Rabu, Januari 14, 2015

Tuhan, yang Kami Pantati

 Para jama'ah maghrib sulit memulai sholat dengan tenang. Terang saja, mbah Ni, yang biasanya berjaga di depan masjid dan sholat setelah para jama'ah pergi "mendadak" kini berada di hadapan kami, menjadi imam.

Haji Markum, entah ke mana dia. Kang Fajri, muadzin yang biasa menjadi badalnya pun kali ini tak hadir.

Entah kenapa, kebetulan tak ada yang mau maju jadi imam. Mbah Ni akhirnya menjadi imam kami maghrib kali ini. Meninggalkan puluhan motor di luar sana, di halaman masjid kota yang rawan.

Memang, setelahnya kami para jama'ah baru sadar -setelah usai saling berbincang singkat- bahwa selama ini ketenangan atau kekhusyukan kami saat sholat sangat tergantung pada keberadaan mbah Ni. Bahwa ia ada di halaman masjid berjaga mengawasi sepeda motor kami.

Saat mbah Ni tak ada di luar sana ketika kami sholat, batin kami 'mobat-mabit'. Untunglah memang, tak terjadi apa-apa. Aman. Meski akhir-akhir ini curanmor marak lagi.

Soal ini, dengan setengah guyon, mbah Ni berkata santai, "kowe weruh pora nek aku ki tenang-tenang ae. Soale mau aku dikandhani gusti, gusti sing ganti jaga neng njobo. Ya wes aku ra kepikiran, wong yo dudu motorku. Motormu to? Hahaha". (Kamu tahu tidak, saya tenang-tenang saja. Soalnya tadi tuhan bilang kalau dia yang ganti berjaga di luar. Ya sudah saya tidak kepikiran. Apalagi itu kan bukan motor saya. Motor kamu kan?).

Kami tertawa kecut. Sepanjang sholat tadi tak sedikitpun terpikir, bahwa tuhan (juga) ada di belakang kami, kami pantati.

Entah, pada siapa kami bersujud. Tadi.
Baca Selengkapnya... → Tuhan, yang Kami Pantati

Cerita Hujan

 Seperti suara snare, di atap. Rapat.

..... dan sruputan kopi panas membawaku kembali dari perjalan ulang-alik dari satu realitas ke realitas lain pada sore di awal tahun ini.
..... sebuah buku catatan terbuka di atas meja, di samping asbak. Di lembar-lembarnya liku-liku. Pada setiap kata adalah laku yang telah lalu. Ialah autobiografiku yang pasti akan membuatmu tertawa jika membacanya. Autobiografi yang dianggap konyol olehku sendiri. “kok bisa-bisanya ya?”, begitu gumamku sambil menahan tawa diri.
..... tidak mudah menerima diri sendiri. Orang sulit menikahi dirinya sendiri, diri yang berlapis-lapis ini. Diri yang sering sulit dipilah mana yang inti dan mana yang sekadar variasi.
..... untunglah ada catatan itu, yang membuat diri bisa dibaca dalam bahasa indonesia. Hahaha. Sungguh lucu sebuah diary. Di sana aku menjadi tokoh utama, pusat dunia. Dunia yang selalu versi.
..... dan begitulah pekerjaanku kala hujan sore begitu ritmis dan sering menghipnotis.
Baca Selengkapnya... → Cerita Hujan

Senin, Desember 15, 2014

Khotbah Wayne Mies di Masjid para Imigran

Saudara-saudaraku sekalian..

Jum’at ini kita lagi-lagi berkumpul untuk sembahyang bersama, seperti jum’at-jum’at yang lalu. Saya sebenarnya agak merasa bimbang beberapa hari ini, apa yang harus saya sampaikan untuk diri saya sendiri yang bodoh ini. Saya bisa mangkir, dan memilih untuk menenggelamkan diri di perpustakaan, atau hiking sekadar untuk merasakan kebesaran alam, dan tak perlu lagi saya ucap apa-apa kepada diri saya ini.

Namun, saya pada akhirnya mesti harus tetap menjalankan tugas rutin ini, yang saya tidak tahu apakah saudara-saudara sekalian merasa bosan dengan saya atau tidak. Hari ini, terlalu banyak jalan bagi kita untuk bisa belajar dan mengetahui, menghimpun sebanyak mungkin jawaban bagi rasa ingin tahu kita pada apapun. Termasuk rasa ingin tahu kita kepada Tuhan, dzat yang kita sembah setiap hari, yang membuat kita semua yang berada di sini merasa memiliki sebuah ikatan, sebuah kesamaan.

Saudara-saudaraku yang saya hormati..

Di masjid kita ini seminggu sekali kita berkumpul di sela-sela kesibukan kerja kita, di antara upaya kita memperjuangkan kelangsungan hidup kita ditempat yang jauh dari tanah di mana kita dilahirkan. Sungguh, bagi saya pertemuan dengan saudara-saudara yang berasal dari segala penjuru dunia ini merupakan suatu rahmat yang sangat saya syukuri. Namun demikian, saya merasa ada sesuatu yang mengganjal di benak saya selama bertugas di sini. Apakah kita memiliki tuhan yang sama? Apakah kita menyembah tuhan yang sama?
Saudara-saudara mungkin agak terkejut setelah berada di masjid ini saya justru melontarkan pertanyaan seperti itu? Seolah saya menganggap diri saya dan saudara-saudara sekalian berada di sini dengan suatu alasan yang meragukan. Bukan, bukan seperti itu yang saya maksud.

Saya memimpikan sebuah dialog dengan saudara-saudara sekalian. Dialog yang akan membuka pikiran saya sendiri yang masih banyak berselimut kebodohan dan ketidaktahuan tentang tuhan. Setiap hari beberapa diantara kita yang berjamaah di masjid ini sering berbasa-basi satu-sama lain. Membicarakan pekerjaan, keluarga, rindu kampung halaman dan masa depan. Saya juga seorang imigran, sama dengan saudara-saudara semua, saya tamu di tempat ini. Lalu apa yang membuat kita merasa begitu dekat? Setiap malam saya memikirkan hal ini.

