Senin, Januari 23, 2012

Mungkin

Oleh: Fariha Ilyas

Mungkin kita tak terlalu asing dengan pelangi, lisong, atau jagung.

Mungkin adalah bagian dari masyarakat yang akrab dengan pedesaan yang dipenuhi hamparan sawah, arus sungai, dan rumpun bambu.

Atau kita adalah penghuni pinggiran kota yang padat, kumuh, dan bau.

Mungkin kita terbiasa melihat matahari, bintang, hutan, dan laut.

Mungkin apa yang disajikan dunia hanya itu-itu saja. Biasa.

Mungkin kitajuga sudah sangat mengerti bahwa perasaan kita dapat bergerak tanpa kita kendalikan sendiri.

Lalu kenapa kita perasaan kita masih saja terlampau lembek saat ia tersandung sesuatu yang berlawanan dengan harap? Padahal kita sama-sama tahu bahwa di dunia ini hanya ada dua hal yang berlawanan sekaligus berpasangan.

Lalu kenapa kita masih sering bersedih, dan menangis?

Pelangi hanya diam, ia menjadi lagu-lagu dan puisi-puisi.

Lisong dan jagung menjelma menjadi sajak-sajak yang abadi.

Semua terjadi karena manusia memiliki daya mengubah keyataan.

Jika hal-hal biasa di luar diri kita saja mampu diubah menjadi sesuatu yang lebih berharga, mengapa perasaan yang ada dalam diri kita hanya kita biarkan menjadi luka?

Kecewa? Disakiti? Tidak dihargai?

KITA SEMUA PERNAH MENGALAMINYA

(Surakarta, 8 Oktober 2011)

Baca Selengkapnya... → Mungkin

Surat untuk Tuhan

Oleh: Fariha Ilyas

Tuhan, malam ini aku ingin menulis sepucuk surat kepadamu. Aku yakin bahwa engkau maha mengetahui apa yang ada dalam benak setiap hambamu. Namun aku merasa perlu menuliskan surat ini untuk diriku sendiri, supaya kelak aku punya bukti bahwa aku pernah menyampaikan sesuatu padamu. Selama ini banyak yang mengira aku tak pernah punya hubungan baik denganmu. Sebagai saksinya ada banyak hamba-hambamu yang lain yang membaca surat ini. Walau sebenarnya aku tahu bahwa engkau cukup menjadi saksi segala peristiwa di alam raya ini. Tapi keyakinanku terbatas, dan aku perlu bukti otentik kelak jika ada lagi yang meragukanku. Ini hampir seperti syarat administrasi di universitas yang selalu butuh bukti kuitansi.

Baiklah, Tuhan. Awal surat yang berbelit-belit rupanya.

Walau yang aku tulis ini sebenarnya sudah engkau ketahui apa maksudnya dan bagaimana akhirnya.

Ya, kita mulai saja, Tuhan. Tapi maaf ya, aku pakai bahasa yang biasa aja. Tuhan nggak marah kan?

Aku pengen nanya sama kamu, Tuhan. Sekarang ini bagaimana keadaan ibuku? Apakah kamu merawatnya dengan baik? Apakah ibuku bahagia sekarang? Apakah ibuku menjadi tiada? Apakah ia kau siksa? Apakah ia sedang menunggu? Apakah ia sendiri? Apakah ia tersenyum? Apakah ia menangis?

Bagaimana pula kabar kekasihmu: Muhammad, Musa, Ibrahim, Sokrates, Gandhi, Romo Mangun, yang lain-lain juga: Mbah Kaji, Mbah Ram, Mbah Mus? Apakah ia bersama ibuku? Apakah ia berada di tempat yang berbeda?

Jangan tersinggung, Tuhan. Aku hanya ingin mengingatkan, walau aku juga tahu bahwa kamu maha mengingat, tapi rasanya aku tetap perlu mengingatkanmu, Tuhan. Setidaknya aku sudah berusaha mengutarakan inginku, seperti hamba-hambamu yang lain, yang selalu berdo’a kepadamu walau kamu sudah tahu apa yang akan mereka minta.

Aku pengen bilang bahwa ibuku dan ibu-ibu yang lain yang pernah benar-benar menjalankan perannya sebagai ibu haruslah mendapat tempat yang layak di sisimu, kakekku juga, guru-guruku juga, teman-temanku juga. Mereka kau ciptakan dengan mengambil bagian dari dirimu, kamu tentu mencintai mereka seperti cintamu kepada sederet kekasihmu yang tak kuketahui dengan pasti seberapa banyaknya.

Aku ini manusia, Tuhan. Kamu pasti sudah mengerti, bahwa manusia sering gelisah memikirkan nasibnya kelak setelah episode pertama ini lewat. Ya barangkali aku yang lebih pantas gelisah tentang nasibku di episode mendatang, kamu tahu sendiri lah aku ini seperti apa. Mungkin aku lupa membaca dan memahami ulang surat-suratmu yang kau kirimkan berabad-abad lalu.

