Rabu, Oktober 19, 2011

HARI

Oleh: Fariha Ilyas


Untuk kawan-kawanku

Hari ini mungkin adalah hari biasa, hanya sebuah keberlanjutan dari hari kemarin. Tak ada yang berbeda dengan hari ini, kemarin, atau esok. Hari hanyalah penanda untuk mematok perjalanan waktu yang tak pernah berhenti.

Hari ini menjadi berarti karena sesuatu yang kita lekatkan kepadanya. Banyak hal yang selalu ingin kita ingat, kita kenang, kita maknai, kita peringati. Bisa jadi hal itu terjadi karena rasa takut kita akan kehilangan sebuah ingatan. Namun sebenarnya bukan hanya itu, kita selalu mendamba kebermaknaan, kita selalu ingin melahirkan makna-makna.

Hari ini adalah hari yang berarti, karena kita temukan diri kita dalam kehidupan, dan menjadi bagian dari kompleksitasnya. Kita tentu akan tertarik mundur ke belakang, ke hari kelahiran kita. Karena lahir atau mati bukan berada dalam kekuasaan kita maka selayaknya kita memperingati ketakberdayaan.

Hari ini kita sama-sama menginsyafi bahwa awal mula hidup kita adalah ketakberdayaan. Kita tak dapat mengatur atau merencanakan hari kelahiran kita sendiri. Bagi orang lain itu mungkin dapat diterka, tapi tidak dalam sudut pandang kita sendiri sebab kita dahulu pun tak tahu bahwa kita akan lahir.

Hari ini dengan berlalunya waktu, kita tentu mensyukuri ketidakberdayaan itu pada akhirnya mengantarkan kita pada sebuah kesadaran akan peran orang-orang yang mencintai kita, merawat kita, dan merasa bahagia atas kehadiran kita di tengah-tengah mereka. Kita takkan pernah sampai pada hari ini sendirian.

Hari ini kita tentu mulai menemukan arti hidup kita diantara rimba kehidupan yang multisubyek ini. Kita menyadari bahwa hidup kita adalah rajutan dari apa yang kita miliki dan apa yang orang lain artikan tentang semua hal yang kita miliki itu.

Hari ini aku ingin kau mengerti bahwa aku adalah salah satu dari orang yang ingin memaknaimu dengan segala yang kau miliki.

Hari ini ingin kutandai dalam satu kata: Kejujuran.

Sederhana memang, karena kejujuran adalah nama lain dari apa yang senyatanya, apa yang mamang ada dan terjadi. Tak perlu ada upaya apapun dalam kejujuran itu selain kembali kepada kenyataan itu sendiri.

Bagiku kejujuran adalah sebuah ruang yang menampung segala kenyataan, sebaik atau seburuk apapun kanyataan itu. Dalam kejujuran baik dan buruk bukan merupakan predikat lagi, nilainya menjadi sama. Kejujuran membuat yang baik dan yang buruk berubah wujud menjadi satu hal, melebur menjadi satu kata: Kebenaran.

Hari ini aku ingin mengatakan bahwa aku sangat menyayangimu, kawan. Aku juga ingin mengatakan kepadamu bahwa aku bukanlah sosok manusia sempurna yang tak bercacat. Kadangkala aku menyayatkan luka yang tak nampak olehmu. Aku melukaimu dengan jalan melukai segenap perasaan yang kita hidupi bersama selama ini. Sebenarnya aku sendirilah yang layak merasakan sakitnya luka itu, karena perasaan yang kusayat dengan pisau keserakahanku adalah perasaan yang ada dalam benakku sendiri yang semestinya aku jaga layaknya engkau menjaganya di benakmu.

Hanya itu kejujuran yang ingin kukatakan saat ini. Semoga ucap singkatku tentang kejujuran itu mampu meleburkan dua hal yang berlawanan. Semoga kebenaran ini kau ketahui.

Hari ini semoga kau mampu menggapai kebermaknaan yang diimpikan semua manusia, yang akan menjadikan keterbantangan waktu ini tak hanya kosong. Yang akan membangkitkan nilai-nilai dalam kehidupan yang telah, sedang, dan akan kau jalani.

Hari esok tentu masih kita harap menjelang menjemput kita, memberi kita kesempatan untuk merampungkan berbagai persoalan yang muncul dan membiak di benak kita. Aku ingin merampungkan banyak hal denganmu. Bahkan jika tuhan memang setuju dengan inginku, aku ingin merampungkan hidupku bersamamu.

