Saudara-saudaraku sekalian..
Jum’at ini kita lagi-lagi berkumpul untuk sembahyang bersama, seperti jum’at-jum’at yang lalu. Saya sebenarnya agak merasa bimbang beberapa hari ini, apa yang harus saya sampaikan untuk diri saya sendiri yang bodoh ini. Saya bisa mangkir, dan memilih untuk menenggelamkan diri di perpustakaan, atau hiking sekadar untuk merasakan kebesaran alam, dan tak perlu lagi saya ucap apa-apa kepada diri saya ini.
Namun, saya pada akhirnya mesti harus tetap menjalankan tugas [...]
Senin, Desember 15, 2014
15
Des 2014
Posts by : Fariha Ilyas
Khotbah Wayne Mies di Masjid para Imigran
Baca Selengkapnya... → Khotbah Wayne Mies di Masjid para Imigran
15
Desundefined
Posts by : Fariha Ilyas
Kata yang Menunggu
Kisah ini baru saja dimulai. Ya, baru saja. Aku ingin memulainya saat tak lagi ada cerita masa lalu yang dapat kuingat. Orang selalu butuh cerita. Tak hanya butuh, tetapi orang memang hidup dalam sebuah cerita.
Hidup adalah cerita yang tak pernah jelas kapan dimulainya. Di dalamya kita kadang-kadang berpikir, mencari cara, merancang akhir. Tak semua mesti dipikirkan, memang. Seperti saat kita bicara di sebuah kafe suatu sore. Kata-kata meluncur begitu saja seperti hembus angis di sawah [...]
15
Desundefined
Posts by : Fariha Ilyas
Kejahatan yang Bernyawa
Sekar, malam ini aku tak pulang. Kubalikkan arah setelah hampir saja aku tiba di halaman rumah. Jalanan sepi malam ini. Lebih senyap lagi gang-gang kecil yang kulewati. Di salah satu gang kudapati tikus got yang sepertinya baru saja mati.
Ah, seekor tikus yang mati. Pikiranku melayang jauh ke tanah seberang. Di mana banyak sekali manusia yang mati. Mati dibunuh. Ya, dibunuh dengan keji. Tiada kata yang cukup kasar untuk menggambarkan kebiadaban yang begitu nyata membuat manusia sendiri menjadi [...]
15
Desundefined
Posts by : Fariha Ilyas
Surat Malam: Jiwa yang mencari Jiwa
I
Sekar, malam-malam lalu sempat gemuruh, langit memerah. Sebongkah gunung muntah. Aku mendapati diriku di kamar bersama setumpuk buku yang hampir lekat selalu, meski kadang tak perlu. Ingatan-ingatan membawaku pulang ke rumah, di pangkuan ibu. Dua hari lalu tepat tiga tahun ia pergi ke sang maha tahu. Aku merindukannya sekarang.
Sekar, pernah suatu malam aku tengadah ke langit. Aku bicara kepada yang maha luas itu. Bukankah dulu kita pernah berdo’a di tepian samudera biru? Kita selalu [...]
Langganan:
Postingan (Atom)