Aku sering merasa kamu murka padaku soal itu, kamu murka kepadaku dengan tetap membentangkan panorama pagi, memancarkan matahari, memekarkan kuncup-kuncup bunga yang indah sekali kusaksikan. Kamu marah padaku dengan tanpa sedikitpun mengurangi kasih sayangmu yang tak pernah berhenti melingkupi hidupku.

Saat kamu kirimkan lahar, badai, gempa, dan berbagai bencana, aku tahu kamu tidak sedang murka. Kamu sedang mengajari kami untuk belajar mencintai dan menyelesaikan masalah-masalah hidup kami sendiri. Sedang kamu diam-diam menyusup di hati kami dan menggerakkan tangan-tangan kami untuk peduli. Sedang mereka yang mati telah kau amankan dalam kantung kasihmu yang tak terjangkau bagi kami yang hidup. Semuanya hanyalah cinta saja, selama ini aku belum bisa sepenuhnya menerima segala wujud cintamu.

Terimakasih telah membaca suratku, Tuhan. Segala kekurangan cara pandangku ini tentu karena aku hanya mampu memandangmu dari dimensiku. Sampai bertemu di episode kedua yang akan berlangsung dalam dimensimu.

Terimakasih atas segala pertolonganmu, karena walau tanpa perangko atau bantuan malaikatmu, surat-surat dari hambamu yang frustasi sepertiku langsung kau ambil sendiri dariku. Bahkan sebelum sempat kutuliskan tadi.

(Dini hari. Surakarta, 18 November 2011)

Baca Selengkapnya... → Surat untuk Tuhan

Tepuk Tangan dan Dua Rembulan

Oleh: Fariha Ilyas

Aku akhirnya merasa heran mendengar suara itu setiap kali aku akan beranjak tidur. Karena bukan sekali ini aku mendengarnya. Ya, selama dua minggu aku menempati rumah kontrakan baruku ini setiap malam aku mendengarkan suara itu. Awalnya kupikir hanya akan terdengar sekali saja, beberapa hari lewat pelan-pelan perasaanku terusik tanya juga. Apalagi setelah semalam suara itu terdengar lagi.

Itu hanya tepuk tangan sebenarnya, bukan sebuah suara yang aneh. Hanya saja aku merasa penasaran kenapa ada orang bertepuk tangan di tengah malam? Sendirian?

Malam ini, akan kutuntaskan rasa ingin tahu itu.

Jam menunjukkan pukul 11 malam. Aku masih sempat mereguk tehku yang sudah dingin sebelum aku melangkah ke luar rumah. Untungnya hari ini tak turun hujan, kalau hujan mengguyur, aku pasti malas atau berkeputusan menunda keinginanku mencari tahu siapa yang bertepuk tangan tengah malam.

Itulah yang mengusik. Beberapa hari lalu hujan turun tak henti-henti. Aku memilih diam di kamar sambil menonton Film. The Pianist, film yang mempertontonkan perjuangan seseorang yang susah payah mendapatkan kembali kemapuan estetiknya di tengah situasi negara yang tak kondusif. Ditengah keasyikan menonton film aku mendengar tepuk tangan itu lagi. Samar-samar kedengarannya, suaranya hampir saja habis tertelan rintik hujan yang seperti ingin menang sendiri malam itu, sampai-samapai aku pun harus memutar volume soundku ke level maksimal untuk bisa menikmat film. Gila! Kataku dalam hati malam itu.

Langkahku akhirnya sampai di depan sebuah tembok tinggi, semacam pagar. Dari sinilah kuperkirakan asal suara tepuk tangan itu. Aku mengendap-endap. Di tembok itu terdapat beberapa jendela yang tak lengkap daunnya. Pelan-pelan aku melongok ke dalam. Ternyata di dalam tembok itu tak ada bangunan samasekali. Hanya tanah kosong yang tak seberapa luas.

Aku diam menunggu.

“Mas”

Aku terkaget-kaget bukan kepalang karena suara itu dekat sekali di belakang telingaku. Kutengok ke belakang.

“Eh, kamu to Ndul!”, jawabku setengah gelagapan.

“Ngapain di sini mas?”, tanya bocah tanggung yang di kampung biasa dipanggil Gendul itu.

“Hhmmm, hhmmm, ah, enggak, nggak ngapa-ngapain, pengen keluar rumah aja, bosan di kamar terus”, kataku berbohong.

“Oh, gitu to mas, ati-ati lho mas kalo ketemu setan”, katanya sambil sedikit tertawa.

“Ah, aku dulu udah pernah jadi majikannya setan ndul”, jawabku sekenanya.