(Surakarta, 21 Juni 2011)

Baca Selengkapnya... → HARI

Surat Untuk Dua Kekasihku yang Satu

Oleh: Fariha Ilyas

Empat belas hari, empat belas hari aku berusaha menjelajahi apa yang dapat kupahami atau kuterka dari semua hal yang pernah terjadi.

Satu hal saja telah membuatku kehabisan tenaga, aku berpikir tentang satu hal yang menjadi puncak pencarian manusia, Cinta. Sebelum membicarakan hal itu banyak sekali tahap-tahap yang mestinya kita lewati.

Dalam alur pikirku yang tak beraturan ini aku mulai merasakan sempitnya dunia kita masing masing. Aku merasa hidup dalam sangkar kecil saja, ada ketakutan luar biasa untuk keluar, berdiri dengan gagah dengan keseluruhan diri kita yang sebenarnya. Aku berada di lingkaran nyaman yang hanya sejengkal saja luasnya.

Aku hanya mampu menjadi diriku dihadapan sedikit orang. Selebihnya aku hidup dengan topeng dan jubah-jubah yang menyembunyikan diri dari keasliannya. Denganmu aku merasa jauh lebih baik, walau tetap saja ada sesuatu yang kusembunyikan jauh di dasar hatiku. Hal itu membuatku bertanya-tanya, apakah setiap orang juga mengalami hal yang sama? Apakah setiap orang memang memiliki rahasia-rahasia yang akan terus disimpan jauh di dasar hatinya. Sebuah rahasia yang bagiku merupakan kata kunci yang akan membuat kita selalu memiliki ruang untuk tuhan sepanjang hidup kita.

Aku merasa berat sekali menjalani hidup tanpamu yang paling mengerti aku. Betapa tidak nyamannya hidup ini saat kita menjalaninya dengan menipu diri kita sendiri, menghianati sesuatu yang walaupun belum tentu benar namun telah kita pilih dan tetapkan di hati kita. Aku merasa jijik saat aku memaksa diriku untuk melupakanmu.

Pernah kukais-kais rasa benci dari dasar hatiku hanya untuk memudahkan diriku melupakanmu. Pernah kuyakinkan diriku bahwa kau tak pantas terlalu kucintai hanya untuk membuang diriku sendiri dari perasaanku yang sebenarnya.

Betapa sulit bagiku untuk melupakan kisah. Sepertinya kita memang dihukum untuk mengingat banyak hal. Bisa saja kita tak merasa ada yang salah perihal ingatan yang kita miliki ini. Namun menurutku butuh lebih dari sekedar hati yang luas untuk menampung segala ingatan yang tak seluruhnya dapat kita terima dengan lega, atau kadang justru kita ingkari, naif sekali.

Saat aku mengingat segala kebaikan masa lalu, aku tersenyum dan ingatan mendatangkan semacam kebahagiaan yang rasanya selalu aktual. Kebahagiaan yang tak habis-habis, tak pernah hilang. Saat kuingat beberapa kesalahan masa laluku, aku hanya sedikit tersenyum karena saat ini aku telah mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Hanya terjadi riak kecil dalam pikiranku saat mengingatnya. Namun saat aku teringat tentang sesuatu yang belum terjawab, sesuatu yang enigmatik, aku menjadi seperti dihantam gelombang mahadahsyat yang menghempaskanku ke karang-karang tajam, sakit sekali dan aku terluka lagi.

Betapa beratnya memiliki ingatan, apalagi ingatan tak pernah memiliki jadwal tetap untuk menyeruak. Saat mata ini baru saja terbuka seringkali yang pertama terjadi adalah sebuah tragedi yang usang, namun selalu melukai. Aku hampir mati dalam tragedi ingatan ini.

Dalam hiruk-pikuk kehidupanku ini, dalam kehidupan yang lengkap ini, sebenarnya tersimpan sebuah ruang kecil dalam ingatanku, yang-walaupun kecil-merupakan sebuah tempat yang tak tersentuh kuasaku untuk menghapuskannya.

Setelah sekian lama aku bergulat dengan pencarian ini, sekarang hadir keinsyafanku akan diri kita, orang-orang biasa ini. Telah kutemui banyak orang yang dikaruniai kemampuan luar biasa untuk melakukan hal-hal yang jauh lebih hebat dari apa yang mampu kupikirkan. Dapat kau bayangkan bagaimana perasaanku saat itu. Aku, orang biasa -yang harus mengalami berbagai kesulitan untuk sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan hidupku yang sederhana- tentu merasa jatuh tersungkur, aku merasa tak pernah mencapai apa-apa.

