Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Februari 18, 2012

Semalam Aku Pergi ke Sorga

Oleh: Fariha Ilyas


Inilah cerita, yang katanya tabu

Inilah cerita yang tak seorangpun tahu, termasuk aku

Yang belum mati, yang masih takut mati


Semalam aku pergi ke sorga

Dengan angan-anganku sendiri

Kugendong sekantong cinta

Yang di sana tak berarti


Semalam aku pergi ke sorga

Melewati dingin, dihantar ingin

Kutemui kau di sana

Menyajikan kehangatan yang tak mungkin


Di sorga ada kau, ada mereka semua

Lalu datang aku, turut serta

Kita bicara, lagi-lagi tentang cinta

Yang di sorga tak berguna


Tak ada lagi cinta dan cita-cita, harusnya

Tapi apa nikmatnya mendapat tanpa pinta?

Lalu kita ubah sorga itu

Dengan beberapa cuil nafsu


Entah, tak pernah kita dapat yang kita minta, semalam

Namun kita tak protes, kita hanya diam

Mungkin semalam aku memang berada di sorga

Merasakan semua hal jadi tak berguna


Karena di sorga, kita tak butuh apa-apa



(Surakarta, 17 Februari 2012)

Baca Selengkapnya... → Semalam Aku Pergi ke Sorga

Selasa, Januari 24, 2012

Risau Malam

Oleh: Fariha Ilyas



Malam menyimpan sejuta kejahatanku rapat.
Dalam peti-peti tua berkarat
Tarian iblis kutonton sendiri
Dan rasanya seperti bercermin

Aku diam, menatap genting yang tak jelas
Karena lampu padam
Rencana-rencana sepertinya menjadi gugup
Terserang imaji akan masa depan yang tak pasti datang

Dalam malam, dalam risau tak terlihat
Hanya ada alam dan diam

Peti-peti yang lain kubuka
Masa lalu saja isinya
Tebal, tersusun acak
Tak seteratur ensiklopedia

Malam menguak kekayaan pikir
Ada optimisme
Dan rasa khawatir
Menghadapi bentang takdir



(Malam sakit, sepi. Madiun, 12 Januari 2012)
Baca Selengkapnya... → Risau Malam

Senin, Januari 23, 2012

Kenapa Kau Tak Mencintaiku Saja?

Oleh: Fariha Ilyas


Tataplah mataku

Sejenak saja

Sebelum keputusan

Sebelum tindakan


Tataplah mataku

Dan temukanlah duniaku

Kau akan terhenyak

Karena duniaku adalah sama

Dengan duniamu


Kenapa tak kau tatap mataku?

Kau takut menemukan bayang dirimu di sana?

Kenapa kau buang pandanganmu dari mataku?

Kau tak ingin kegamangan menyergapmu?


Ya, Iblis tak pernah punya kekuatan saat menatap ketegaran manusia


Karena Cinta pembunuhan ada

Karena Cinta ketegaran tak binasa

Tapi apa arti ketegaran?

Jika akhirnya jiwa harus tinggalkan dunia

Dengan paksa

Kenapa kau tak mencintaiku saja?


Cinta adalah nyawa

Tapi seperti cinta

Kebencian dan angkara

Sulit dimusnahkan

Dari benak manusia


Karena ia juga punya nyawanya sendiri


(Malam. Surakarta, 10 Januari 2012)

Baca Selengkapnya... → Kenapa Kau Tak Mencintaiku Saja?

Buram

Oleh: Fariha Ilyas


Rembulan akan buram semalaman

Kau percaya aku?

Ya, buram semalaman

Rabun


Saat itulah kita mestinya.......


Melupakan hari-hari muram yang selama ini

Tanpa pernah berhenti menakut-nakuti

Melumpuhkan, menjebak kita dalam ruang sempit

Mendesak, nyaris membuat kita mati terhimpit


Saat itulah kita harusnya........