Saya terdorong rasa ingin tahu yang besar untuk menguak pikiran-pikiran kita yang berlapis-lapis. Mungkin ini sebuah kelancangan saya, saya minta maaf jika dianggap demikian. Saya kira dorongan-dorongan semacam itu akan baik jika dengannya saya memahami isi pikiran orang yang menjadi rekan saya berbicara. Selama ini saya merasa bersalah jika menyampaikan khotbah-khotbah yang saya susun berdasarkan pengetahuan saya yang didukung oleh buku-buku yang saya baca. Saya mengajak, menggiring saudara-saudara pada apa yang saya ketahui dan pahami. Saya tidak mengetahui apa yang saudara ketahui dan pahami.

Pikiran saya berontak pada semua ini, hati saya pun merasa tak nyaman. Saya berkeyakinan bahwa saudara-saudara sekalian memiliki pengalaman, keunikan, yang lahir dari perbedaan tempat, budaya, situasi, yang mengitari awal mula hidup kita, mengiringi pertumbuhan kita. Semua itu saya kira sangat memengaruhi diri kita, apa yang terpikir, dan apa yang dirasakan. Untuk itulah tadi saya bertanya-tanya, apakah kita menyembah tuhan yang sama?

Dulu di kampung saya, saat saya masih kecil, saya memahami tuhan saya yang menciptakan ayah ibu saya, laki-laki dan perempuan kaukasoid yang bertulang besar, berambut pirang dan bermata biru. Tuhan saya lah yang menciptakan salju dan dingin yang membekukan saya saat musim dingin tiba. Ia mencipta pohon poplar, dandelion, bunga matahari yang indah warnanya itu. Ketika saya mengenal buku bacaan di sekolahan saya terpukau dengan pelajaran geografi, biologi, antropologi, sejarah, seni, yang membuat saya melihat hal-hal yang tidak saya temui dalam kehidupan saya secara langsung. Saya merasa bahwa pohon itu, yang gambarnya tertera di buku itu bukanlah pohon yang diciptakan tuhan saya, demikian pula dengan bunga-bunga dan binatang itu. Yang paling jauh adalah, saya merasa orang-orang luar negeri yang gambarnya bisa saya lihat di buku itu bukan ciptaan tuhan saya. Saya terkungkung dalam pemahaman semacam itu.

Hari ini, setelah beberapa tahun saya hidup bersama saudara-saudara di sini, setelah banyak waktu kita saling bicara, saya belajar dan mulai berubah. Misalnya saya bertemu dengan saudara saya Mas’oud dari Maroko itu. Saya belajar mengerti banyak, saya mendefinisikan ulang diri saya bertolak dari pemahaman dan perjumpaan-perjumpaan baru. Memang itu hal sepele, hal biasa yang dialami setiap penjelajah dunia. Tapi bukankah selama ini kita terbentuk dari hal-hal yang sepele itu? Sedari kecil saya makan bubur gandum, kentang, kacang, sementara saudara Fadli dari Malaysia kenyang dengan bubur nasi. Bukankah itu sepele belaka? Lalu kita tumbuh besar dari itu semua hingga saat ini. Saya rasa saudara-saudara sekalian juga mengalami apa yang saya rasakan dan pikirkan itu.

Saudara-saudaraku yang saya cintai..

Saya kira, persoalan perubahan keyakinan pada tuhan itu bukan hanya wilayah debat para teolog, menjadi sesuatu yang mesti dilegitimasi dengan setumpuk argumentasi teologis yang dipelajari di sekolah-sekolah. Saya rasa persoalan semacam itu adalah persoalan diri kita dan upaya mengkristalisasi pengalaman hidup kita. Kita mesti menyadari dan menghayati dari mana kita berangkat dan bagaimana kita bermula memahami apa dan siapa itu tuhan. Kita sering melupakan hal itu, dan justru setelah kita dewasa dan bisa mempelajari banyak hal dengan membaca buku dan mendengar ceramah agama, kita tanpa sadar dengan sukarela menukar pengalaman hidup kita dengan pemahaman baru yang disusun oleh pikiran dan disarikan dari pengalaman orang lain. Kita tak percaya diri dengan pengalaman dan penghayatan hidup kita sendiri. Kita sendiri yang menghakimi pengalaman hidup kita ini tak terlampau berarti. Bukankah itu sebuah tragedi?

Kita akan selalu berbeda. Saya yakin hal itu. Tak soal, kita tak perlu takut akan kehilangan ikatan. Yang terpenting dari ini semua adalah saling mengerti perbedaan itu, mengenalinya hingga akarnya, sehingga kita menemui keutuhan pemahaman. Kita tak menuntut terlampau banyak pada orang lain sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita akan terbebas dari kekhawatiran-kekhawatiran kita soal kebenaran. Selama ini kita menyaksikan ketakutan-ketakutan itu menjangkiti umat manusia hampir di segala jaman dan di segala tempat.

Orang takut kesalahan ada pada dirinya. Ia mesti benar dengan cara membuat yang lain nampak salah. Ia enggan melihat, mendengar, memahami. Sedang untuk merefleksi diri orang tak lagi merasa sempat dan perlu. Diantara berbagai penyakit pikiran ini, marilah kita saling mengenal kembali dengan sungguh-sungguh, dengan niat dan tujuan yang jernih. Agar rasa takut di dalam diri kita ini berangsur lenyap.

Pedih perih dari luka-luka peradaban manusia ini, sebagian besar bukan diakibatkan oleh kebodohan pada mulanya. Ia disebabkan oleh ketakutan, ketakukan melihat kebenaran yang lain di luar diri kita. Bukankah kita telah mengingkari semangat kita sendiri yang setiap saat mendaku sebagai pencari kebenaran? Kita tak sungguh mencari. Kita lebih sering duduk diam, dan menghakimi.

