hanya karena konsistensinya. Apapun dia.

Demikian juga yang terjadi pada Iman dan Cintaku. Iman dan Cintaku sebenarnya adalah proses memperjuangkan ikrar yang ku ucapkan. Iman dan Cinta sesungguhnya tak pernah terduga rasa dan perwujudnya. Tak seperti yang terkatakan dan terhubung dalam konsep-konsep yang konvensional. Iman dan Cinta adalah kebenaran, dan konvensi selalu meletakkan kita pada kebekuan. Iman, Cinta, terlampau agung untuk berhenti dalam definisi-definisi. Kubiarkan saja ia berangkat dari kekosongan, ketidak-mengertian. Seiring waktu Iman dan Cinta akan mengkristal sesuai pengalamanku. Itulah berkah perbedaan, di titik ini aku menyadari bahwa Tuhan mengajari kita semua dengan cara yang berbeda-beda.

3. Permainan, Manipulasi Kesadaran, dan Hilangnya Kebahagiaan

Jika melihat dinamika hidup dan cara hidup yang selalu berkembang dari masa-kemasa, patutlah kalau aku mengangguk setuju pada rumusan Homo Ludens-nya Johan Huizinga, bahwa pola-pola permainan selalu muncul pada awal-awal terbentuknya budaya. Ya, hidup ini layaknya sebuah permainan di mana kita adalah pemain sekaligus pembuat aturan permainan yang akan kita mainkan. Yang tak mengikuti aturan, yang curang, akan mendapat sanksi.

Betapa sialnya kita yang hidup dan tak kuasa membuat peraturan untuk hidup kita sendiri. Karena manusia terbatas, maka apa mampu ia pikir dan perbuat adalah sebatas yang pernah ia alami dan ketahui (sebagai referensi). Dari referensi itulah manusia membuat prediksi. Sialnya lagi, kita tak pernah ditanya apa yang benar-benar kita inginkan, apa yang membuat kita bahagia.

Hari ini kita saksikan betapa banyak bayi lahir yang tak lagi memiliki dirinya sendiri. Ia adalah pemain baru dalam hidup yang sangat sial nasibnya. Karena ia disambut oleh aturan permainan (the rule of the game), yang dirancang oleh generasi yang lebih dulu lahir dan “bermain”.

“Hey! Jangan berlari-lari! Berbahaya!”, kata seorang Ibu. Ia tak merasakan betapa si anak sangat berbahagia karena ia bisa berlari-lari. Hari ini anak-anak dipaksa menjalani pendidikan yang “memaksa”. Para generasi tua berdalih bahwa “masa depan” begitu kompleksnya, karena itu generasi muda harus dipersiapkan untuk menghadapinya. Percayalah, bahwa di zaman apapun manusia lahir, dunia tetaplah sederhana saat manusia itu masih balita. Kesadaran adalah landasan manusia memahami dunianya. Kesadaran ini juga bertingkat-tingkat, dan tidak menutup kemungkinan terjadinya overlap. Kesadaran dibentuk oleh kebudayaan dan karena itulah sebenarnya kesadaran bisa dimanipulasi.

Jadi sebenarnya apa yang terjadi saat ini adalah upaya manipulasi kesadaran. Tak bisa sepenuhnya disalahkan memang, karena manusia selalu ingin menjadikan kehidupan “lebih baik”. Lebih baik untuk siapa? Dengan terlalu menentang apa yang alami, yang sewajarnya, tanpa sadar kita sering mengorbankan kebahagiaan seseorang yang mungkin tergapai pada masa-masa khusus, hanya karena rasa cemas generasi selanjutnya akan tertinggal. Generasi tua sering menganggap remeh keunikan hidup yang akan dijalani setiap orang nantinya. Jangan-jangan hari ini kita bukanlah kita yang sebenarnya karena pikiran kita adalah hasil rekayasa generasi tua “pembuat aturan main” itu. Kita patut bertanya dan berpikir kritis, dan kekritisan hanya akan muncul dengan cara mengawinkan kehidupan yang kita jalani sehari-hari dengan refleksi. Namun akhirnya sikap kritis itu hanya berujung pada pertanyaan yang mencemaskanku: Siapa aku sebenarnya?

4. Hidup dalam Pergulatan Sesungguhnya

Segala yang dapat diketahui dan dipahami adalah proses. Dalam proses ada sebuah keadaan di mana-mau tak mau- kita dipaksa membuat hipotesis. Tanpa hipotesis kita akan selalu terapung-apung dalam hidup yang tak menentu. Sedang hidup selalu butuh pegangan sesuai keadaan yang kita alami pada suatu waktu tertentu, sedang simpulan ternyata tak kunjung tergapai karena ia terikat ruang-waktu yang tak pernah tetap. Kesadaran yang lebih tinggi diperlukan untuk mewaspadai timbulnya perasaan “merasa benar”. Karena kebenaran-kebenaran yang lain masih menanti untuk kita jumpai dalam perjalan hidup yang panjang dan tentu tak terduga ini.

Ada saatnya kita gagal dalam menggapai tujuan-tujuan kita, lalu kita kecewa, tak mengapa jika kita hidup sendirian. Namun kita ternyata tak bisa hidup semau kita sendiri, karena pada kenyataannya kita selalu membutuhkan orang lain untuk mencapai hal-hal yang kita inginkan, lebih dari itu, ternyata hidup kita tak sepenuhnya milik kita walau diawal tulisan kukatakan bahwa kita berhak membuat aturan hidup kita sendiri (karena ini adalah hidup kita sendiri). Akan ada yang ikut merasakan akibat dari keputusan dan tindakan kita.

Cita-cita terkait dengan keluarga, Cinta (platonik) terkait dengan kekasih, dan Iman melibatkan Tuhan.

Jika kita gagal menggapai cita-cita, kita akan kecewa, dan bisa jadi keluarga kita turut serta di dalamnya. Jika kita gagal membuktikan cinta, kita akan bersedih, dan bisa jadi kekasih kita akan kecewa, marah, dan menangis. Jika kita gagal merawat Iman kita, kita akan kehilangan sandaran hidup, dan bisa jadi Tuhan akan murka.

Saat ini adalah saat bagiku untuk (kembali) merenungkan lagi apa yang telah kucapai dan telah gagal kugapai dalam hidup, apa yang telah kuperbuat kepada diriku dan orang lain. Setahuku, aku sering membuat semuanya menangis: Keluarga, kekasih, dan Tuhan.

Keluargaku dan kekasihku menangis karena kecewa padaku. Aku tahu tuhan menangis, tapi aku tak tahu karena apa Tuhan menangis, tentu bukan karena Tuhan cengeng.

Entah, aku heran kenapa aku menulis macam-macam. Padahal aku tak memiliki Cita-cita, Cinta, dan Tuhan.

Aku tak memiliki apa-apa.

(Terimakasih untuk sahabat-sahabatku, kepada kalian jualah bangsat ini berguru. Surakarta, 3 Desember 2011)

 
Copyright © 2013 FARIHA ILYAS
Design by FBTemplates | BTT