Bergandeng tangan, berjalan memutari taman dengan suka-cita

Sambil terus tersenyum, terus melangkah, menginjak-injak duka

Jangan pikirkan lagi ancaman, atau gertak-gertak

Yang merenggut, memaksa, merusak


Saat rembulan buram semalaman

Setelah berkeliling taman

Setelah bergandeng tangan

Setelah duka binasa


Saat itu kita selayaknya........


Berpelukan di simpang jalan

Menangis untuk yang terakhir kalinya

Dan sama-sama melepaskan diri dari apa yang kita ingini selama ini

Kukecup kau dalam segala rela


Tanpa sentuhan lagi

Tanpa kata-kata lagi


Suatu malam, sepanjang malam itu

Rembulan akan menjadi buram

Kau percaya aku?

Percayalah


Karena malam ini rembulan sudah

Ia buram, semalaman

Menurut titah


Tapi kita tak ada di taman

Di ujung jalan

Berpelukan


Kita tak diseret waktu

Untuk saling bertemu

Saat sang saksi peristiwa malam

Menjadi buram


(Dini hari. Surakarta, 9 Januari 2012)

Baca Selengkapnya... → Buram

Bendera Koyak

Oleh: Fariha Ilyas


Sehelai bendera koyak-koyak

Berkibar lincah di ujung tiang bambu

Seorang tua berdiri dengan sikap hormat penuh

Ia seorang mantan prajurit, katanya sendiri


Konon ia menjadi gila setelah ia dipecat

Karena dituduh bekhianat pada negeri

Itulah tragedi hidupnya, juga konon katanya

Ia bercerita tempo hari di warung kopi


Siang terik, matahari memanggang apa saja

Setelah cangkulnya ia lepaskan dari genggaman

Ia pergi ke tanah kosong tempat berdirinya tiang bendera bambu

Ia menghormat kepada bendera lusuh itu


Entah apa isi kepalanya

Karena ia mantan prajurit?

Karena ia cinta negeri?

Sepertinya tidak, bukan


Karena bendera itu bukan bendera negeri ini

Bendera itu hanyalah sepotong kain lusuh dan koyak

Aku hanya menebak saja

Mungkin itu bekas kain istrinya


Karena toh orang bebas menghormati

Dan menghargai apa saja

Yang memang punya nilai istimewa

Dalam hati sanubarinya


Hari-hari selanjutnya

Ia masih saja menghormat

Seperti biasa

Di sela-sela sibuk kerjanya

Walau kain itu

Telah kulepas

Kucuri

Untuk mengerti

Apakah ia waras

Atau gila

Sepertiku


(Malam. Surakarta, 8 Januari 2012)

Baca Selengkapnya... → Bendera Koyak

Dalam Sketsamu

Oleh: Fariha Ilyas


Sketch by: Anonymous


Merinding aku

Membuka lembar-lembar lama

Dari atas rak bukumu

Yang kau tinggal pergi berkelana


Bergetar aku

Dan malu menemukan aku yang selalu ragu

Menjalani hidup

Dengan terus saja maju mundur, selalu


Kau berbeda

Sketsa dengan tinta hitam yang mengatakannya

Tak tersimpan ragu di sana

Yang ada hanya gelora


Lugas caramu

Cepat, kau bertarung melawan waktu

Kau berpacu dengan kesan yang cepat sekali berlalu

Semuanya sempurna, dalam sketsamu


Dalam sketsamu ada jalan hidup

Yang kau pilih

Yang kau tempuh senyatanya

Dalam hidup penuh impresi


Tak lama, tak lama

Secepat yang kubayangkan tentang sketsa dengan tinta hitam

Yang dengan cepatnya menohok pikirku, menghantam

Ada yang salah, sepertinya


Dalam caraku

Dalam langkahku

Dalam pikirku


Semua terjelaskan

Dalam sketsamu


(Malam. Surakarta, 8 Januari 2012)