Hari ini bayangan tentang diri kita tak lagi seperti dahulu. Kita dapat saling melihat sejak dini. Bagaimana saudara kita, sesama manusia berpikir dan berbuat di tempat hidupnya. Kita sudah melihat perbedaan. Tapi melihat saja tidak cukup, kita mesti mendorong diri kita untuk mengerti. Tak heran sekarang hidup kita juga masih diwarnai sengketa. Karena kita tidak ingin memahami. Segala yang dapat dengan mudah kita saksikan itu hanya kita biarkan menambah tumpukan asumsi-asumsi negatif. Kita makin brutal menghakimi, bahkan menghakimi diri sendiri pun kita tak lagi punya sandaran jelas.

Ada persoalan yang halus tapi pelik dalam kehidupan kita ini. Sejarah peradaban manusia ini saya anggap sebagai pembentuk siluet tuhan. Tuhan yang beribu tahun selalu mengiringi perjalanan hidup manusia tidak semakin utuh rupanya. Jika kita hanya bisa melihat siluetnya dari tingkah polah kita, sikap kita, apakah salah jika saya mengatakan bahwa tuhan itu tidak jelas? Karena ia selalu mendorong manusia untuk melakuakan hal yang berbeda-beda. Apalah kaum imperialis tak bertuhan? Apakah para penjahat tak bertuhan? Apakah para sufi dan pertapa saja yang bertuhan?

Tindak-tanduk kita, rumusan sikap kita, mencerminkan tuhan macam apa yang kita sembah. Saya percaya, kita punya hak merumuskannya secara pribadi. Karena hidup kita, pikiran, hati kita, diserahkan secara pribadi oleh tuhan kepada kita. Kita menyusuri waktu sebagai pribadi, dan akan kembali kepada tuhan sebagai pribadi.

Pribadi ini adalah alam-alam tersendiri. Seluruh alam adalah ciptaan tuhan, kata sandi tuhan yang kita terima berbeda-beda. Kita mesti belajar memahaminya ke kedalaman diri kita. Lalu dengan itu kita akan berhenti memaksa orang lain untuk mengerti.
Baca Selengkapnya... → Khotbah Wayne Mies di Masjid para Imigran

Kata yang Menunggu

Kisah ini baru saja dimulai. Ya, baru saja. Aku ingin memulainya saat tak lagi ada cerita masa lalu yang dapat kuingat. Orang selalu butuh cerita. Tak hanya butuh, tetapi orang memang hidup dalam sebuah cerita.
Hidup adalah cerita yang tak pernah jelas kapan dimulainya.  Di dalamya kita kadang-kadang berpikir, mencari cara, merancang akhir. Tak semua mesti dipikirkan, memang. Seperti saat kita bicara di sebuah kafe suatu sore. Kata-kata meluncur begitu saja seperti hembus angis di sawah atau lautan. Sesekali sempat juga kita dapati kata-kata itu menabrak, menabrak kekosongan konsep. Lalu kita diam sebentar. Bukan untuk berpikir, melainkan menunggu kata-kata keluar sendiri dalam bentuknya yang lain.
Jarum jam dinding kafe itu bergerak dalam kecepatan biasa saja, lazim. Tapi tidak dengan jarum jam di kepalaku. Entah, mesin sekuat apa yang membuatnya berputar begitu cepat hingga aku sendiri tak bisa menandai jam berapa ini.
Ada sebuah kata menunggu. Lupakan.
Ada yang lebih menarik sore ini dan kita mesti bergegas meninggalkan kafe. Ayo! Ayo cepatlah! Satu kisah lagi akan lahir!
Sebentang padang putih dengan pohon-pohon tanpa daun yang tumbang. Tak sedikitpun batangnya menyentuh tanah. Dahan dan rating-rantingnya menyangga batang pohon tua itu. Ganjil. Betapa kuat ranting-ranting kecil itu. Tak ada yang pernah tahu atau sekadar percaya kecuali kita yang menyaksikannya sore itu.
Ada sebuah kata lain yang menunggu. Abaikan.
Dari padang itu kutarik tanganmu dan kuajak kamu berlari ke sebuah mata air jauh di dalam hutan. Sesampainya di sana kita celup kedua kaki kita dan sejuk menjalar hingga ke ujung rambut.  Aku tertawa, juga kamu.  Tawa kita tak pernah terdengar oleh manusia-manusia lain yang jauh di sana. Di hutan ini hanya kita manusia pertama yang pernah masuk di dalamnya. Hutan ini penuh hantu, katanya.
Ada sepatah kata menunggu. Biarkan.
Sekarang giliranmu membebaskan suka. Aku menurut saja saat kamu melompat tinggi dengan menyeretku serta. Kita melayang, menatap hutan pekat yang memucat. Di sana ada sebatang pohon yang pucuknya menjadi puncak tertinggi di hutan itu. Sebuah tanda. Di bawahnya ada lubang yang dalam dan gelap. Tak seorang pun tahu pasti seberapa dalam, seberapa lebar dan seberapa dingin, seberapa pengab dan seberapa membahayakan. Mungkin tak akan pernah diketahui. Tak semua hal dapat terengkuh oleh hasrat kita mengetahui hal yang telah lama ada. Namun kegelapan lubang itu setidaknya membuat kita merindui cahaya yang terlalu biasa ini.
Sore menghabiskan tak banyak menit, tapi kita mesti kembali ke kafe tadi. Segelas minumanmu habis tandas. Kudapati kursiku berubah posisi. Ada jejak kata dan suara kutangkap. Sepertinya ada yang sempat menduduki tempatku menatapmu tadi dan mengajakmu bicara. Diam-diam aku curiga jangan-jangan ada orang lain yang senang menatapmu selain diriku. Jika benar demikian, aku harus segera berkeputusan; Baiknya aku pergi saja.
Seseorang itu tentu bukan orang biasa. Ia mampu menatapmu dan mengajakmu bicara saat kamu tak ada sedang aku yang sedari tadi bersamamu tak kuasa berkata. Aku hanya menggumamkan sesuatu yang belum dapat disebut kata karena tak pernah lengkap.
Keputusanku pergi kurasa sudah tepat. Sedari tadi ada kata yang menunggu. Bukan menunggu untuk diucapkan tetapi menunggu huruf-huruf yang akan membentuknya. Kamu tahu, aku belum memilikinya lengkap. Kamu juga tahu aku akan mencarinya entah di mana. Mungkin dalam cerita-cerita lainnya.
Baca Selengkapnya... → Kata yang Menunggu

