Rabu, Oktober 19, 2011

Kita dan Waktu Ini

Oleh: Fariha Ilyas Kawan, entah dari mana datangnya gejolak untuk menuliskan surat sederhana ini. Aku sendiri tak pernah benar-benar mengerti apa sebenarnya yang membuat kita memikirkan sesuatu, yang kadangkala begitu kuatnya hingga sesuatu itu tak hanya ingin bersemayam di dunia pikiran, ia ingin menerobos keluar, bergabung dengan khidupan kita senyatanya. Kawan, bisa jadi apa yang kita katakan sebagai hubungan persahabatan itu palsu belaka, karena toh kita berhubungan atas dasar dorongan [...]
Baca Selengkapnya... → Kita dan Waktu Ini

NERAKA VERSI SETAN

Oleh: Fariha Ilyas Di sebuah tempat yang tidak tercatat dalam kitab suci, setan baru saja kembali dari perjalanannya bercengkerama dengan rekan-rekannya di planet tempat tinggal manusia. Tak seperti biasanya, kali ini ia pulang lebih cepat dari biasanya. Jutaan setan masih berada di tempat manusia berada, mereka masih bersatu dengan banyak manusia. Setan berdiri tegak memandangi bumi, matanya dengan tajam melihat setiap peristiwa yang terjadi nun jauh di benda kecil seperti butir pasir. [...]
Baca Selengkapnya... → NERAKA VERSI SETAN

MODI

Oleh: Fariha Ilyas “Aku melihatnya sekali berdansa di depan patung Balzac. Wajahnya sangat tampan, tangannya sangat anggun, sama seperti ia melambaikan senyumannya. Ia adalah semua diriku dulu, maka aku curi momen itu dan menyimpannya ke dalam pikiranku, untuk menghiburku di akhir hayatku” (Pierre Auguste Renoir, dalam The Winner) Yang dimaksud dalam catatan Renoir tersebut adalah Modigliani, nama lengkapnya Amedeo Modigliani, yang lebih suka dipanggil “Modi”, seorang seniman asal italia. [...]
Baca Selengkapnya... → MODI

Mbok Nar dan Rindunya

Oleh: Fariha Ilyas Jam dinding tua tak berdetak, jarum panjangnya berhenti di angka lima, jarum pendeknya terpaku di angka sembilan. Sudah tujuh tahun roda-roda mekaniknya tak saling merengkuh, bergesek dan menggerakkan. Di bawah jam kotak yang kacanya buram dan berdebu itu duduk seorang perempuan renta, mbok Nar, begitu ia biasa dipanggil. Sedari subuh tadi mbok Nar hanya duduk termangu di kursi tua yang terbuat dari kayu dan anyaman rotan, tatapannya kosong, mulutnya terkatup rapat, [...]
Baca Selengkapnya... → Mbok Nar dan Rindunya

Anak-anak Cinta

Oleh: Fariha Ilyas Dari cinta kita bermula, begitulah kira-kira. Kita lahir dari buah cinta dua manusia yang ingin berpadu menapak hidup, bersama menjejakkan langkah menuju kehidupan yang paripurna, begitu katanya. Seperti kita pula, mereka-orang tua kita- adalah manusia yang hidup dengan menghirup wewangian cinta yang menembus zaman. Barangkali cinta adalah makhluk yang dikaruniai usia paling panjang di alam ini, seperti halnya antitesisnya: Kebencian. Saat kita tumbuh dan mengakrabi semesta [...]
Baca Selengkapnya... → Anak-anak Cinta

Pertemuan dengan Tubuh

Oleh: Fariha Ilyas Kadangkala ada yang janggal saat banyak ritual ibadah yang pelan-pelan berubah wujud menjadi sebuah rutinitas belaka. Memang dimensi waktu yang dipadu dengan titik-titik pemberhentian yang nyaris sama seringkali membuat kesan bahwa rutinitas adalah sesuatu akan lahir dengan sendirinya seiring gerak kontinyu kita. Ya, rutinitas adalah anak sah dari kontinuitas. Namun di saat yang sama, kehadiran yang lain (the other) menjadi sebuah kerinduan tersendiri dalam memoles rutinitas [...]
Baca Selengkapnya... → Pertemuan dengan Tubuh

HARI

Oleh: Fariha IlyasUntuk kawan-kawanku Hari ini mungkin adalah hari biasa, hanya sebuah keberlanjutan dari hari kemarin. Tak ada yang berbeda dengan hari ini, kemarin, atau esok. Hari hanyalah penanda untuk mematok perjalanan waktu yang tak pernah berhenti. Hari ini menjadi berarti karena sesuatu yang kita lekatkan kepadanya. Banyak hal yang selalu ingin kita ingat, kita kenang, kita maknai, kita peringati. Bisa jadi hal itu terjadi karena rasa takut kita akan kehilangan sebuah ingatan. Namun [...]
Baca Selengkapnya... → HARI

Surat Untuk Dua Kekasihku yang Satu

Oleh: Fariha Ilyas Empat belas hari, empat belas hari aku berusaha menjelajahi apa yang dapat kupahami atau kuterka dari semua hal yang pernah terjadi. Satu hal saja telah membuatku kehabisan tenaga, aku berpikir tentang satu hal yang menjadi puncak pencarian manusia, Cinta. Sebelum membicarakan hal itu banyak sekali tahap-tahap yang mestinya kita lewati. Dalam alur pikirku yang tak beraturan ini aku mulai merasakan sempitnya dunia kita masing masing. Aku merasa hidup dalam sangkar kecil [...]
Baca Selengkapnya... → Surat Untuk Dua Kekasihku yang Satu

RINDU BAYANG-BAYANG

Oleh: Fariha Ilyas Tak terhitung lagi hikayat tentang malam purnama yang diwarnai berbagai peristiwa. Rembulan purba yang mencapai puncak terang [...]
Baca Selengkapnya... → RINDU BAYANG-BAYANG