Baca Selengkapnya... → Dalam Sketsamu

Kucing-kucing dan Melodi Malam Sepi

Oleh: Fariha Ilyas


"Rainy night scene" by Zerotwospirited


Lampu-lampu kuning dan kota yang sepi malam ini

Di gang-gang tak ada orang

Kota yang pulas dalam selimutnya yang melelapkan

Kota yang selalu kuakrabi waktu malam


Dalam langkah-langkah biasa

Sampailah aku di ujung salah satu gang

Dengan duduk bersandar pada tembok tua itu

Ia meniupkan melodi-melodi malam


Ia kawanku, kawan yang tak kukenal

Namun seringkali mengakrabiku

Dengan melodi-melodi malam sepi

Yang bicara sendiri dengan liukan nada-nadanya


Seekor kucing melintas di depanku

Entah ke mana ia akan pergi

Tak nampak lagi setelah melompat di balik pot-pot tanaman

Yang tertata di halaman sebuah rumah


Melodi-melodi malam berganti

Ia makin lama makin panjang

Makin meliuk suram

Melengkapi kuningnya kota


Kawan yang tak kukenal semakin asyik saja rupanya

Menabur nada-nada dalam sendirinya

Tak peduli aku ada atau berlalu

Ia tetap senang meniup lagu sendu


Aku melangkah berbalik arah, menuju jalan besar

Diiringi melodi malam yang lamat-lamat terdengar

Melambari langkahku dengan cerita yang tersembunyi

Yang hanya sang peniup harmonika yang mengerti


Seekor kucing melintas di depanku

Entah ke mana ia akan pergi

Ia bukan kucing yang tadi

Aku tak ingin memikirkannya lagi


Tapi seekor kucing melintas lagi

Dengan mata yang berkilat

Berjalan pelan

Entah ke mana


Lalu seekor lagi melintas

Seekor lagi

Seekor lagi

Banyak sekali


Apakah ini mimpi?

Ke mana kucing-kucing itu pergi?

Di malam dingin dan sepi begini

Bagiku yang sok tahu tentang pikiran kucing

Lebih baik tidur mendengkur hingga pagi


Tapi kucing-kucing juga punya agenda sendiri

Sepertiku juga barangkali

Yang selalu senang menyusuri malam

Yang membius kota setelah hujan


Barangkali kucing-kucing itu

Sedang membuat pesta

Atau semacam pertemuan penting

Yang membahas soal-soal hidup mereka


Ah, aku hanya berhayal tentang kucing-kucing kota


Melodi malam semakin lirih

Walau masih mengiris perih


Kucing-kucing kota

Lampu kuning

Aku

Kawan yang tak kukenal

Harmonika

Nada-nada

Aku terbius selimut malam

Di kota sepi

Setelah hujan

Kesadaranku tinggal separuh

Selebihnya

Hanya hayal

Membangun kenyataan yang tak utuh



(Malam. Surakarta, 8 Januari 2012)

Baca Selengkapnya... → Kucing-kucing dan Melodi Malam Sepi

Resahku dalam Kereta

Oleh: Fariha Ilyas


Kita bisa pergi sekarang!