Kejahatan yang Bernyawa

Sekar, malam ini aku tak pulang. Kubalikkan arah setelah hampir saja aku tiba di halaman rumah. Jalanan sepi malam ini. Lebih senyap lagi gang-gang kecil yang kulewati. Di salah satu gang kudapati tikus got yang sepertinya baru saja mati.

Ah, seekor tikus yang mati. Pikiranku melayang jauh ke tanah seberang. Di mana banyak sekali manusia yang mati. Mati dibunuh. Ya, dibunuh dengan keji. Tiada kata yang cukup kasar untuk menggambarkan kebiadaban yang begitu nyata membuat manusia sendiri menjadi cemar namanya. Ya, pelakunya adalah manusia seperti kita juga.

Beberapa jam kuhabiskan di pertigaan jalan yang temaram. Aku merasa ingin pulang. Kubayangkan kau sedang menyeduh kopi dengan dua sendok gula seperti biasanya. Kau tentu mulai gelisah karena aku tak kunjung datang. Aku pun juga. Aku gelisah karena malam ini tak kutemukan alasan untuk pulang agar kita bisa berbincang sebentar sebelum terlelap beberapa jam ke arah pagi.

Sekar, kematian samasekali bukan sesuatu yang mengherankan. Biasa dan wajar adanya. Namun jika kematian itu menggores luka bagi yang hidup maka sebab-sebab kematian itu tentu patut dipertanyakan. Apalagi jika yang tergores tak hanya sekadar luka, melainkan dendam dan kebencian.

Tuhan memang sering membingungkan. Sungguh, dia mengizinkan semua ini terjadi. Tak hanya mengizinkan, tuhan bahkan menginginkannya. Kita lalu mengidamkan perdamaian yang kita yakini bahwa itulah yang diinginkan tuhan. Sekarang apa yang dapat kita simpulkan dari segala kerancuan ini?

Kurasa tak ada yang rancu atau saling meniadakan dari semua ini. Memang benar sepertinya keterbatasan kita tak cukup untuk menampung segala sifat tuhan yang paradoks. Pada akhirnya tugas kita hanyalah memilih diantara sifat-sifatnya yang bisa kita kenakan sebagai jubah. Malam ini kukenakan sehelai jubah tuhan yang paling kelam: kutukan. Sebagaimana banyak orang lain yang memilih mengenakan jubah itu untuk meneguhkan sikapnya pada peristiwa perih yang menyentuh rasa kemanusiaan kita yang terdalam.

Tak ada satupun yang dapat menghindar dari kutukan kita, termasuk dia yang menginginkan semua ini terjadi. Memang kadang-kadang kita perlu nampak terlalu berani menantang. Yang kita tantang tentu bukanlah dia yang tuhan itu, melainkan suatu ruang kosong yang digunakan manusia menempatkan segala alasan untuk membenarkan tindak-tanduknya yang membinasakan dan melenyapkan sesuatu yang samasekali tak mampu ia ciptakan: jiwa-jiwa manusia.

Pada suatu malam yang sama dengan malam ini aku tentu akan benar-benar pulang. Aku takkan memutar langkah seperti malam ini. Memang, malam ini aku sengaja melakukannya. Aku sedang menemui ruang kosong itu. Sungguh, di sana ada berjuta alasan yang membuatku masih memelihara sifat jahat dalam diriku.

Melalui sebuah pintu kecil yang malam ini terbuka, kumasuki ruang itu. Dengan berjuta alasan itulah aku berkelahi. Semoga jiwaku tak mati malam ini. Jika aku mati maka esok hari yang datang kepadamu bukanlah aku si manusia, melainkan kejahatan yang bernyawa.

Sungguh, para pembunuh itu sebenarnya telah mati terlebih dahulu daripada yang dibunuh. Jiwa manusia dalam diri mereka telah kalah dan binasa. 
Baca Selengkapnya... → Kejahatan yang Bernyawa

Surat Malam: Jiwa yang mencari Jiwa

I


Sekar, malam-malam lalu sempat gemuruh, langit memerah. Sebongkah gunung muntah. Aku mendapati diriku di kamar bersama setumpuk buku yang hampir lekat selalu, meski kadang tak perlu. Ingatan-ingatan membawaku pulang ke rumah, di pangkuan ibu. Dua hari lalu tepat tiga tahun ia pergi ke sang maha tahu. Aku merindukannya sekarang.

Sekar, pernah suatu malam aku tengadah ke langit. Aku bicara kepada yang maha luas itu. Bukankah dulu kita pernah berdo’a di tepian samudera biru? Kita selalu butuh hal-hal yang mirip dengan apa yang ada di dalam keyakinan kita. Do’a-do’a kita terus terucap berpadu dengan gemuruh ombak yang tiada berjeda. Kau tentu masih ingat apa yang kita pinta dalam do’a kita dulu: kita mengharap tak pernah dihinggapi rindu sepanjang hidup kita. Di perjalanan pulang kita sempat menyimpulkan hal itu mungkin terwujud jika kita bersama selalu, atau jika tidak, kita saling terjangkit lupa satu sama lain.