Kemudian aku teringat tentang kita, anak-anak manusia yang sedang dalam pergulatan, terombang-ambing perasaan yang belum sepenuhnya mapan. Bukan maksudku untuk mengendurkan gairah pencarian kita. Aku hanya ingin kita membaca kembali cerita tentang kita, orang-orang biasa. Kita tak pernah menemui hal-hal yang dihadapi manusia-manusia raksasa itu, kita tak pernah memikirkan hal-hal yang dipikirkan oleh mereka yang telah menaklukkan waktu, menggoreskan nama mereka dalam sejarah peradaban manusia.

Aku ingin kita meresapi kembali dan tak sekedar membaca cetak biru diri kita, orang-orang biasa. Agar kita mengerti bahwa tak ada hal-hal istimewa yang kita miliki. Tak ada benteng baja di hati kita yang begitu mudah lumpuh oleh sedikit kekecewaan. Tak ada gemerlap cahaya kecerdasan yang memancar dari pikiran kita yang mudah suram saat sedikit saja kesulitan membungkusnya. Aku ingin kita tahu bahwa kita adalah orang-orang biasa.

Kita hidup dan menatap hidup sebagai orang-orang biasa, kita pun kelak akan mati sebagai orang-orang biasa. Tak lebih dari catatan kaki sejarah. Hanya pelengkap, bukan bagian utama. Karena kita orang-orang biasa.

Aku sungguh berharap kau selalu menggores kisahmu, dalam lembar-lembar yang telah akrab, dalam keseharian yang sederhana, kita orang-orang biasa hanya mampu menuliskan diri kita sendiri agar tak hilang oleh waktu yang selalu melahirkan pembaharu kita dalam berpikir dan bertindak. Aku berharap kita semua merasakan kegagalan yang menyakitkan, yang menghabisi seluruh semangat yang kita miliki, membunuh ruh perjuangan yang kita hidupi. Aku ingin kita merasakan hal itu. Karena hanya itulah peluang kita untuk merubah jalan hidup ini. Saat kita hampir binasa, di hadapan kita akan terbentang pilihan. Saat itulah akan muncul kesempatan untuk kita. Karena sepanjang yang kuketahui, para raksasa juga mengalami hal itu, dan mereka memilih menjadi raksasa, bukan memilih menjadi orang biasa.

Sayangku, aku sadar bahwa aku sering berpikir bahwa akulah tokoh protagonis dalam cerita hidup ini. Aku selalu merasa akulah yang paling berhak atas segala hal yang kuingini. Aku melenyapkan kemanusiaanmu, mengabaikan bahwa kau adalah pribadi yang punya hak untuk berkeinginan, memilih, dan menikmati apa yang paling kau damba dalam hidupmu. Orang lain yang selama ini kuanggap sebagai antagonis pun tentu demikian. Tak ada lagi pilihan selain mendewasakan diri kita, memperluas jiwa kita, agar kita tak hanya hidup dalam sebuah dunia sempit yang ternyata tak lebih dari hasrat kita yang membatasi. Hasrat yang selalu menjadi penghalang kita untuk mencapai hal-hal yang paling subtil dalam hati kita. Menggapai kemanusiaan kita sendiri.

Cintaku, tak pernah dan takkan pernah ada kata-kata atau karya seni yang mampu menggambarkan cinta dan keindahan sesungguhnya. Keindahan yang bukan dari sudut pandang kita, keindahan yang asali, yang tak mewaktu, tak berubah nilai.

Hari ini, kita semua masih bergulat untuk mencapai itu semua, atau setidaknya mencoba mencari jalan untuk menapaki pemahaman yang terus berubah setiap waktu seperti yang sama-sama telah kita ketahui.

Cinta yang kita pikir sebagai salah satu puncak keindahan itu akhirnya roboh berkeping-keping. Bagiku itu adalah luka, sekaligus petanda bahwa apa yang kita pikirkan masih saja tak mampu melampaui kenyataan yang berisi serba kemungkinan.

Aku akhirnya memutuskan untuk membuang jauh-jauh rasa benci dan kecewa ini. Karena apapun yang kubenci akan berpulang pada diri sendiri. Aku tetap hidup karena aku masih memiliki keyakinan, atau barangkali hanya sekedar hayalanku saja. Aku berkahayal tentang suatu masa, yang kelak akan menimpa kita semua, saat aku bersatu dengan seluruh manusia, seluruhnya, tanpa perasaan apapun, tak ada rasa lagi. Tak ada rasa di saat kita semua bersatu dzat yang merupakan asal mula kita dan asal mula segala.

Pada akhirnya segala resah kudaratkan dari alam pikirku ke dunia melalui kata-kata, aku ingin mengungkapkan cinta lewat huruf-huruf yang sederhana ini, karena aku yakin bahwa kalimat-kalimatku akan mampu bertahan lebih lama daripada ragaku, daripada perasaanku sendiri yang sangat mungkin akan berubah.