Katamu sambil melempar buku

Dan mulailah kau berkemas

Tasmu kau penuhi dengan baju-baju


Aku hanya bisa mengekor dibelakangmu

Dengan ragu-ragu

Bahkan raguku tak sedikitpun berkurang

Saat kau membeli tiket kereta


Kau duduk di dengan tenang

Mengepulkan asap rokok

Yang telah berkali-kali keluar dari kotaknya

Kereta belum saatnya tiba


Aku memandangi tubuhmu yang kurus

Rambutmu yang mulai panjang tak rapi

Tapi segaris tarikan otot wajahmu menyiratkan api

Aku tak selalu mengerti, api apakah itu


Kereta tiba

Kau langsung duduk di sisi dekat jendela

Aku bersandar di bahumu

Melihat rumah-rumah yang berdesak di kota

Dan sawah yang luas di desa-desa


Indahnya perjalanan ini, sebenarnya

Namun aku sedikit bimbang, juga sebenarnya

Sudah terlalu lama kita pergi tanpa tujuan

Walau kau nampak tegas saat membeli tiket tadi


Di sana, katamu, akan ada kejutan untuk kita

Di sana, katamu, selalu ada sambutan hangat untuk kita

Namun aku masih bimbang, terlalu sering ucapmu begitu

Dan tak selalu tenangkan hatiku yang meragu


Kau tertidur, dalam deru kereta

Malam sudah pekat, sepekat segelas plastik kopi

Yang mulai dingin di genggamanku

Aku menatap wajahmu


Tak ada lagi api di sana


Sayang, aku selau suka melihatmu tertidur

Kau pasti sedang dalam dunia yang tak menyakitkan

Kalaupun kau terjebak di sana, itu hanya mimpi yang semu dan kabur

Di sinilah mimpimu yang sebenarnya, dalam kenyataan


Mimpi itu menjadi gemuruh di kepalamu

Layaknya deru mesin kereta yang membawa kita

Sayang, mimpi itu kadang perlu kau lupakan

Seperti kau melempar buku sebelum kita berangkat tadi


Lempar saja, tinggalkan mimpi-mimpi itu

Dan tidurlah seperti sekarang

Aku ingin kau selalu tertidur

Dalam lupa, dalam hilang, dalam deru kereta yang tak ada artinya


Malam habis, kereta masih menderu

Aku terjaga semalaman, di sampingmu

Fajar menggeliat dalam warnanya yang memikat

Aku lega, tak lama lagi kita tiba


Kota kecil yang unik, katamu

Ah, kau selalu bisa merayuku

Sedang aku tetap bimbang dan ragu, kau tahu?

Aku selalu bertanya: sebenarnya ke mana aku hendak kau bawa?



(Setelah maghrib. Surakarta, 8 Januari 2012)

Baca Selengkapnya... → Resahku dalam Kereta

Menyanyilah, Adikku!

Oleh: Fariha Ilyas


Menyanyilah adikku!

Nyanyikan lagu kebangsaanmu

Dengan lantang, dengan tanpa ragu

Bakarlah jiwamu dengan tekat

Agar kelak bangsamu benar-benar bermartabat


Menyanyilah, adikku!

Kala mendaras rumus matematika

Kala membaca sejarah bangsamu yang panjang

Kala bergulat dengan waktu yang lama

Belajar, belajar, demi kebodohan yang mesti hilang


Menyanyilah, adikku!

Dengan riang

Sepulang sekolah, kala siang

Melompat-lompatlah, sambil berjalan

Hidupkan canda dengan lirik jenaka


Menyanyilah, adikku!

Sambil menenteng sepasang sepatumu

Karena air menggenang di jalanan

Karena hujan tak pernah liburan

Karena kau memang harus selalu bernyanyi


Menyayilah, adikku!

Saat kau gagal, dan tak lulus ujian sekolah

Karena bukan berarti kau kalah

Dan jangan semua itu membuatmu lelah

Apalagi menunjuk dirimu sendiri dengan sebutan “lemah”


Menyanyilah, adikku!

Karena kau memang harus selalu menyanyi

Kakakmu orang dewasa telah kehabisan nada

Kakakmu lebih sering peka terhadap luka hidup

Hingga perasaan keindahan kakakmu tertutup


Menyanyilah, adikku!

Jangan hiraukan kakakmu, orang dewasa

Kakakmu hanyalah manusia dosa

Menyanyilah, dengan memuji semesta, dalam dukamu!

Karena kau memang harus menyanyi


Sedang kakakmu membentak dan meneriaki dunianya

Dengan amarah dan kalimat-kalimat manusia murka

Menyanyilah! karena dengan menyanyi kau selalu ada

Untukku, kakakmu


Menyanyilah! karena nyanyianmu membasuh luka-luka

Lukaku, luka sanak saudara kita, luka bangsa



(Petang hari. Surakarta, 8 Januari 2012)

Baca Selengkapnya... → Menyanyilah, Adikku!