Entah kenapa do’a kita tak terkabul. Kita terpisah dan tak jua saling lupa. Aku menyimpan delapan helai mahkota bunga mawar putih yang sekarang telah menjadi kering dan rapuh. Kerapuhan kadang adalah tempat terbaik untuk sesuatu yang kokoh, yang tak terhancurkan, yang tak terkalahkan oleh waktu. Dalam gurat-gurat mahkota mawar itulah kusimpan segala peristiwa yang tak ingin kulupakan. Semacam pahatan imajiner tentang masa lalu di atas batu maha keras yang bernama pikiran. Pikiranku sendiri. Karena pahatan itulah aku merindukanmu sekarang.


II


Sekar, apa yang terjadi di akhir sebuah perjalanan seringkali memberi kesan tersendiri. Semacam aksentuasi dalam suatu peristiwa. Pelukan yang kau berikan malam itu selalu datang sebagai bayang-bayang dan mimpi yang menyentuh tak hanya pikiranku, tetapi seluruh pancainderaku. Hampir sebagai suatu kenyataan yang konkret. Aku nyaris kehilangan kewarasan.

Aku mencari-cari. Aku selalu mencari pelukan itu, aku ingin menemukannya lagi. Aku berharap akan menemukannya dalam sisa hidupku yang tak kuketahui ini. Aku ingin melekatkan diri pada imajiku tentang kamu, tentang pelukanmu, dan tentang sebuah waktu yang beku saat dua tubuh menyatu. Kurasa tak ada lagi yang lebih indah dari itu.

Malam-malam adalah saat yang paling menakutkanku. Aku selalu mengurung diri dalam gelap. Aku melakukannya semata karena kupikir dengan begitu bayang-bayangmu tak lagi dapat kulihat. Namun ingatan manusia adalah cahaya yang selalu sanggup membuat bayang-bayang menjadi begitu jelas. Aku tak pernah berhasil membuat bayangmu sirna. 


III


Sekar, aku masih ingat apa yang sempat kita sadari dulu sesaat sebelum kita terpisah: Bahwa kita telah memenangkan segalanya. Kita telah menemukan apa yang kita cari-cari dalam hidup kita, sesuatu yang didamba setiap manusia: sebutir cinta. Kita justru mendapatkan segenggam. Untuk itulah kita merasa cukup kuat untuk menaburkannya lagi ke semesta raya. Kita selalu yakin cinta sesungguhnya tak perlu kita pertahankan sebagai sebuah ego yang membuat kita merasa “harus” begini dan begitu. Kita selalu khawatir. Ego yang selalu membuat kita merasa harus terhubung, baik dalam pertemuan-pertemuan maupun dalam buaian rindu. Yang pertama tak lagi menjeratku. Yang kedua masih saja membelengguku.

Malam ini, meski aku tak yakin mampu menghindari bayangmu, kumatikan lampu kamarku.

***


I


Bara, setelah beberapa waktu tak lagi ada rangkaian huruf B, A, R, A di kepalaku, tiba-tiba tiga hari yang lalu susunan itu muncul. Nama adalah sebuah lambang, dan namaku tak hanya suatu lambang yang pendek arti melainkan suatu lambang dari peristiwa panjang. Seperti yang pernah kau katakan kepadaku dulu. Muhammad, nama yang sering kau ceritakan itu adalah perlambang suatu peristiwa besar dalam sejarah peradaban manusia. Aku menyukai interpretasimu.

Kau pernah mengatakan kepadaku bahwa nama "yang terpuji" itu tak hanya lambang suatu peristiwa peradaban, melainkan juga lambang dari satu peristiwa penciptaan. Dalam kebingunganku kau katakan sesuatu yang menurutku janggal, bahwa nama "yang terpuji" adalah nama tuhan yang lain. Yang terpuji, siapa lagi yang pantas disebut menyandangnya selain tuhan sendiri? Adapun tubuh seorang laki-laki keturunan salah satu suku di arab itu hanyalah tubuh manusia yang terpinjam belaka untuk mewadahi ruh yang terpuji itu. Begitu katamu. Aku belum sepenuhnya percaya. Kau memang orang yang menjejaliku beragam hal aneh yang menjelma menjadi teka-teki tanpa kusadari. Atau kau adalah seorang pembual?


II

Setiap orang memiliki rahasia, begitu juga kau dan aku. Memang ucapmu sering penuh rahasia. Namun tindak-tandukmu bukanlah rahasia atau teka-teki yang enigmatik untukku. Kau adalah seorang pencinta yang klise dalam perilaku. Aku tahu hari-harimu adalah hari-hari kebimbangan, malam-malammu adalah malam-malam pergulatan dengan perasaanmu sendiri. Aku yakin malam ini kau sedang memikirkan dan merindukanku. Aku tahu. Aku selalu tahu.

Kau bukanlah orang yang cukup pandai menyembunyikan perasaan. Kau juga bukan pemilik pikiran yang mudah tergerus lupa. Hal itu membuatku merasa kasihan kepadamu. Kau terjebak muslihat waktu yang selalu lebih licin daripada analisa sintingmu itu.

Kau perlu tahu bahwa aku pun tak sepenuhnya mampu lepas dari jerat ingatan dan kerinduan. Tiga hari lalu senja mengumbar keindahannya. Di barat sana langit memerah dengan sebuah lingkaran menyala yang kian turun. Di langit timur lingkaran yang hampir serupa bercahaya pula. Aku selalu riang karena dengan demikian kita semua tak akan kehilangan cahaya. Senja tiga hari lalu itu benar-benar menghantamku, merusak gembok ingatanku, membuka paksa pintu-pintunya dan membuat semua isinya terhambur keluar. Terseraklah namamu diantara ribuan kalimat kisah yang melayang-layang tak pasti dalam pikiranku: B, A, R, A.


III


Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk bertemu, Bara. Aku memang bersembunyi selama ini. Aku punya kehidupanku sendiri yang sepertinya tak akan bisa kau jangkau. Namun aku telah memecah jiwaku dan menebarkannya setiap malam kepada setiap jiwa yang hidup.

