Kamis, April 21, 2011

Surat Untuk Han (5)

Oleh: Fariha Ilyas


Sore ini jendelaku menjadi jalan bagi suara rintik hujan di luar sana, tiba-tiba aku terjaga, entah berapa lama aku tertidur tadi. Setengah sempoyongan kulangkahkan kaki menuju jendela, dingin menyentuh wajahku saat kulongokkan kepalaku ke luar. Dari jendela kamarku di lantai 2 ini bisa kudapatkan pandangan yang cukup luas, daun-daun berayun-ayun bersama rantingnya ditingkahi rintik hujan yang kemudian jatuh ke tanah. Hujan yang begitu akrab. Kuraih NoteBook-ku yang sedari tadi memutar lagu Yang Terlupakan-nya bang Iwan Fals berulang-ulang. Mulai kutulis lagi surat ke-5 Untuk Han.


Han, surat balasanmu telah kubaca berulang-ulang, dan aku mengerti apa yang kau maksudkan padaku. Tapi kau tak mengerti semuanya, Han, kau tak ada di sini melihat betapa banyak hal yang sulit sekali kumengerti.


Kita, manusia, dilahirkan sebagai makhluk yang bebas, entah apa kita pikir dan perbuat tentu itu menjadi tanggung jawab kita masing-masing. Yang tak kupahami adalah kenapa banyak manusia dengan mudah menyalahkan, menghujat, bahkan merendahkan manusia lainnya dengan dalih-dalih yang lepas dari rasionalitas manusia sendiri. Mereka berdiri di belakang tameng-tameng Agama, kepercayaan, yang secara konkrit sulit ditakar sebenarnya. Lalu dengan seenaknnya manusia-manusia itu mengklaim suatu kebenaran, mengatakan bahwa apa meraka yakini itulah yang paling benar. Apa yang sebenarnya terjadi? Sejak kapan Tuhan mengangkat juru bicaranya yang sah di muka Bumi ini, Han?. Bagiku hal semacam itu membingungkan, saat seseorang berbicara kebenaran, bukankah hati ini seharusnya menciut? Karena betapapun usaha manusia menyingkap segala rahasia semesta ini selalu saja ada ruang kosong yang tertinggal. Bukankah sejarah telah mengajarkan itu, Han?


Jika segala hal dipusatkan pada suatu standar, apakah mungkin kita hidup dengan cara seperti itu? Apa yang banyak orang katakan tetang iman, bukankah itu adalah sesuatu yang sangat personal sifatnya? Cobalah tanyakan pada orang-orang, bagaimana persepsi mereka tentang Tuhan? Bagaimana sang pencipta bersemayam di hati mereka? Bagaimana secara psikis mereka menerima dan meyakini Tuhan?. Hal-hal yang berhubungan pikiran bisa diajarkan, Han, bisa ditransfer melalui proses belajar. Aturan ini-itu bisa dipahami secara merata, tanpa meninggalkan celah, jika mau. Namun soal hati, siapa yang bisa mengaturnya? Apakah sekelompok orang dengan label sama akan berhati sama? Memiliki perasaan yang sama? Aku yakin tidak Han. Maka kukatakan bahwa apa yang mereka teriakkan itu adalah sebuah ironi sebenarnya.


Ada orang yang gemar sekali mengutip ayat-ayat dari kitab sucinya, dengan berbagai tujuan, ada yang dengan rendah hati ingin mengatakan sebuagh kebenaran, ada yang dengan angkuh mengutipnya dengan tujuan melegitimasi segala tindakannya yang tak lain tak bukan melulu berasal dari hawa nafsunya. Mereka berteriak-teriak menyebut nama yang mahatinggi, sambil menginjak derajat sesamanya serendah-rendahnya. Masihkah mereka disebut manusia, Han?


Bagaimana kita bisa hidup berdampingan seperti mimpi-mimpi beberapa orang dari kita? Yang sedari dulu jengah dengan segala peristiwa yang tak pantas kita ceritakan pada anak cucu kita nanti. Segala peristiwa yang menunjukkan kebebalan kita sendiri saat ini.


Hatiku perih sekali Han, saat kumelihat bagaimana seorang manusia berbuat sesuatu yang tak layak diperbuat kepada manusia lainnya. Bagaimana dengan angkuhnya seseorang mampu berdiri dengan tegak, dengan keyakinan yang pasti, tentang janji-janji surgawi yang mereka dengar. Tanpa sedikitpun menghiraukan sisi kehidupan yang lain, yang merupakan milik sesamanya yang lain? Aku tak habis pikir. Aku memang belum pernah mengalami sebuah penghinaan yang besar, yang melecehkan harga diriku, merendahkan martabatku, namun aku selalu berharap agar martabat dan harga diri yang disebut oarang-orang itu itu tak sampai melekat-lekat dalam diriku, agar jika itu semua terusik, aku tak perlu terlalu merasa terusik juga. Biarlah yang memiliki hidup kita ini saja yang menilai. Tugas kita di dunia ini adalah memanusiakan diri kita sendiri, itu saja.


Aku lelah sekali, Han. Aku ingin berbagi denganmu. Walau tak ada yang berubah secara drastis dari apa yang sedikit bisa kuceritakan padamu. Namun aku yakin bahwa semua orang pada dasarnya memiliki kerendahan hati dan kasih sayang kepada sesamanya.


Kuhentikan jari-jemariku, aku berdiri dan melangkah menuruni tangga. Hujan belum reda, masih ada rintik-rintik kecil yang tersisa, kuhirup udara sore ini, lega sekali. Namun pikiran masih berkecamuk dan hatiku masih bergemuruh. Samar-samar, terlintas wajah yang tak asing lagi. Han.

(Madiun, sore biasa, 3 Februari 2011)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis apa yang anda pikirkan terkait tulisan-tulisan saya