Aku memilih untuk memeluk cinta yang kudamba, yang menghangatkanku, menggerakkan pikiran dan jari-jemariku. Aku memilih cinta yang mampu membuatku mencipta keindahan, walau bahan dasar keindahan yang kuciptakan adalah luka.

Tuhan, pernah aku minta kepadamu berbagai macam hal yang kuingini. Saat aku tak sanggup merebutnya dalam kehidupan yang sarat oleh jejaring simbol moralitas ini, aku bersimpuh kepadamu, meratap dan memohon agar kau saja yang melakukan semuanya. Dalam benakku itulah cara yang sah. Hari ini aku menyesal, karena do’a permintaanku tak lebih hanya bentuk lain dari keserakahan dan keculasanku, keinginan merebut apa yang orang lain inginkan, apa yang orang lain impikan.

Tuhan, malam ini aku tak meminta apa-apa, aku hanya ingin menyapamu, terserah kau sajalah, kehendakmu tak dapat kuatur. Aku tak ingin menambah rumit alam cita-cita manusia yang aku yakin sudah sangat kompleks, yang setiap malam menjadi dunia tersendiri entah di mana tempatnya. Tak dapat kusangkal lagi hanya engkau yang mampu dengan sempurna mengatasi keinginan-keinginan manusia yang berlawanan satu sama lain. Aku sebenarnya malu karena tak mampu menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah yang lain. Jika ternyata aku mampu, kudapati masalah itu ada pada ketidakmampuanku untuk memikul risikonya sepanjang waktu.

Sebentar lagi aku akan tidur, akan hilanglah segala hasrat yang menggelayuti pikiranku. Jika ada kesempatan kau berikan, esok akan kukirimkan surat ini kepada seseorang. Namun jika kau ingin memanggilku hari ini, panggillah aku dalam tidur, saat aku tak berhasrat, karena hanya saat tidurlah aku tak punya keinginan apa-apa, tak memikirkan apa-apa, sedang saat mencoba bersujud di hadapanmu aku belum mampu melenyapkan hasratku.

(Pada Suatu Malam Biasa)

Baca Selengkapnya... → Surat Untuk Dua Kekasihku yang Satu

RINDU BAYANG-BAYANG

Oleh: Fariha Ilyas

Tak terhitung lagi hikayat tentang malam purnama yang diwarnai berbagai peristiwa. Rembulan purba yang mencapai puncak terang cahayanya selalu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi makhluk yang berpikir di bumi, walau rembulan di hari-hari biasa tak kalah menariknya.

Malam ini, sebagaimana yang telah kita ketahui, adalah malam pertunjukan bagi sang rembulan purba. Malam ini ketelanjangan sang rembulan terumbar tanpa selubung gelap yang di hari-hari lampau masih menjadi tabir kesempurnaan cahayanya.

Inilah salah satu kisah kecil di malam purnama itu:

Kembara dan suatu malam yang terang oleh cahaya purnama. Ia berjalan sambil menunduk di sebuah jalan panjang tanpa pepohohan di kanan-kirinya. Sebuah hamparan yang luas nampak jelas di hadapannya, namun ia abaikan itu. Ia begumam dalam hati tentang kerinduan akan bayang-bayang.

Suatu ketika di waktu lampau, seseorang pernah berkata kepadanya bahwa yang paling menarik dari malam purnama bukanlah terang cahaya yang berpendar menguningi segala benda, melainkan kepekatan bayang-bayang yang diciptakannya.

Kembara merenungi kembali ucapan seseorang itu. Ia terus berjalan, sembari menatap bayang-bayang diri yang hitam, walau tak sepekat bayang-bayang yang dilukis matahari saat siang. Ia lega karena malam ini segenggam kerinduannya akan bayang-bayang telah terobati. Ia lega sekaligus mulai resah jika harus kembali ke tempatnya semula, sebuah tempat yang penuh lampu. Kembara bukan tak suka kepada bayang-bayang yang dilukis oleh lampu-lampu, ia hanya rindu pada keteraturan yang tercipta saat sang rembulan yang melukiskannya. Bayang-bayang akan jatuh seirama. Itulah.

Namun bukan hanya itu.

Dengan menatap kepekatan bayang-bayang, ia tahu bahwa di atas sana rembulan masih bercahaya terang, mendatangkan keyakinan bahwa matahari masih bersinar dan akan menyapanya lagi esok hari. Cahaya rembulan adalah harapan akan sebuah kehidupan yang akan menjelang.