Aku berharap tak ada lagi aku yang kecil, aku yang menangis di bahumu dulu. Aku ingin menjadi aku yang besar, yang tak lagi perlu kau rindukan dalam lorong-lorong pencarian yang sempit, yang egois.

Semoga suatu ketika kau menyadari bahwa aku kini ada dalam diri orang-orang yang kau temui. Semoga kau selalu dapat menatapku dalam diri orang-orang yang kau tatap. Semoga kau dapat memelukku dalam diri orang-orang yang kau peluk.

Kau adalah seorang yang ditakdirkan untuk tak pernah kehilangan. Sayang kau tak tahu itu.
Baca Selengkapnya... → Surat Malam: Jiwa yang mencari Jiwa

Selasa, Oktober 07, 2014

Sebuah Cerita tentang Sore

Hey, sekarang aku tak lagi mampu banyak bercerita. Mungkin akan menjadi selamanya.

Sekarang kurasa giliranmu. Jangan hanya menangis sendu. Aku tak apa. Ini tak sakit. Jika dulu aku merasa ini sungguh sakit, aku telah terbiasa sekarang. Selain itu, tak lagi cukup tenaga untuk mengerang. Aku terlatih mengabaikan semua ini.

Sudahlah, tak perlu takut tentang sesuatu yang mungkin. Toh sedari awal kita sudah hidup dalam kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah ada putusnya. Hingga saat ini. Nafas kita setelah ini juga hanyalah sebuah kemungkinan. Iya, kan?

Ingin kudengar darimu cerita kita, terserah yang mana. Kamu pilih saja salah satu sore yang pernah kita lewati dulu. Tentu kamu masih mengingatnya beberapa. Pilih yang ada kereta api di sana, tanda perjalanan. Juga tentang anak-anak yang bermain layang-layang, tanda keceriaan. Aku ingin sekali sore yang itu. Ada beberapa, kan? Aku ingin suatu perjalanan yang penuh keceriaan.

Hey, kenapa kamu diam? Kamu takut sendirian? atau kamu sedang memikirkanku yang akan menjadi sendirian?

Kamu mesti tahu, beberapa waktu ini aku belajar mengingat. Aku mencoba mengingat tempat yang menjadi tempatku sebelum ini. Gelap sekali. Ingatanku tentang tempat itu yang gelap. Aku kesulitan sekali mengingat kegelapan. Sedang ingatan selalu penuh bentuk, warna, gerak, juga bunyi. Sedang tempat itu gelap dan tanpa bunyi. Senyap, gelap dan kosong.

Hhmm, meski aku tak bisa mengingatnya, tapi merasa tahu dan yakin pada adanya tempat yang demikian itu. Tempat yang senyap, gelap dan kosong. Cepatlah, aku tak tahu seberapa waktu tersisa. Segeralah bercerita tentang sore itu. Agar aku menyambut kematian dan dunia yang gelap itu layaknya malam yang selalu datang setelah sore. Aku ingin menuju kematian dalam perasaanku yang paling wajar. Karena itu memang wajar. Setelah malam itu- yang mungkin panjang- tentu aku akan kembali bertemu pagi.

Maka, tersenyumlah kembali.


(Untuk yang meninggalkan dan ditinggalkan. Surakarta. Sore, 7 September 2014)
Baca Selengkapnya... → Sebuah Cerita tentang Sore

Sabtu, Februari 18, 2012

Bayi Sang Nabi

Oleh: Fariha Ilyas


Rambutmu tergerai ditiup angin

Seperti gelombang di samudera

Kau berdiri di padang Sahara


Tubuhmu kotor mandi keringat

Matamu tajam seperti elang

Kau menangkap kilau kedalaman


Kau rengkuh mentari

Kau sirami tubuhmu dengan kemilau cahaya

terpancar ke seluruh penjuru jagat raya


Kau dekap rembulan

Kau lumuri wajahmu dengan sinar keteduhan

Menyelimuti bumi beserta isinya


Kami menangis merinduimu,

kami merintih mencintaimu


Dalam doa 'ku selalu memuja

Keselamatanmu dan sahabat

Serta seluruh umat di dunia


Kau rengkuh mentari

Kau sirami tubuhmu dengan kemilau cahaya

Terpancar ke seluruh penjuru jagat raya


Kau dekap rembulan

Kau lumuri wajahmu dengan sinar keteduhan

Menyelimuti bumi beserta isinya


Kami menangis merinduimu

Kami merintih mencintaimu


(Kau Rengkuh Mentari Kau Dekap Rembulan, Ebiet G. Ade)


Kepada yang sama dengan kami, inilah ungkapan dari kami yang kehilanganmu, yang luput dalam membaca jejak-jejak manusia paripurna:

Salamku kepadamu yang tak lekang dalam ingatan alam, yang pelan-pelan mulai terkikis tipis-tipis dalam memori kami yang menjadi pikun saat namamu disebut. Maafkan kami jika saat ini kami masih saja sering bertanya: siapa kau sebenarnya?

Kau yang sama dengan kami, yang telah diperkenalkan oleh jagad sebagai raja sejati kemaharajaan manusia. Tak ada kebanggaan selain dipimpin oleh seseorang yang merupakan bagian dari kami sendiri, jiwa kami sendiri. Karena kau mengerti rasanya menjadi kami. Kau tahu rasanya menjadi kita.

Kau yang sama dengan kami, adalah pancaran cahaya yang menerangi dalam gulitanya hati, mengiring langkah, menuju titik tujuan tak terukur. Kami selalu lupa bahwa kau tak mati, bahkan kau selalu lahir kembali. Untuk itulah kami tak pernah berpikir mengingat hari kematianmu karena itu hanya akan membuatmu benar-benar mati. Kami hanya ingin memperingati hari kelahiranmu, untuk meneguhkan bahwa kau selalu ada menemani kami berjalan ke arah asal, pulang.

