Senin, Desember 15, 2014
Surat Malam: Jiwa yang mencari Jiwa
Selasa, Oktober 07, 2014
Sebuah Cerita tentang Sore
Sabtu, Februari 18, 2012
Bayi Sang Nabi
Oleh: Fariha Ilyas
Rambutmu tergerai ditiup angin
Seperti gelombang di samudera
Kau berdiri di padang Sahara
Tubuhmu kotor mandi keringat
Matamu tajam seperti elang
Kau menangkap kilau kedalaman
Kau rengkuh mentari
Kau sirami tubuhmu dengan kemilau cahaya
terpancar ke seluruh penjuru jagat raya
Kau dekap rembulan
Kau lumuri wajahmu dengan sinar keteduhan
Menyelimuti bumi beserta isinya
Kami menangis merinduimu,
kami merintih mencintaimu
Dalam doa 'ku selalu memuja
Keselamatanmu dan sahabat
Serta seluruh umat di dunia
Kau rengkuh mentari
Kau sirami tubuhmu dengan kemilau cahaya
Terpancar ke seluruh penjuru jagat raya
Kau dekap rembulan
Kau lumuri wajahmu dengan sinar keteduhan
Menyelimuti bumi beserta isinya
Kami menangis merinduimu
Kami merintih mencintaimu
(Kau Rengkuh Mentari Kau Dekap Rembulan, Ebiet G. Ade)
Kepada yang sama dengan kami, inilah ungkapan dari kami yang kehilanganmu, yang luput dalam membaca jejak-jejak manusia paripurna:
Salamku kepadamu yang tak lekang dalam ingatan alam, yang pelan-pelan mulai terkikis tipis-tipis dalam memori kami yang menjadi pikun saat namamu disebut. Maafkan kami jika saat ini kami masih saja sering bertanya: siapa kau sebenarnya?
Kau yang sama dengan kami, yang telah diperkenalkan oleh jagad sebagai raja sejati kemaharajaan manusia. Tak ada kebanggaan selain dipimpin oleh seseorang yang merupakan bagian dari kami sendiri, jiwa kami sendiri. Karena kau mengerti rasanya menjadi kami. Kau tahu rasanya menjadi kita.
Kau yang sama dengan kami, adalah pancaran cahaya yang menerangi dalam gulitanya hati, mengiring langkah, menuju titik tujuan tak terukur. Kami selalu lupa bahwa kau tak mati, bahkan kau selalu lahir kembali. Untuk itulah kami tak pernah berpikir mengingat hari kematianmu karena itu hanya akan membuatmu benar-benar mati. Kami hanya ingin memperingati hari kelahiranmu, untuk meneguhkan bahwa kau selalu ada menemani kami berjalan ke arah asal, pulang.
Tanpamu kami merasa nyaman dengan pikiran-pikiran kami, keasyikan dalam simpulan-simpulan yang kami rajut sendiri. Untuk itulah kemudian kami menerawang sejarah, mencarimu lagi yang tak lagi jelas dalam ingatan. Kami ingin melahirkanmu lagi di sini, di zaman yang kadang sulit kami mengerti sendiri.
Akan kami timang bayimu, Sang Nabi, dengan rasa bahagia, dengan syukur tak terkira.
Lucunya, tapi memang, di Zaman ini kau seperti bayi, ucapmu tak terpahami.
(Surakarta, 17 Februari 2012)
Tangis Rindu dalam Rahim Ibu
Oleh: Fariha Ilyas
Barangkali kita lupa bahwa dulu kita menjerit-jerit dalam rahim ibu, saat ruh kita terpisah dari ruhnya. Saat diri kita terpisah dari dirinya, memasuki alam kasar, kehidupan fisik ini. Tangis itu tak pernah terdengar hingga ke luar, karena itulah tak ada orang yang tahu.
Kita menjerit sejadinya tatkala kita keluar dari rahim ibu, itulah tangis kita yang pertama terdengar orang lain, yang merambat ke telinga mereka melalui udara. Namun sebenarnya itu adalah tangisan kesekian kalinya yang keluar dari mulut kita. Itu hanyalah sisa-sisa. Dapat kita bayangkan betapa dahsyatnya tangisan kita sebelumnya, saat perpisahan itu baru terjadi.
Langsung saja setelah kita lahir, di telinga kita dibacakan nama tuhan, agar kita tak merasa asing di sini, agar kita tak kebingungan, agar kita yakin bahwa yang kita rindui-yang kita berpisah darinya-juga berada di alam ini.
Namun yang selalu dirindui itu tak pernah berperilaku biasa. Ia selalu membingungkan, membuat kita nyaris selalu meleset mengenalnya, mengenal sang kekasih yang kini sering menjadi asing. Orang-orang yang merinduinya mencoba menggambarkannya dengan beragam bentuk, citra, dan cerita. Itulah akibat dari sebuah kerinduan hakiki yang tak terobati, seperti tanya yang kunjung terjawab, yang memaksa si penanya menggagas jawaban sendiri.
Sayang memang, kembali ke rahim adalah hal tak mungkin, untuk mendekat kepada saat tangis kita yang pertama. Ialah mimpi, ialah ujung pangkal perjalanan umat manusia. Yang hidup memekik tangis, iri kepada yang telah kembali kepada tangisannya. Yang kembali menangis lagi dalam rahim ar-rahiim.
Seperti para sahabat yang merinduimu, maka kubentangkan jalan menujumu yang selalu membuatku rindu untuk menangis. Datanglah, datanglah wahai inti kehidupanku. Dalam garang, dalam warna-warna, dalam suara membahana. Obatilah rindu ini. Sejenak saja.
(Surakarta, 17 Februari 2012)
Semalam Aku Pergi ke Sorga
Oleh: Fariha Ilyas
Inilah cerita, yang katanya tabu
Inilah cerita yang tak seorangpun tahu, termasuk aku
Yang belum mati, yang masih takut mati
Semalam aku pergi ke sorga
Dengan angan-anganku sendiri
Kugendong sekantong cinta
Yang di sana tak berarti
Semalam aku pergi ke sorga
Melewati dingin, dihantar ingin
Kutemui kau di sana
Menyajikan kehangatan yang tak mungkin
Di sorga ada kau, ada mereka semua
Lalu datang aku, turut serta
Kita bicara, lagi-lagi tentang cinta
Yang di sorga tak berguna
Tak ada lagi cinta dan cita-cita, harusnya
Tapi apa nikmatnya mendapat tanpa pinta?
Lalu kita ubah sorga itu
Dengan beberapa cuil nafsu
Entah, tak pernah kita dapat yang kita minta, semalam
Namun kita tak protes, kita hanya diam
Mungkin semalam aku memang berada di sorga
Merasakan semua hal jadi tak berguna
Karena di sorga, kita tak butuh apa-apa
(Surakarta, 17 Februari 2012)