Bagi kembara memang tak ada yang lebih menenangkan selain dapat menemukan bayang-bayangnya sendiri yang dilukis oleh rembulan. Saat bayang-bayang mulai hilang, kecemasan akan sebuah kehidupan hari esok pun mulai menyeruak. Untuk itulah ia selalu bersujud saat bayang-bayangnya mulai terlukis, walau samar. Ia tahu bahwa rembulan telah muncul kembali, walau hanya sebagai sebuah garis lengkung yang lemah cahayanya. Soal kepekatan bayang-bayang, soal purnama, ia akan datang seiring waktu.

Entah kenapa Kembara sepertinya terbawa oleh pikiran seseorang yang banyak berujar kepadanya tentang keberadaan diri. Orang itu berkata bahwa kita selalu memerlukan pantulan diri kita untuk yakin bahwa kita masih ada. Untuk itulah kita masih senang bercermin.

Bayang-bayang, walau tak sesempurna cermin dalam merepresentasikan diri kita, ia tak mengundang kekecewaan karena ia tak mengumbar banyak tentang ketidaksempurnaan diri kita yang seringkali kita temukan dalam hal-hal kecil. Bayang-bayang hanya menyajikan bentuk kita yang paling mendasar. Tak banyak perbedaan diantara kita yang akan tersaji dalam bayang-bayang itu. Bayang-bayang mencegah kita menemukan perbedaan-perbedaan yang tak terlampau perlu dilihat, apalagi diperdebatkan.

Kembara terus berjalan sembari mematut diri. Menggali hakikat dan berupaya meletakkan dirinya dengan tepat, agar selaras dengan semesta yang melingkupi.

Demikianlah satu dari jutaan hikayat malam purnama.

Malam ini purnama berpadu dengan gerhana, kita tak terlampau cemas akan hilangnya cahaya itu. Karena kita tahu bahwa ia hanya sementara. Kita lebih cemas jika suatu ketika bayang-bayang kita lenyap, karena akan timbul pertanyaan: cahayakah yang tiada? atau diri kita yang sirna?

(Saat rembulan kemerahan. Dini hari, 16 Juni 2011)

Baca Selengkapnya... → RINDU BAYANG-BAYANG

Selasa, Juni 14, 2011

Bagaimana kabarmu, Ibu?

Oleh: Fariha Ilyas

Dulu kusaksikan sendiri, kurasakan sendiri

Wujud dan ketulusan kasihmu


Suatu hari kusaksikan sendiri

Nafasmu mulai jarang dan akhirnya hilang


Kau rasakan sendiri

Nikmat perihnya kematian itu


Empat bulan ini sudah beberapa kali aku pulang ke rumah, dan setiap kali pulang aku merasa masih akan menemuimu duduk dan tersenyum melihatku. Ya, aku masih saja sulit menghilangkan harapanku ini walau kenyataan telah tertanam di memoriku. Kenyataan bahwa kau takkan lagi duduk di beranda rumah dengan daster dan rambut berubanmu yang kau ikat. Banyak sekali peristiwa yang terlewat diantara kita. Beberapa hal memang tak bisa dibagi, kau tahu itu.

Kita memang dekat sekali secara emosional, entah sejak kapan tepatnya, namun semenjak aku mulai dilingkupi kesadaran akan kesementaraan kebersamaan ini, aku sangat menikmati waktuku bersamamu. Saat memasak di dapur adalah saat-saat paling mengesankan bagiku, karena selalu saja saat itu penuh dengan pembicaraan kita tentang banyak hal, walau tak semua. Ada hal-hal yang belum kau ketahui tentangku.

Kau tak pernah tahu, bahwa sedari kecil aku gemar menghabiskan waktuku di pemakaman. Siang, sore, malam, sering kuhabiskan waktu menyendiri di sini. Bahkan beberapa tahun terakhir ini saat malam lebaran tiba dan takbir bersahutan di mana-mana, aku lebih memilih perkampungan sepi ini untuk merenung, perkampungan yang hanya berisi jasad-jasad yang dulu pernah menjejakkan kakinya di bumi yang sekarang masih kudiami. Beberapa tahun lalu jasad kakek menjadi warga perkampungan sepi ini. Sesuatu yang sudah kuduga sebelumnya. Aku tak pernah merasa heran dengan kematian, karena ia niscaya. Aku tak pernah merasa kaget dengan berita-berita kematian yang sering terdengar sebelum akhirnya kau juga diberitakan dalam kematian itu.