Tarian Kita

Oleh: Fariha Ilyas


Di panggung ini, di panggung yang tak gemerlap ini

Kita pernah mencoba menari

Kakiku, kakimu, tanganku, tanganmu

Tubuhku, tubuhmu, lekat satu


Kita mondar-mandir keliling panggung

Dalam indahnya gerakan kaki menghentak

Dan kedua tangan kita yang gemulai

Yang diam-diam menunjuk hidung sang ilahi


Tahukah mereka, bahwa kita tak hanya sedang menari?

Kita tak hanya sedang mempertontonkan keindahan gerak

Tahukan mereka bahwa kita sedang mengirim isyarat?

Kita berkoar, berteriak, tentang padunya hati kita


Mereka, penonton itu, hanya suka

Pada gerak gemulai kita

Tak ada yang mengerti kenapa

Kita terus saja menari

Setelah jauh mereka pergi


Panggung sepi, hanya tinggal kita berdua

Kelelahan, nyaris roboh


Aku memelukmu, memegang tanganmu

Kugerakkan pelan


Tanganmu lemas

Tapi di tengah segalanya

Di titik terendah, tersunyi itu

Kita tetap menari


Lemas, lemah, tak ada hentak-hentak

Tak ada lagi musik pengiring

Tak ada lagi apa-apa

Tak juga kita


Hanya tarian

Pelan


Jauh di keramaian sana

Riuh rendah orang bicara

Jelas, bukan tentang kita


Atau

Tarian

Atau

Kita yang tak ada



(Dini hari. Surakarta 6 Januari 2012)

Baca Selengkapnya... → Tarian Kita

Sore Ini

Oleh: Fariha Ilyas


Di emperan toko tutup

Dengan kain di wajah terkerukup

Ia tidur, entah bermimpi atau tidak

Tak hirau pada ramai kota yang terus berdetak

Sore ini


Pandanganku jatuh pada luka menganga

Di kaki kanannya yang tak terbaringkan

Entah berapa bakteri di sana

Tak ada daya di kepalaku untuk mengira, membayangkan

Sore ini


Gerimis masih betah-betah saja

Dan ia sama sekali tak berbahaya, untukku

Tapi badai datang mengguncang nalar dan jiwa

Merobohkan segala klaim atas kewarasanku

Sore ini


Mengapa ada jarak yang demikian lebar

Antara indera, nurani, dan nalar

Di jarak itu penuh ketakutan menipu

Yang menindas habis kesadaran atas kewajibanku

Sore ini


Dalam diri yang rumit inilah kutemukan banyak masalah

Sebuah pergulatan elegan nan tolol

Antara keinginanku dengan kehendak Allah

Aku berlalu dengan hati dongkol

Sore ini


Di atas motorku yang melaju pelan

Bayang-bayang luka itu tetap saja enggan

Luka itu tak di kakiknya, bukan

Luka itu ada, selalu ada dalam ingatan

Sore ini


Esok

Lusa

Selamanya


Luka itu lukaku

Luka itu bodohku

Luka itu ketakwarasanku

Luka itu semenjijikkan sikapku


Pada yang tidur

Dengan luka menganga

Di kaki kanannya

Sore ini



(Sore gerimis. Surakarta, 6 Januari 2012)

Baca Selengkapnya... → Sore Ini

Saat Hujan Tak Jua Reda

Oleh: Fariha Ilyas


Biar saja....

Biar saja ia tumpah hingga lelah sendiri

Biar saja ia berlama-lama

Tak usah peduli jika ia memangsa rakus masa


Tak seluruhnya masa harus kita daku

Sebagai milik, atau disediakan untuk kita

Kita tak perlu merasa kehilangan waktu


Saat hujan tak jua reda

Tak perlulah kita merasa kesempatan kita direnggut

Waktu kita direbut oleh rintik hujan

Yang kadang keras, kadang lembut


Adakah hujan sewenang-wenang

Menghamburkan “waktu kita”?