“Hahahaha”, Gendul tertawa sambil terus berjalan masuk ke dalam melalui pintu masuk yang sudah hampir hancur kayunya.

Aku diam di tempatku. Gendul yang malam itu mengenakan kaos dan celana pendek serta mengalungkan kain sarungnya berdiri di tengah-tengah tanah kosong itu.

Apa yang akan dia lakukan di situ? Pikiranku mulai dirambati pertanyaan-pertanyaan.

Bocah kelas tiga SMP itu menengadahkan wajahnya ke langit. Malam ini rembulan memang bersinar terang sekali. Aku teringat masa kecilku dulu, saat purnama, aku sering berdiri mematung di jembatan kecil di ujung kampung. Aku ingin menikmati cahayanya, di jembatan itu aku bisa melihat lebih dari cahaya rembulan di atas sana. Di jembatan yang dibangun di atas sungai kecil itu aku bisa melihat bayang-bayang rembulan yang bercahaya terang. Aku selalu ingin melihat dua rembulan, meskipun ia tak berdampingan, meskipun ia saling berlawanan, yang satu di atas langit dengan anggunnya, sedang yang lain jauh di bawah, sedikit bergoyang mengikuti permukaan air sungai yang mengalir, kadang pelan, kadang deras. Rembulan di sungai itu bisa menari-nari.

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

Lamunanku akan masa lalu buyar seketika. Ya, tepuk tangan itu! Sedari awal aku sudah menduga hal ini. Namun tak satupun kutemukan alasan yang setidaknya bisa memperkuat dugaanku itu.

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

Gendul masih bertepuk tangan dengan keras. Sambil menengadah ke langit.

Tiba-tiba di ada sesuatu yang bergetar di saku jaketku.

(Fi, temen-temen dah pada datang ni!) sebuah pesan singkat dari seorang kawan. Aku hampir saja lupa bahwa malam ini beberapa kawanku ingin singgah dan menginap di rumah kontrakanku. Besok pagi-pagi mereka akan pergi dengan kereta dari stasiun yang hanya berjarak kurang dari satu kilometer dari rumah kontrakanku.

Dengan masih menyimpan tanya aku akhirnya berjalan pulang.

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

Langkah kakiku seiring dengan pikiranku yang entah kenapa seperti terombang-ambing menuju satu ingatn ke ingatan lain.

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Bertepuktanganlah dengan gembira, hai segala bangsa! Pujilah Allah dengan sorak-sorai!”. Tubuhku gemetar mengingat salah satu perintah injil yang pernah kubaca entah kapan dan di mana. Kenapa tiba-tiba aku teringat ayat itu? Dan baru sekarang!

Pikiranku melahirkan berbagai macam dugaan baru atas tepuk tangan Gendul, dan terutama pada apa yang sebenarnya Gendul pikirkan. Apakah ia sedang mengagumi rembulan dan memanjatkan syukur pada Tuhan? Apakah ia penganut aliran kepercayaan tertentu? Kenapa ia melakukannya setiap malam?

“Hoey!”, Sofyan berteriak kepadaku sambil melambaikan tangan. Yang lain-lain sedang bergelimpangan di lantai beranda rumah.

Langkah kakiku terlampau cepat barangkali. Aku telah sampai di depan rumah kontrakan.

“Hey bos! Sorry yang punya rumah lagi ronda nih!”, kataku sambil menyalaminya.

Dalam hati, aku berkata bahwa esok aku harus menanyakan semua prasangkaku pada Gendul.

Dari jauh samar-samar masih terdengar tepuk tangan itu

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

“Plok! Plok! Plok! Plok!

(Surakarta, 17 November 2011)

Baca Selengkapnya... → Tepuk Tangan dan Dua Rembulan

Pada Suatu Senja yang Terlewat

Oleh: Fariha Ilyas

......dan barangkali hidup tak seluruhnya mesti dicecap, sebagian daripadanya mesti direlakan untuk berlalu tanpa teralami. (Han)

Tanpa aba-aba, karena mungkin telah menjadi rentetan yang tertib, hari menjadi hitam. Aku terlena dalam kekacauan. Setumpuk buku yang kukira akan menuntunku sore tadi justru menghempaskanku ke tepian jurang yang dalam. Hampir saja aku terperosok dan binasa. Tapi aku tak mau.

Kulemparkan buku-buku pembunuh itu dengan rasa muak dan benci. Muak dan benci pada diriku sendiri yang tak mampu. Kupejamkan mataku dan aku masuk ke sebuah dunia gelap, lebih gelap dari awal malam ini, atau bahkan akhirnya nanti. Di dalam kepekatan yang tak tersentuh cahaya itu aku berjalan menabrak-nabrak. Rasanya aku terluka, tapi luka itu tak nampak, dan tak mungkin akan nampak, ia hanya mampu kuraba dan kuperkirakan seberapa parahnya.