Semenjak kau terbaring lemah di rumah sakit, aku telah mempersiapkan diriku menyambut hari yang bisa saja merupakan hari terakhirmu, atau hari terakhirku sendiri. Karena seperti kematian, perpisahan itu juga niscaya datangnya. Kematian-kematian itu adalah salah satu jalan saja. Namun sekuat-kuat batinku, sesaat sebelum kau kembali ke asalmu, tiba-tiba saja seluruh cairan di dalam tubuhku naik, dan tumpah ruah keluar dari kedua mataku. Sesaat sebelum aku menangis keras bapak berkata: “Kalau memang ibu harus diambil sama Alloh, kita harus ikhlas”, entah kenapa hingga hari ini jika aku teringat kata-kata bapak itu aku masih saja menangis keras.

Dadaku masih saja terasa sesak dan air mataku masih saja tak terbendung jika aku ingat lagi beberapa kata-kata bapak bahwa: “Tugas ibu mengantarkanmu telah selesai, ibu hanya mengantarkanmu sampai di sini, setelah ini, kamu dan kita sekeluarga harus mampu berjalan tanpa Ibu”. Mungkin kata-kata bapak itu benar. Kau tak harus mengantarkanku dan saudara-sauadarku hingga ke puncak-puncak pecapaian yang kami impikan. Namun tak pelak kepergianmu membuatku tak punya kesempatan lagi untuk mengundangmu menghadiri hari-hari yang penting dalam hidupku. Semenjak dahulu aku tak pernah lupa meminta restu kepadamu menjelang aku menempuh ujian, dan saat-saat seperti itu adalah saat-saat terindah menjadi seorang anak, dan memiliki seorang ibu. Hidup dengan iringan do’a Ibu adalah hidup yang paling menggairahkan karena dunia ini terasa kecil saja di pandangan mata, terasa mudah saja ditaklukkan, bukan karena kemampuanku namun karena keyakinanku akan do’amu yang tulus untukku.

Berat sekali rasanya kau tinggalkan, kau adalah kekuatanku yang tak kentara. Hanya kau yang mampu meredam segala gejolak dan gundah hatiku. Untuk itulah aku selalu pulang jika tak ada tempat lagi yang dapat membuat perasaan resahku reda. Untuk itulah aku masih sering berbaring di sampingmu hingga aku dewasa.

Aku tak pernah memberimu apa-apa. Karena itulah semenjak masa sekolah dulu aku sudah punya keinginan untuk memberimu hadiah istimewa, aku ingin suatu ketika aku berucap kepadamu “Bu, minggu depan aku wisuda, pencapaian ini untukmu”. Aku tak pernah ingin kau hadir dalam seremonial macam itu, sebelum aku menyelesaikan jenjang S2. Itu tekadku. Untuk itulah kenapa dulu aku tak menyampaikan undangan wisudaku saat aku lulus dari pesantren. Malam itu hampir semua orang tua santri wisudawan bergembira dan berbangga. Aku masih malu untuk berdiri dan disaksikan olehmu. Aku harus mencapai sesuatu yang kurasa pantas kau pandang, kau banggakan. Walau waktu itu aku adalah lulusan terbaik tapi di benakku itu tak ada artinya, tak pantas untuk kubanggakan dan kupersembahkan. Hingga akhirnya aku kuliah dan keinginan itu masih terus kupendam, aku belum ingin kau menyaksikanku lulus S1. Aku ingin kau hadir nanti, saat aku merampungkan S2 dan itu bukan sebuah target yang muluk untuk saat ini, bahkan hal itu masih tak ada artinya dengan pencapaian-pencapaianmu dalam merawat dan mendidikku.

Entah apalagi yang hendak kukatakan tentangmu, sulit sekali rasanya. Tempo hari aku tak sengaja menemukan sebuah file rekaman suara di handphoneku, kudengarkan baik-baik, ternyata suara itu adalah percakapanku denganmu waktu di rumah sakit, entah bagaimana percakapan itu terekam, karena aku tak pernah dengan sengaja merekan obrolan-obrolan kita. Terbersit keinginan untuk itu pun tak pernah. Rekaman itu tak sengaja. Rekaman itu kini kusimpan baik-baik sebagai sebuah kenang-kenangan bersamamu. Sedikit sekali aku memiliki kenangan-kenangan berbentuk fisik denganmu, aku tak pernah dengan sengaja berfoto bersamamu. Aku lebih suka menuliskan hal-hal berkesan di catatan harianku.