Tanpamu kami merasa nyaman dengan pikiran-pikiran kami, keasyikan dalam simpulan-simpulan yang kami rajut sendiri. Untuk itulah kemudian kami menerawang sejarah, mencarimu lagi yang tak lagi jelas dalam ingatan. Kami ingin melahirkanmu lagi di sini, di zaman yang kadang sulit kami mengerti sendiri.

Akan kami timang bayimu, Sang Nabi, dengan rasa bahagia, dengan syukur tak terkira.

Lucunya, tapi memang, di Zaman ini kau seperti bayi, ucapmu tak terpahami.


(Surakarta, 17 Februari 2012)

Baca Selengkapnya... → Bayi Sang Nabi

Tangis Rindu dalam Rahim Ibu

Oleh: Fariha Ilyas

Barangkali kita lupa bahwa dulu kita menjerit-jerit dalam rahim ibu, saat ruh kita terpisah dari ruhnya. Saat diri kita terpisah dari dirinya, memasuki alam kasar, kehidupan fisik ini. Tangis itu tak pernah terdengar hingga ke luar, karena itulah tak ada orang yang tahu.

Kita menjerit sejadinya tatkala kita keluar dari rahim ibu, itulah tangis kita yang pertama terdengar orang lain, yang merambat ke telinga mereka melalui udara. Namun sebenarnya itu adalah tangisan kesekian kalinya yang keluar dari mulut kita. Itu hanyalah sisa-sisa. Dapat kita bayangkan betapa dahsyatnya tangisan kita sebelumnya, saat perpisahan itu baru terjadi.

Langsung saja setelah kita lahir, di telinga kita dibacakan nama tuhan, agar kita tak merasa asing di sini, agar kita tak kebingungan, agar kita yakin bahwa yang kita rindui-yang kita berpisah darinya-juga berada di alam ini.

Namun yang selalu dirindui itu tak pernah berperilaku biasa. Ia selalu membingungkan, membuat kita nyaris selalu meleset mengenalnya, mengenal sang kekasih yang kini sering menjadi asing. Orang-orang yang merinduinya mencoba menggambarkannya dengan beragam bentuk, citra, dan cerita. Itulah akibat dari sebuah kerinduan hakiki yang tak terobati, seperti tanya yang kunjung terjawab, yang memaksa si penanya menggagas jawaban sendiri.

Sayang memang, kembali ke rahim adalah hal tak mungkin, untuk mendekat kepada saat tangis kita yang pertama. Ialah mimpi, ialah ujung pangkal perjalanan umat manusia. Yang hidup memekik tangis, iri kepada yang telah kembali kepada tangisannya. Yang kembali menangis lagi dalam rahim ar-rahiim.

Seperti para sahabat yang merinduimu, maka kubentangkan jalan menujumu yang selalu membuatku rindu untuk menangis. Datanglah, datanglah wahai inti kehidupanku. Dalam garang, dalam warna-warna, dalam suara membahana. Obatilah rindu ini. Sejenak saja.

(Surakarta, 17 Februari 2012)

Baca Selengkapnya... → Tangis Rindu dalam Rahim Ibu

Semalam Aku Pergi ke Sorga

Oleh: Fariha Ilyas


Inilah cerita, yang katanya tabu

Inilah cerita yang tak seorangpun tahu, termasuk aku

Yang belum mati, yang masih takut mati


Semalam aku pergi ke sorga

Dengan angan-anganku sendiri

Kugendong sekantong cinta

Yang di sana tak berarti


Semalam aku pergi ke sorga

Melewati dingin, dihantar ingin

Kutemui kau di sana

Menyajikan kehangatan yang tak mungkin


Di sorga ada kau, ada mereka semua

Lalu datang aku, turut serta

Kita bicara, lagi-lagi tentang cinta

Yang di sorga tak berguna


Tak ada lagi cinta dan cita-cita, harusnya

Tapi apa nikmatnya mendapat tanpa pinta?

Lalu kita ubah sorga itu

Dengan beberapa cuil nafsu


Entah, tak pernah kita dapat yang kita minta, semalam

Namun kita tak protes, kita hanya diam

Mungkin semalam aku memang berada di sorga

Merasakan semua hal jadi tak berguna


Karena di sorga, kita tak butuh apa-apa



(Surakarta, 17 Februari 2012)

Baca Selengkapnya... → Semalam Aku Pergi ke Sorga

Hidangan & Filsafat

Oleh: Fariha Ilyas



Daging panggang medium, bukan hanya makanan semata. Ia adalah sebuah filsafat. Duduk di meja makan kehidupan, dengan menu moral di hadapan anda. Mata anda menjelajahi hidangan utama, penyelera, dan hidangan dengan pelbagai cara meski anda tahu bahwa daging panggang medium adalah pilihan yang aman, waras, dan pasti. Edna Feber (1887-1968)

Di hadapanku ada beragam hidangan yang seharusnya menggugah selera makanku. Jika tadi aku tak berjumpa dengan seorang gelandangan yang sedang mengais-ngais sampah di dekat sebuah warung makan. Seharusnya tak ada lagi yang kupikirkan saat ini, di hadapan hidangan kegemaranku yang biasanya kusantap tak bersisa.

Namun sekarang tak ada yang tersaji selain nilai-nilai yang mengganggu pikiran, menghilangkan selera makanku. Aku teringat sebuah do’a yang sedari kecil diajarkan untuk selalu dibaca sebelum makan:

Ya Tuhan, berkahilah kami dalam segala rizki yang kau berikan kepada kami, dan cegahlah kami dari api neraka.

Mengucap kata kami dalam do’a itu membuatku tercekat, kerongkonganku seperti tersumbat, sehingga nafasku macet di sana. Betapa rumitnya semua ini.