Kemudian aku merasakan kedua kakiku tak menjejak apa-apa. Aku melayang, dalam gelap yang masih sama. Entah berapa lama gelap itu, aku tak tahu, karena aku tak merasakan waktu. Aku hilang kesadaran, pingsan, dan mungkin mati.

Diam. Diam. Diam.

Diam. Diam. Diam.

“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh!” teriakku. Aku merasakan ada guncangan maha hebat yang menghempasku. Melemparkanku dari ketiadaan sadarku yang tak kuketahui awalnya. Aku terjatuh, terjatuh, terjatuh, terus terjatuh tanpa henti-henti. Aku frustasi dengan ketidakpastian ini. Terlalu menyiksa. Sial! Karena kesadaranku ada maka nalarku bekerja. Aku berharap akan segera mendarat, walau ada ketakutan pada mati. Aku berharap kabar pasti bahwa aku tak akan pernah mendarat. Hanya untuk membuatku mengerti akan kepastian. Setelah itu aku akan abaikan pikiranku. Setidaknya dengan kepastian itu aku tahu mana yang akan berguna dan percuma.

Aku masih merasa terjatuh. Melayang-layang. Aku pingsan lagi, karena entah. Atau aku mati lagi?

Aku mati. Mati.

Mati.

Senja barangkali akan terus berganti-ganti. Sedang aku akan mengiringya dengan pasrah. Senja kali ini aku mati.

Senja esok, mungkin aku akan hidup kembali.


(Surakarta, 15 November 2011)

Baca Selengkapnya... → Pada Suatu Senja yang Terlewat

Rabu, Oktober 19, 2011

Kita dan Waktu Ini

Oleh: Fariha Ilyas

Kawan, entah dari mana datangnya gejolak untuk menuliskan surat sederhana ini. Aku sendiri tak pernah benar-benar mengerti apa sebenarnya yang membuat kita memikirkan sesuatu, yang kadangkala begitu kuatnya hingga sesuatu itu tak hanya ingin bersemayam di dunia pikiran, ia ingin menerobos keluar, bergabung dengan khidupan kita senyatanya.

Kawan, bisa jadi apa yang kita katakan sebagai hubungan persahabatan itu palsu belaka, karena toh kita berhubungan atas dasar dorongan kepentingan-kepentingan kita sendiri. Kita hampir tak pernah melakukan sesuatu dalam dunia tanpa tendensi.

Sore ini aku tak peduli dengan apapun yang memotivasi kita dalam hubungan ini. Aku hanya ingin membicarakan nilai, kualitas, dan kebermaknaan.

Kawan, mungkin aku tak mengerti apa-apa dalam hidup ini, aku hanyalah pelaku biasa yang tak punya pendapat khusus tentang apa sebenarnya hidup ini. Namun, walau aku tak mengerti, aku sedikit bisa merasa, sepertimu juga yang berperasaan.

Aku pernah, dan kalian juga pernah mengalami berbagai gejolak universal dalam hubungan kita yang walau tak langgeng namun selalu ingin kita simpan dan awetkan ini. Rasa benci, curiga, dan berbagai perasaan lain tentu sering hinggap dalam perasaan kita masing-masing. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan itu semua, karena berarti kita masih punya reaksi terhadap hal-hal yang mengusik diri kita, walaupun semua itu terjadi dalam bingkai yang kita sebut sebagai persahabatan.

Persahabatan tentu tidak akan membuat kita meniadakan diri kita sendiri. Kita adalah sekumpulan individu yang masih mengerti berupa-rupa perbedaan yang menjadikan diri kita unik. Kita mengerti bahwa perbedaan-perbedaan itu tetap ada, yang kadang tetap perlu kita perdebatkan dengan kepala dingin. Kita sama-sama tak suka diam dengan perbedaan karena kita terbuka kepada kemungkinan akan pendewasaan diri yang bisa kita peroleh dari proses interaksi kita.

Sering aku bertanya kenapa kita seolah tak pernah merasakan saat ini, waktu ini. Hingga kita sering tiba pada suatu titik di mana kita merindui sebuah peristiwa. Kita seringkali membangun monumen sejarah usang yang mati. Kenapa kita masih senang terdampar di suatu waktu yang mengasingkan kita dengan hari ini? kemudian kita mulai menangis.

Sahabat, apakah kita mampu menghidupkan segala peristiwa yang terjadi? Mencegahnya menjadi beku dan lambat-laun tak bernyawa lagi.

Kita dan waktu ini, adalah sebuah gerak sejarah yang hidup. Yang sedang menuju yang absolut.

(18 Juni- 25 September 2011)

Baca Selengkapnya... → Kita dan Waktu Ini