Aku juga masih ingat pertengahan Desember tahun lalu, saat kau mulai merasa tubuhmu sakit. Kau memintaku memijit kedua kakimu seperti biasanya kulakukan saat kau merasa tak enak badan. Aku beruntung sekali karena masih diberi kesempatan untuk merawatmu walau tak sepenuh waktu karena masih harus sering ke berada di Solo. Aku menikmati saat-saat aku merawatmu Ibu, saat aku memasak untukmu. Ya, kau lah yang selama ini memasak untukku. Aku juga bangga masih diberi kesempatan membantumu mandi karena kaulah yang selalu memandikanku saat aku belum mampu membersihkan diriku sendiri. Hingga saat-saat terakhirmu tiba, aku memangkumu, saat kau mandi untuk yang terakhir kalinya. Ya memang begitulah semestinya.

Belum lama aku bersama ayah, adik, dan mbak berziarah ke makammu. Hari itu aku sebenarnya merasa enggan, semenjak kau pergi aku selalu takut pergi ke makam tempat di mana sering kuhabiskan waktuku. Aku merasa belum sanggup menanggung rindu yang kian hari kian berat kurasakan. Aku merasa belum memberimu kebanggaan apa-apa. Itulah yang selalu membuatku malu kepadamu.

Tak pernah, takkan pernah lagi akan kutemui manusia yang lembut hati dan menyayangiku sebesar dirimu. Untuk itulah kehilangan ini telah lama ingin kutangkal, ingin kuhindari. Untuk itulah aku pernah berdo’a kepada tuhan, agar aku pulang lebih dahulu daripada kau.

Do’aku memang do’a yang angkuh. Seolah-olah aku telah siap menghadapi kematian itu dengan segala kelengkapan kehidupan yang akan kujalani setelahnya. Namun saat itu aku benar-benar tak ingin kehilangan dirimu. Do’a itu tak terjawab sesuai dengan apa yang kuminta.

Baru saja aku berpamitan kepada bapak, mencium tangannya, dan masih kurang lengkap rasanya. Langkahku kurang mantap sebelum restumu mengguyur diriku yang selalu tak yakin ini.

Kau tetaplah yang tak tergantikan.

Petang ini aku didera sakit yang sering membuatku tak berdaya, aku sempat tidur sejenak, saat bangun aku masih saja merasa badanku tak enak. Namun sekilas ingatan tentangmu membuatku ingin bertanya dan selalu saja ingin bertanya:

Bagaimana kabarmu, Ibu?

Sebentar lagi bulan puasa tiba dan lebaran tahun ini jelas akan berlangsung tanpamu. Entah, apa aku sendiri juga masih akan diberi umur untuk melewatinya atau tidak. Namun rasanya jika aku harus mengunjungi pemakaman lagi saat malam idul fitri, aku mungkin tak tahan untuk terus diam seperti biasanya. Sekuat-kuatnya kukatupkan mulut ini, saat itu hatiku pasti akan tergelitik untuk bertanya:

Bagaimana kabarmu, Ibu?

Hari ini, entah, apakah cita-citaku sekarang masih mampu kulanjutkan. Langkahku limbung, do’a-do’amu tak lagi mengiringiku, dan aku pun kembali menjadi seorang peragu. Pada titik ini aku merasa tak punya kekuatan apa-apa. Semangatku luruh, berguguran. Hanya petuah-petuah bapak yang seringkali masih bisa mengangkat moralku yang sering jatuh setelah kepergianmu. “Kamu harus menjadi orang yang berjiwa besar”. Saat kata-kata itu meluncur dari mulut ayah tak banyak yang dapat kutafsirkan. Tetapi lambat laun sebenarnya kata-kata itu juga bermakna “Kau harus meneladani Ibu”.

Ya, tak dapat kusangkal lagi memang, bahwa kau adalah wujud nyata dari jiwa besar itu. Aku, kami sekeluarga menjadi saksinya. Orang-orang juga berkata hal yang sama. Hingga kemarin, masih saja orang membicarakanmu, lebih tepatnya membicarakan kebesaran jiwamu. Tak salah memang jika kita sering mendengar bahwa jiwa itu akan terus hidup, ia akan tetap menjadi bagian dari kehidupan yang ditinggalkan, setelah jasadnya sendiri kembali ke asalnya: Tanah.


Kematian itu niscaya

Ia hanya memisahkan sejenak

Sesungguhnya ia adalah pintu

Untuk sebuah pertemuan abadi


Biarlah gumpalan rindu ini

Kubungkus dalam kantong

Akan selalu kubawa dan kugendong

Hingga pintu itu kembali terbuka


(Petang hari, 13 Juni 2011)

Baca Selengkapnya... → Bagaimana kabarmu, Ibu?

SEBUAH PERJUMPAAN (2)

Oleh: Fariha Ilyas

Han dan Kumandang Adzan

Sinar matahari menerobos sela-sela ventilasi kamarku, ia masuk setelah melewati jarak yang jauh sekali, menembus lapisan atmosfer bumi, luput dari hadangan awan dan setelah dengan mudah menembus kaca ventilasiku yang agak buram, tanpa ampun ia menghantam mataku.