Mengucap kata “kami” adalah ujian, bukan soal teks, tapi makna, dan bukan hanya makna yang mengambang, tapi sebuah kenyataan terbentang. Kami adalah ilusi, sementara ini. Karena kami telah mengkerut menjadi aku. Dan rizkimu bagi yang di luar aku kadang-kadang kusita dalam serakahku sendiri.

Aku seringkali berpikir bahwa kau adalah yang memelihara mereka. Tak perlu kupikirkan dalam-dalam masalah ini. Namun menuntutmu bekerja, memelihara mereka seperti layaknya merpati yang langsung menyuapi bayi-bayinya adalah ilusi yang keterlaluan.

Kenapa ada orang miskin? sering hatiku bertanya. Ada yang miskin karena ada yang serakah, begitu kata para tetua.

Keserakahan membuat kita jatuh kepada pelayanan kepada diri sendiri yang melenakan, yang sungguh jahat namun tak terasa.

Kuiris sebongkah daging di hadapanku, tanganku gemetar. Kumasukkan sepotong kecil ke dalam mulut, kukunyah. Rasanya jijik tak terperi, seperti mengunyah tubuh manusia, dan mengunyah sebuah kehidupan yang tak berarti, selain sekedar pengenyang.

Inilah filsafat, batinku. Ialah sumber segala keresahan, yang tak enak, yang menunda, yang meragukan pikir. Tapi di sana ada kemanusiaanku, yang penuh lobang keterbatasan, penuh ruang berisi kebodohan. Di sana terbentang jalan, untuk selalu memahami dan mencari arti.

(Surakarta, 16 Februari 2012)

Baca Selengkapnya... → Hidangan & Filsafat

Setahun: Untuk Ibu, dariku

Oleh: Fariha Ilyas


Setahun.

Kau berada dalam keadaan yang tak kumengerti. Setelah isak tangis dulu, yang kulihat dalam hidupku hanyalah celah, yang ada karena ketiadaanmu. Sekarang isak tangis itu tak ada lagi, yang ada hanyalah sebuah kerinduan yang sangat. Rindu itu seringkali datang menghampiri saat aku hendak tidur di tengah malam.

Seringkali aku mendengar suaramu, memanggilku, menyuruhku mandi saat hari sudah mulai gelap sedang aku masih bermain di gundukan pasir di halaman rumah. Sesekali aku seperti merasakan sentuhan kulitmu, seperti dulu saat aku jatuh sakit dan selalu kau rawat dengan penuh kasih.

Dulu, jauh sebelum kau meninggalkan kefanaan aku seringkali berdiam diri di pemakaman, siang, sore, malam. Aku senang berada dalam kesepian pemakaman. Aku sadar bahwa seluruh kehidupan jasmaniah kita, tubuh kita, akan berakhir di pemakaman ini. Kita dan semua penduduk kampung hanya menunggu saatnya tiba bagi diri masing-masing.

Sekarang aku jarang pergi ke pemakaman, walau ayah hampir setiap kali ke sana, aku tak pernah ikut serta. Memandang pusaramu adalah sesuatu yang terlampau berat untuk kutanggung, karena setelahnya pikiranku akan terserang rindu yang besar, dan aku menjadi sakit. Sering-sering tangisku yang tertahan membuat dadaku sesak, panas, dan nafaskupun rasanya mampat. Tak akan kutemui lagi kau dalam dunia fana ini, begitu batinku berkata.

Hanya cintalah barangkali yang masih membuat aku masih memilikimu dalam pikir dan benakku. Cinta itu menembus jauh, tak hanya hati dan pikiran manusia yang mampu dimasukinya. Cinta bahkan mudah saja menjelajah batas-batas dunia untuk menghampiri siapa saja yang berhak atasnya. Kau adalah seseorang yang selalu dituju oleh cintaku, cinta anak-anakmu.

Ibu, sebagaimana kau, aku pun sekarang menjalani sebuah kehidupan yang semestinya teralami, seperti masa remaja selayaknya, aku sering sekali dihinggapi kebimbangan, kegamangan, untuk bersikap dewasa, untuk bertanggung jawab atas segala tindakanku sendiri. Kau tak perlu khawatir, Ibu. Semuanya akan kulewati semampuku. Kau telah mengajarkanku apa itu cinta yang sesungguhnya, maaf jika aku baru mengerti setelah kau tak ada lagi bersama-sama kami di sini.

Belum lama, kami, anak-anakmu, telah memiliki ibu lagi, yang akan mendampingi kami meneruskan jalannya hidup yang tak seorangpun tahu bagaimana akhirnya nanti. Kami bahagia di sini, kami selalu berusaha dan berdo’a demi kebaikan keluarga kita sepeninggalmu. Barangkali, dan memang, tugasmu mendampingi kami, tugas hidupmu di dunia fana ini telah selesai, telah kau rampungkan semuanya dengan sangat baik dan bijaksana. Tak ada lagi yang mesti kau lakukan, dunia ini memang bukan tempatmu lagi. Aku yakin kau menyaksikan semuanya dengan kasih, karena kau ada di sisi yang maha kasih, maha agung, maha mengayomi.

Ibu, dalam gelap malam, dalam sendiri dan dalam penziarahan batinku, aku selalu berharap menemuimu, entah dengan cara apa. Bisikkanlah kepadaku tentang hidup, tentang kebijaksanaan, dan tentang kematian yang sering-sering masih membuat banyak orang takut menghadapinya. Kabarkanklah kepadaku tentang duniamu sekarang, apakah seperti yang sering terbayang dalam benakku atau tidak. Aku mendamba sebuah berita, yang terucap langsung dari mulutmu, Ibu.

Jika tak mungkin kudengar bisikmu......

Aku hanya ingin kita bertemu kembali nanti, bersama-sama, dalam sebuah perbincangan hangat, yang kekal, yang tak usai.

Entah kapan dan di mana itu semua akan berlangsung.

Aku tak tahu, Ibu.


(Madiun, Surakarta, 13-16 Februari 2012)

Baca Selengkapnya... → Setahun: Untuk Ibu, dariku