Atau kita tak pernah mau terima

Bahwa sang waktu sendiri

Yang mempersilakan hujan memangsanya?


Saat hujan tak jua reda, barangkali

Sang waktu ingin

Kita melahapnya

Dengan cara berbeda


Sang waktu, barangkali

Ingin kita memantik baris puisi

Atau menyalakan karya-karya hayali


Saat hujan tak jua reda

Sang waktu tetap menghamparkan

Sajian beraneka rupa

Mungkin kita saja

Yang sering-sering

Tak doyan melahapnya



(Madiun, 1 Januari 2012)

Baca Selengkapnya... → Saat Hujan Tak Jua Reda

Pagi dan Dua Puisi

Oleh: Fariha Ilyas


Dunia masih belum utuh

Dalam mata yang belum terbuka penuh

Saat itulah mulai tertulis puisi

Melengkapi duniaku yang nampak saat pagi


Kutemukan sebuah pagi

Kurasakan kembali denyut nadi

Aku hidup, aku hidup, aku hidup

Meski disambut pagi yang redup


Puisi, puisi, puisi

Pagi dan puisi

Dan bagiku selalu ada dua puisi


Puisi pertama adalah yang datang

Lebih lengkap dari dunia

Yang mendahului, mendahului, mendahului

Pengetahuan

Ia bertanya tentang gerak

Yang belum terpikirkan


Puisi kedua datang

Setelah pergulatan

Ia bertanya, bertanya, bertanya

Berontak

Mengobrak-abrik pengalaman

Ia ganas dan sadis

Tapi tak mencipta gambaran

Akan masa depan



(Madiun, 1 Januari 2012)

Baca Selengkapnya... → Pagi dan Dua Puisi

Stasiun

Oleh: Fariha Ilyas


pada suatu sore

yang gelap, yang basah, yang hujan

tak ada kesusahan yang kurasa, tak jua kesenangan

hanya penerimaan


di jalan-jalan

yang sedikit sepi, yang basah, yang tergenangi

tak ada senyum yang kulihat, tak jua tangis

hanya kuyup


di stasiun

yang ramai, yang sibuk, yang hiruk-pikuk

kutemui sebuah miniatur dunia

tak ada henti


di stasiun

pada saat yang sama, saat kereta tiba

derit cakramnya tak seberapa kentara

namun ia menggetarkan hati

siapa yang datang dan akan pergi


di stasiun-lah harusnya para penyair hidup

jika ia memang selalu ingin berburu rasa

namun stasiun tak peduli, lama-lama

ia terus saja seperti itu

menjadi tempat tumpahnya rasa


aku teringat pada chairil


suatu waktu pernah kubaca tentangnya

bahwa ia sering nampak

di stasiun senen, sedang berbaring

dan kepalanya di atas paha seorang pelacur.


chairil, telah lama mengerti bahwa

stasiun adalah sebuah miniatur dunia.

stasiun menjadi wadah

bagi puncak-puncak perasaan manusia.


memang tak ada tempat lain,

sebaik stasiun, terminal,

atau tempat-tempat persinggahan lainnya

di mana kita dapat menyaksikan

orang-orang mendapati dan melepas

sesuatu yang berharga baginya.


di stasiun aku mengerti

arti nilai

dan kebermaknaan.



(Saat gerimis masih. Surakarta, 20 Desember 2011)

Baca Selengkapnya... → Stasiun

Ingatan Pagi

Oleh: Fariha Ilyas


Tak akan lagi kusaksikan fajar seindah tadi

Tak akan lagi kutemukan komposisi serupa

Di alam yang selalu berubah dalam setiap milisekon

Bahkan lebih rapat dari itu


Tapi aku masih berharap melihatmu lagi

Dengan senyuman sama

Dengan pelukan dan ciuman yang sama

Membalutku rapat, sampai aku tak nampak lagi


Sambil saling mendekap

Kita selalu ingat saat-saat kita saling memunggungi

Menjauh, meninggalkan, dan mencoba melupakan

Kita selalu saja ingat saat-saat itu


Pagi ini, kupeluk kau di hadapan fajar

Kucium mesra bibirmu dalam komposisi pagi yang rumit

Aku melihatmu menitikkan airmata

Yang tak kupahami apa artinya


Sayangku, pagi adalah saat untuk menawarkan pada diriku sendiri

Untuk tetap membawamu dalam ingatan, atau meninggalkannya

Saat kutanya diriku sendiri: “Apakah kau mau mengingatnya?”