Aku terbangun dari tidur yang entah seberapa lama. Dengan sedikit melihat ke arah cahaya kemerahan yang tajam itu aku tahu bahwa sore ini matahari memamerkan kuat cahayanya tanpa dibiaskan oleh awan-awan.

Kulangkahkan kaki menuju tempat biasa setelah membasuh muka dengan air yang sore ini terasa dingin sekali. Rupanya cahaya bergerak yang tadi hanya sebentar melewati ventilasiku merupakan isyarat bahwa aku harus bangun dan melangkah di sebuah jalan yang mestinya kulewati dalam rancangan takdir hidupku. Hal inilah yang baru kuketahui belakangan, setelah peristiwa yang akan kuceritakan ini usai.

Di pematang sawah yang tempatku biasa duduk, terlihat sosok yang tak asing, Han. Mungkin inilah hari yang memang telah ditentukan sebelum kelahiranku, hari yang mempertemukanku dengan Han untuk yang kesekian kalinya dan berdialog dengannya untuk yang pertama kalinya dalam hidup.

“Han....”. sapaku.

“Ya”

“Apa kabar kau, Han? Kemana saja kau selama ini?”

“Aku baik-saja. Aku pergi ke suatu tempat yang tak dapat kau bayangkan”

“Tempat macam apa yang kau maksud?”

“Suatu tempat yang penuh dengan cahaya, hingga aku tak mampu melihat apapun, bahkan diriku sendiri”

“Adakah tempat seperti itu di bumi ini, Han?”

“Ada”

“Di mana?”

“Tempat di mana saja kau berada”

“Bagaimana kau tahu itu, Han?”

“Aku mencari”

“Kemana kau mencari? Dengan apa?”, cecarku.

“Ke dalam diriku sendiri. Dengan diam dan melupakan”

Aku tak mengerti apa yang dikatakannya, namun tak lama kemudian adzan berkumandang. Suara pengumandang adzan itu akrab sekali, dan hampir setiap hari aku mendengarnya. Ya, itu suara bapak.

“Pulanglah! adzan maghrib telah berkumandang”, kata Han.

Aku diam saja tak menjawab apa-apa.

“Masih saja kau keras kepala rupanya”, Han membaca pikiranku.

“Aku tak bisa lagi Han, suara itu tak menggetarkan lagi”, aku berujar lirih.

“Hatimu telah mengeras, karena tak kau hiraukan lagi hal-hal di sekelilingmu, kau hanya memikirkan dirimu sendiri!”, kata Han dengan suara yang meninggi.

“Kau pikir semua hal bisa kau tentukan ukurannya lewat dirimu sendiri? Kau pikir kau berhak menentukan apa yang sebenarnya harus dan tak harus kau lakukan? Kau pikir kau sedang berjalan di atas kebenaran?”, ia melanjutkan.

Aku diam saja karena aku memang tak sanggup berkata apa-apa. Han, kembali berucap:

“Kehidupan ini sudah cukup panjang, dan memang kita berhak memaknai kembali hal-hal yang hanya dikabarkan itu, dari situlah hidup menemukan artinya. Namun bukan berarti kita punya kebebasan mutlak menafsirkan segala hal dengan pandangan kita sendiri. Segala sesuatu itu tetaplah memiliki batas-batas, walau terlingkupi oleh relativitasnya masing-masing. Kau tetaplah harus memilih, dan pilihan itu mencakup segalanya, tak ada yang bisa kau tinggalkan dalam keutuhan sesuatu yang akan mengantarmu menuju hakikat dirimu. Hidup memang harus punya arti, itu semua hanya mungkin tercapai, dengan meleburkan diri kita ke dalam sebuah aturan yang lengkap, bukan setengah-setengah!”

Suara Han yang bertubi-tubi melebur dengan suara adzan itu, suara bapak. Hatiku seperti ditusuk-tusuk. Aku gemetar. Kedua kakiku yang sedari tadi terasa begitu kuat berdiri tiba-tiba terasa lumpuh.

Han berdiri, memandangku dan mengucap salam. Kemudian ia berjalan ke sebuah horizon maha luas yang mulai tak jelas lagi garisnya. Cahaya yang kian surut mempercepat lenyapnya sosok itu dari pandanganku.

Adzan hampir usai, menuju kalimat terakhirnya yang masih sangat kuhafal. Namun sebelum itu jasadku telah roboh.

(Madiun, 12 Juni 2011)

Baca Selengkapnya... → SEBUAH PERJUMPAAN (2)