Jawab diriku: “Ya”



(Pagi. Surakarta, 20 Desember 2011)

Baca Selengkapnya... → Ingatan Pagi

Lalu Kata

Oleh: Fariha Ilyas


Saat gerimis masih belum bosan di luar sana:


Aku ingin bercerita tentang luka, yang gurih wangi

Yang darinya muncul kata tak henti

Gila, aku keranjingan pada kata

Walau ia sering tak datang segera


Aku bangun sore ini, seperti tadi pagi:


Ya, tak ada kata awalnya

Hanya suara

Kemudian warna


Lalu kata


Ia menyerobot, mendesak, memaksa

Menempati pikiranku sesukanya

Tak tercegah karena ia terlampau gagah

Tak henti karena ia tak bisa mati


Hanya kata dalam kepala

Mengukir segala nyata

Entah kapan ia enyah

Jika kata adalah Allah



(Sesudah gerimis reda. 4 Desember 2011)

Baca Selengkapnya... → Lalu Kata

Kepada Rumput dan Embun

Oleh: Fariha Ilyas


Rumput

Lembut dan kecil


Menghampar

Rapat berdesak


Embun

Dingin dan bening


Menetes

Jatuh memecah


Rumput, Embun

Maafkan

Jika kakiku menginjak

Atau

Jika mataku tak peduli

Saat kau menampak



(Surakarta, 26 November 2011)

Baca Selengkapnya... → Kepada Rumput dan Embun

Puisi Cinta Seekor Anjing

Oleh: Fariha Ilyas


Guk! Guk! Guk! Guk!

Barangkali hanya itu yang terdengar di telinga mereka

Tapi dalam benakku telah tertanam suatu makna tentang:

Guk! Guk! Guk! Guk!


Bahwa lolongku adalah puisi yang kau nantikan

Yang tersembunyi rapat dalam bunyi yang mengganggu:

Guk! Guk! Guk! Guk!

Itulah cinta dalam ungkapan semurninya

Guk! Guk! Guk! Guk!


Guk! Guk! Guk! Guk!

Aku mencintaimu karena entah

Akulah jantan dan kaulah betina

Apa yang salah dengan semua ucap:

Guk! Guk! Guk! Guk!


Guk! Guk! Guk! Guk!

Sialnya menjadi seekor anjing

Aku hanya mampu teriakkan:

Guk! Guk! Guk! Guk!

Untukmu betinaku!


Guk! Guk! Guk! Guk!

Sayangnya kau manusia yang tak mengerti puisi:

Guk! Guk! Guk! Guk!

Yang bagiku berarti cinta setulusnya


Saat kuhampiri lagi kau dengan kalimat:

Guk! Guk! Guk! Guk!

Kau lempar aku dengan sepatu


Guk! Guk! Guk! Guk!

Aku lari ke kuburan mama

Kutanya dengan rangkaian kata:

Guk! Guk! Guk! Guk!


Sepi

Aku teringat mama

Yang setiap kali membelaiku ia berkata:

Guk! Guk! Guk! Guk!

Kutangkap makna bunyinya:

“Aku mencintaimu sepenuh hidup dan setelahnya”


Guk! Guk! Guk! Guk!

Aku tak mengerti

Kenapa sekarang puisi:

Guk! Guk! Guk! Guk!

Tak bermakna lagi



(Surakarta, 26 November 2011)

Baca Selengkapnya... → Puisi Cinta Seekor Anjing